BPOM Atur 5 Langkah Menurunkan Beban Farmasi Rupiah Turun

Putri N. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BPOM Atur 5 Langkah Menurunkan Beban Farmasi Rupiah Turun

Gambar atau konten salah?

BPOM menanggapi dampak melemahnya rupiah terhadap industri farmasi dengan menyiapkan lima langkah konkret. Langkah-langkah ini bertujuan menurunkan biaya produksi dan menjaga ketersediaan obat bagi masyarakat.

Ketika nilai tukar rupiah menurun, impor bahan baku obat menjadi lebih mahal. Taruna Ikrar, kepala BPOM, menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat mengendalikan harga bahan baku, namun dapat mempermudah proses perizinan bagi perusahaan yang ingin beralih ke pemasok lain. Ia mengatakan, “Misalnya perusahaan sebelumnya mengimpor bahan baku dari Belanda, lalu ingin beralih ke India. Biasanya diperlukan uji stabilitas, uji standar, dan berbagai persyaratan lainnya yang cukup besar.” (Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026). Dengan membuka ruang relaksasi, BPOM tetap menjaga standar keamanan dan mutu produk.

Strategi kedua adalah relaksasi persyaratan uji bahan baku tertentu. Taruna menjelaskan bahwa lembaga dapat mengurangi proses pengujian jika negara asal bahan baku sudah memiliki dokumen standar mutu yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia menambahkan, “Nah, ini BPOM bisa bantu. Perusahaan bisa melakukan perpindahan tanpa perlu melakukan berbagai uji tambahan, selama dokumen standardisasi dari negara asal sudah tersedia.” Langkah ini diharapkan menekan biaya produksi yang meningkat akibat fluktuasi nilai tukar.

Ketiga, fasilitas fleksibilitas penggantian kemasan obat juga disediakan. Karena biaya kemasan turut terpengaruh kenaikan harga impor, BPOM memberi keleluasaan bagi perusahaan untuk mengganti jenis kemasan menjadi lebih ekonomis. Contohnya, perusahaan dapat beralih dari kemasan plastik ke kertas, yang tetap memenuhi standar keamanan. Taruna menyatakan, “Kalau dia mau ganti kemasan, dari yang dulunya plastik menjadi hanya kertas, itu sudah mengurangi bebannya. Itu bagian dari diskresi Badan POM.”

Keempat, penekanan pada tidak langsung menaikkan harga obat menjadi fokus. Taruna menegaskan bahwa semua relaksasi bertujuan membantu industri mengurangi beban biaya, sehingga tidak terburu-buru menaikkan harga produk. Ia berkata, “Tujuannya apa? Jangan langsung menaikkan harga. Kami sudah membantu agar pasokan untuk masyarakat tetap terjaga.”

Langkah kelima menyoroti koordinasi dengan otoritas obat negara lain. BPOM berkomunikasi dengan lembaga pengawas obat di berbagai negara untuk mencari solusi bersama menghadapi gejolak harga bahan baku dan rantai pasok global. Langkah ini penting karena tekanan terhadap industri farmasi tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dipengaruhi situasi global, termasuk konflik geopolitik yang berdampak pada perdagangan internasional.

Secara keseluruhan, BPOM berusaha menyeimbangkan kebutuhan industri farmasi dengan kebutuhan masyarakat. Dengan mempermudah perubahan pemasok, merelaksasi uji, memberi fleksibilitas kemasan, menghindari kenaikan harga, dan berkoordinasi internasional, lembaga ini berupaya memastikan obat tetap terjangkau meski nilai tukar rupiah melemah.

Perubahan kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah untuk menstabilkan sektor kesehatan di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan industri farmasi dapat menyesuaikan diri tanpa harus menaikkan harga obat secara signifikan, menjaga ketersediaan dan aksesibilitas bagi masyarakat.

BPOMRupiahIndustri FarmasiBiaya ProduksiUji StandarKemasanKoordinasi Internasional

Komentar

Memuat komentar...