Bluetooth Bukan Penyebab Risiko Pendengaran, Edi Tegaskan
Gambar atau konten salah?
Di Medan, penggunaan earphone tanpa kabel, atau True Wireless Stereo (TWS), sudah menjadi pilihan banyak orang karena dianggap lebih praktis. Namun, beberapa bulan terakhir, tren berubah. Banyak pengguna kembali memilih earphone kabel, karena mereka percaya bahwa risiko kesehatan lebih kecil dibandingkan dengan Bluetooth.
Di media sosial, muncul narasi yang mengajak orang untuk memakai earphone kabel. Narasi ini menekankan bahwa Bluetooth memancarkan radiasi yang lebih berbahaya. Banyak orang menganggap bahwa earphone Bluetooth lebih berisiko bagi kesehatan.
Dr. Muhammad Edi Syahputra, spesialis THT, menanggapi klaim tersebut. Ia mengatakan bahwa secara medis, pernyataan ini tidak sepenuhnya benar.
“Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa earphone Bluetooth lebih berbahaya dibandingkan dengan yang menggunakan kabel. Namun, secara medis hal ini tidak sepenuhnya benar,” ujarnya.
Dr. Edi menegaskan bahwa belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Bluetooth lebih berbahaya dibandingkan earphone kabel. Menurutnya, risiko utama tidak terletak pada jenis earphone, melainkan pada volume suara dan durasi penggunaan.
“Belum ada bukti kuat yang menyatakan bahwa earphone Bluetooth lebih berbahaya dibandingkan earphone kabel. Risiko utama bukan pada jenisnya, tetapi pada volume suara dan lamanya penggunaan. Baik earphone kabel maupun Bluetooth tetap berpotensi menimbulkan gangguan jika digunakan dengan cara yang tidak aman,” lanjutnya.
Penggunaan earphone dalam jangka panjang, terutama dengan volume tinggi dan durasi lama, dapat mempengaruhi kesehatan telinga. Paparan suara berintensitas tinggi dapat merusak sel rambut halus di dalam koklea—yang disebut rumah siput—yang penting dalam proses pendengaran.
“Penggunaan earphone dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan telinga, terutama jika digunakan dengan volume tinggi dan durasi lama. Paparan suara dengan intensitas tinggi secara terus-menerus dapat merusak sel rambut halus di dalam koklea (rumah siput), yang berperan penting dalam proses pendengaran,” jelasnya.
Kerusakan pada sel rambut di koklea bisa bersifat permanen. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pendengaran bertahap. Selain itu, penggunaan earphone yang terlalu lama juga dapat memicu keluhan lain seperti telinga berdenging, atau tinnitus, rasa penuh di telinga, hingga infeksi akibat kebersihan yang kurang terjaga.
“Kerusakan ini bisa bersifat permanen dan dapat menyebabkan gangguan pendengaran bertahap. Selain itu, penggunaan earphone yang terlalu lama juga dapat memicu keluhan lain seperti telinga berdenging (tinnitus), rasa penuh di telinga, hingga infeksi akibat kebersihan yang kurang terjaga,” tutupnya.
Pada 14 April 2026, dr. Edi menekankan pentingnya menjaga volume dan durasi penggunaan earphone.
Kesimpulannya, Bluetooth tidak lebih berbahaya daripada earphone kabel. Yang penting adalah cara penggunaan. Volume tinggi dan durasi lama, baik pada Bluetooth maupun kabel, tetap dapat menimbulkan gangguan pendengaran. Pengguna disarankan untuk mengontrol volume dan memperhatikan kebersihan earphone agar tetap aman.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
