Pelatihan Manajer Kopdes Diubah, Soft Skill Ditambah 15 Hari
Gambar atau konten salah?
Pemerintah mengubah format pelatihan untuk calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdeskel Merah Putih). Perubahan ini terjadi setelah Menteri Koperasi Ferry Juliantono berdiskusi dengan Kementerian Pertahanan.
Ferry mengatakan hasil koordinasi itu menghasilkan beberapa penyesuaian. Salah satunya adalah penambahan waktu pelatihan. Waktu tambahan ini akan dipakai untuk memperkuat kemampuan nonteknis atau soft skill para calon manajer.
"Kemarin sudah dievaluasi, alhamdulillah dari pihak Kementerian Pertahanan juga sudah mau mengevaluasi. Bahkan formatnya juga sudah berubah, kami di Kementerian Koperasi mendapatkan tambahan hari. Tambahan hari yang diberikan kepada kami akan kita berikan bagaimana (cara) interaksi sosial, soft skill, segala macam yang akan melengkapi pengetahuan mereka," ujar Ferry pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Pelatihan ini total berlangsung selama 45 hari. Dari jumlah itu, 15 hari khusus dialokasikan untuk materi manajemen, keuangan, koperasi, dan hal lain yang terkait dengan pengelolaan usaha.
Menurut Ferry, keberhasilan Kopdeskel Merah Putih tidak hanya soal bangunan atau barang dagangan. Kualitas sumber daya manusia yang memimpin koperasi jauh lebih penting.
"Sekarang yang terpenting bukan bangunan fisik (koperasinya) yang keren, bukan hanya ditentukan oleh kelengkapan barang dagangannya, tapi kemampuan manajer-manajer Koperasi Desa itu sangat menentukan keberhasilan operasional dari Kopdeskel Merah Putih," tambahnya.
Ferry menjelaskan para manajer harus bisa menyusun dan menjalankan feasibility study untuk berbagai bidang usaha koperasi. Mulai dari ritel, layanan keuangan mikro, gerai obat dan klinik, hingga pergudangan dan logistik.
"Teman-teman semuanya harus bisa selain bagaimana mengembangkan usaha dari Kopdeskel Merah Putih, karena model bisnis dan feasibility study yang nanti akan dijadikan pedoman para manajer itu harus juga bagaimana (diterapkan) feasibility study untuk kegiatan ritelnya, untuk keuangan mikronya, untuk gerai obat dan kliniknya, gudang dan logistiknya," bebernya.
Ia menambahkan bahwa semua itu harus dirancang sendiri oleh manajer koperasi desa. Posisi manajer Kopdes, kata Ferry, setara dengan CEO. Indikator kinerja utamanya adalah keuntungan. Tapi Ferry juga mengakui bahwa bisnis butuh waktu dan proses trial and error.
"Itu 'kan harus dikemas, diramu oleh seorang manajer Koperasi Desa. Jadi, manajer Kopdes ini dia pemimpin, dia CEO-nya. Dan KPI Kopdes ini harus untung, harus profit, tapi juga namanya bisnis, di manapun perlu waktu, trial and error," pungkas Ferry.
Pelatihan bergaya militer ini sebelumnya menuai perhatian karena pendekatannya yang berbeda dari pelatihan koperasi biasa. Dengan perubahan format dan tambahan waktu untuk soft skill, pemerintah berharap para manajer lebih siap menjalankan peran sebagai pemimpin usaha desa. Kuncinya ada pada kemampuan mereka menyusun rencana bisnis yang matang, bukan sekadar mengelola toko atau gudang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Atasi Perut Buncit, Atur Komposisi Piring Makan
Prabowo Sebut Penolakan B50 Karena Ada yang Mau Impor Solar
Bahlil: Kulit Hitam Jadi Modal Lobi Minyak ke Afrika
Bahlil Resmi Lantik Pengurus Golkar Aceh
Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus, Rudi Margoni Jadi Plt
O'Reilly: Norwegia Kuat, Jangan Fokus Satu Pemain
Berita Terbaru
Pelatihan Manajer Kopdes Diubah, Soft Skill Ditambah 15 Hari
Iran Akui Salah Tembak Kapal di Selat Hormuz, Minta Dialog dengan AS
Khofifah Dorong Mubaligah NU Beralih ke Dakwah Digital
Lampung Fast Swim 2026: 2.700 Atet Berebut Bakat Baru
Courtois: Spanyol Favorit Juara Dunia 2026
Gubernur Koster 'Catat' Bupati Tak Hadir PKB
Panduan Membuat Twibbon MPLS Ramah 2026
Norwegia Vs Inggris di Perempat Final Piala Dunia
