BMKG: El Nino “Godzilla” Menimbulkan Kemarau Panjang Indonesia
Gambar atau konten salah?
BMKG mengungkapkan prediksi tentang fenomena El Nino yang disebut “El Nino ‘Godzilla’.” Deputi Bidang Klimatologi, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa istilah tersebut “tidak ada dalam khasanah klimatologi yang resmi di dunia dan cenderung hiperbolis. Kategori El Nino hanya El Nino lemah, moderat, dan kuat. Saat ini prediksi resmi BMKG adalah peluang 50‑60 persen El Nino lemah hingga moderat setelah semester 2.”
El Nino sendiri merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Dampaknya terlihat pada musim kemarau di Indonesia, yang menjadi lebih panjang dan kering. BMKG sebelumnya telah memantau indeks ENSO, yang menentukan kondisi La Nina dan El Nino. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi tetap hingga Juni 2026. Ia menambahkan bahwa mulai pertengahan tahun, peluang munculnya El Nino kategori lemah‑moderat sebesar 50‑60 persen mulai semester 2 perlu menjadi perhatian.
Di sisi lain, BRIN memprediksi potensi terjadinya “Godzilla” El Nino di Indonesia bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada beberapa bulan mendatang. Kombinasi ini dapat memperpanjang musim kemarau dan memperkecil curah hujan. “Godzilla El Niño + IOD Positif, kedengarannya keren, tapi dampaknya nggak main‑main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia. Awan pun lebih banyak ‘nongkrong’ di Pasifik sedangkan kita kebagian panasnya aja,” tulis BRIN di Instagramnya, Jumat, 20 Maret 2024.
Istilah “Godzilla” pertama kali diucapkan oleh ahli klimatologi NASA, Bill Patzert, pada tahun 2015. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai “Ini jelas berpotensi menjadi ‘Godzilla El Nino,’” menjelaskan bahwa suhu sangat tinggi di bagian timur Samudra Pasifik dapat memicu serangkaian bencana alam di berbagai penjuru dunia. Menurut kutipan dari ABC, “‘Godzilla’ El Niño bukanlah istilah teknis atau ilmiah, tetapi merupakan cara untuk menggambarkan fenomena El Niño saat itu, karena fenomena tersebut kemungkinan besar akan menjadi salah satu yang terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950. Musim kemarau panjang.”
BMKG juga memproyeksikan sifat musim kemarau pada tahun 2026. Secara umum, musim kemarau akan bersifat Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5 persen) dan Normal di 245 ZOM (35,1 persen). Sebaliknya, hanya terdapat 3 ZOM (0,4 persen) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah. Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya.
Prediksi ini menegaskan bahwa kombinasi El Nino kuat dan IOD positif dapat memperburuk kondisi cuaca di Indonesia. Kegiatan pertanian, perikanan, dan sektor lainnya yang bergantung pada curah hujan akan terdampak. Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan dapat mempersiapkan langkah mitigasi, seperti pengelolaan air, penyuluhan kepada petani, dan perencanaan penggunaan lahan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Secara keseluruhan, data yang disajikan menunjukkan bahwa Indonesia berada pada posisi rawan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan kering, baik pada tahun 2024 maupun 2026. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari semua pihak untuk mengurangi dampak negatif pada mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ibu 37 Tahun Di Stratford Menangani Kanker Ovarium LGSOC
Tes Ketajaman Mata: Temukan Angka Tersembunyi di 7 Gambar
Kalbe In The Park: Hydro Coco & Fitbar Menarik ARMY
Gagal Ginjal Muda: Penyebab Gaya Hidup Tidak Sehat
Jaksa Tuntut Dr Ratna Setia Asih, IDAI Menolak Penuntutannya
Kebiasaan Minum Kopi yang Harus Dihindari: 5 Tips Sehat
Berita Terbaru
Purbaya: Kemenkeu Hapus Silo, Fokus Kerja Sama Lebih Cepat
Jembatan III Palu Retak Pasca Gempa M 6,7 16 Juni 2026
Spanyol Gagal Gol di Piala Dunia 2026, 0‑0 vs Trinidad
Bogor Rayakan 1 Muharram Bersama DPRD dan Pangdam di Agung
Persiapan Kirab Pusaka 1 Suro 2026: Kebo Bule Tidak Siap
Video Tunjukkan Harga Pertalite Lebih Tinggi dari Pertamax
Palembang 540 Kasus DBD, Seberang Ulu Paling Tertinggi
Warga Asing Belgia Tewas di Bambu Green Villas, Bali
