BMKG Peringat El Nino: Curah Hujan Menurun, Risiko Kekeringan

Hari W. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BMKG Peringat El Nino: Curah Hujan Menurun, Risiko Kekeringan

Gambar atau konten salah?

BMKG baru saja mengingatkan masyarakat Indonesia untuk tetap waspada terhadap dampak El Nino. Fenomena ini sering menjadi perhatian karena dapat memengaruhi curah hujan, suhu udara, serta sektor pertanian dan pasokan air bersih.

Menurut laman resmi BMKG, El Nino adalah pemanasan suhu muka laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Pemanasan ini meningkatkan potensi awan di wilayah tersebut dan menurunkan curah hujan di sekitarnya, termasuk di Indonesia.

Secara sederhana, ketika El Nino terjadi, pembentukan awan hujan cenderung bergeser ke Pasifik tengah dan timur. Akibatnya, wilayah Indonesia yang biasanya menerima uap air melimpah mengalami penurunan curah hujan.

Berikut dampak El Nino bagi Indonesia:

  1. Kemarau lebih kering – Curah hujan berkurang, sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dibandingkan tahun-tahun normal.
  2. Risiko kekeringan meningkat – Hujan yang berkurang dalam jangka panjang menurunkan debit sungai, waduk, dan sumber air lainnya. Beberapa daerah mungkin kesulitan memperoleh air bersih.
  3. Gangguan pada sektor pertanian – Ketersediaan air berkurang memengaruhi produktivitas tanaman, seperti padi, yang berisiko menurunkan hasil panen bila tidak mendapat pasokan air yang cukup.
  4. Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) – Cuaca lebih panas dan kering meningkatkan risiko kebakaran. Asap yang dihasilkan dapat memengaruhi kesehatan masyarakat dan transportasi.
  5. Suhu udara lebih panas – Di beberapa wilayah, El Nino dapat membuat suhu terasa lebih tinggi, meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat panas.

Menurut siaran pers BMKG yang dirilis pada Rabu (10 Juni 2026), Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan puncak kemarau pada bulan Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 % luas daratan Indonesia. Wilayah ini meliputi sebagian Sumatera, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian Tengah, dan Papua bagian timur.

Puncak kemarau pada Agustus meliputi 369 ZOM (48,84 % luas daratan) dan mencakup Sumatera bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.

Di bulan September 2026, 169 ZOM (25,41 % luas daratan) memasuki puncak kemarau. Wilayah ini meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.

Dengan informasi ini, masyarakat diharapkan dapat lebih memperhatikan kesehatan, menghemat penggunaan air, dan menjaga lingkungan sekitar. Dampak El Nino memang nyata, namun dengan persiapan yang tepat, risiko dapat diminimalkan.

El NinoCurah HujanKemarauKebakaran HutanKekeringanPertanianKesehatan

Komentar

Memuat komentar...