Ejek Messi Gagal Penalti, Pria Bangladesh Tewas Dikeroyok
Gambar atau konten salah?
Seorang pria di Bangladesh meninggal dunia setelah diduga dikeroyok. Penyebabnya? Ia mengejek kegagalan Lionel Messi saat mengeksekusi penalti di pertandingan Piala Dunia 2026. Peristiwa yang bermula dari saling ejek saat menonton pertandingan berakhir tragis.
Korban bernama Mohammed Shariful Islam, berusia 35 tahun. Keributan terjadi saat ia menonton laga Argentina melawan Mesir di sebuah warung teh di Cumilla, Bangladesh. Pertandingan itu berlangsung pada 07 Juli 2025.
Dalam pertandingan tersebut, Mesir unggul lebih dulu. Yasser Ibrahim mencetak gol lewat sundulan pada menit ke-15. Enam menit berselang, Argentina mendapat hadiah penalti. Namun, eksekusi Lionel Messi gagal. Kiper Mesir, Mostafa Shobeir, berhasil menggagalkan tendangan sang bintang Argentina.
Shankar Kumar Das, penanggung jawab Pos Polisi Nazira Bazar, mengatakan perselisihan bermula setelah Messi gagal mencetak gol dari titik putih. Seorang saksi mata mengungkapkan Shariful sempat mengejek pendukung Argentina usai kegagalan tersebut.
"Bapakmu enggak bisa cetak gol (your father could not score a goal)," kata saksi itu menirukan ucapan Shariful.
Perdebatan kemudian memanas. Berubah menjadi perkelahian. Menurut Shankar Kumar Das, dua warga setempat yang diidentifikasi sebagai Babu dan Main Uddin Malu diduga memukul kepala Shariful.
Korban sempat dilarikan warga ke Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Cumilla. Namun, nyawanya tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia.
Shariful sehari-hari bekerja sebagai pengemudi becak motor. Ia mendukung Mesir dalam pertandingan tersebut, demikian laporan media Prothom Alo.
Kepergian Shariful meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya. Sang istri, Beauty Banu, mempertanyakan tindakan kekerasan yang terjadi hanya karena perdebatan soal sepak bola.
"Bagaimana mungkin orang membunuh seseorang hanya karena pertandingan sepak bola? Saya punya dua anak perempuan. Siapa yang akan mereka panggil ayah sekarang? Kedua anak perempuan saya telah menjadi yatim," kata sang istri.
Ia juga berharap para pelaku mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya.
"Saya menginginkan hukuman terberat bagi mereka yang membunuh suami saya. Saya adalah wanita miskin dan tak berdaya. Bagaimana saya akan membesarkan kedua anak perempuan saya sekarang? Seluruh keluarga saya telah hancur," ujarnya.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana perdebatan sepak bola bisa berujung pada kekerasan fatal. Sebuah pertandingan, yang seharusnya menjadi hiburan, malah merenggut nyawa seorang suami dan ayah dari dua anak perempuan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
