BRIN: Riset Kampus Sulit Sampai ke Industri

Hendra M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BRIN: Riset Kampus Sulit Sampai ke Industri

Gambar atau konten salah?

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menyatakan bahwa hasil riset dari perguruan tinggi masih sulit dimanfaatkan secara luas oleh industri dan masyarakat. Ia menyampaikan hal ini saat menghadiri acara di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada Sabtu, 04 Juli 2026.

Menurut Arif, kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha menjadi kunci utama. Tujuannya agar penelitian tidak berhenti hanya sebagai publikasi ilmiah. Penelitian harus bisa dihilirisasi menjadi produk dan teknologi yang berguna.

"Indonesia harus bertransformasi menuju innovation-driven economy, yaitu pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada riset, inovasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia," kata Arif. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Mereka harus mampu menghadirkan inovasi yang berdampak bagi industri dan masyarakat.

Arif menilai tantangan terbesar riset di Indonesia bukanlah jumlah penelitian yang dihasilkan. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengubah hasil penelitian menjadi produk, teknologi, atau model bisnis yang bisa dimanfaatkan masyarakat. "Sehingga itu diperlukan kolaborasi yang lebih kuat antara kampus, industri, pemerintah, dan dunia usaha," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Arif memperkenalkan beberapa skema pendanaan riset yang bisa digunakan perguruan tinggi. Skema tersebut meliputi RIIM, Program Riset Inovasi Strategis (PRIS), Matching Fund RIIM Startup, alih teknologi, dan program hilirisasi inovasi. Semua program ini dirancang untuk mendorong solusi atas masalah di bidang pangan, energi, kesehatan, industri, dan ketahanan sosial.

"Semua skema tersebut diarahkan agar riset menghasilkan solusi nyata bagi pangan, energi, kesehatan, industri, hingga ketahanan sosial," ujar Arif. BRIN terus mendorong perguruan tinggi memperluas kolaborasi melalui berbagai skema pendanaan. Tujuannya agar hasil penelitian memiliki dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas.

Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof. Mundakir, mengatakan penguatan ekosistem riset menjadi fokus pengembangan kampus. Dalam dua tahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah hibah penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pendanaan riset dari berbagai skema kompetitif nasional.

Jumlah proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang memperoleh pendanaan juga meningkat sepanjang periode 2025-2026. Hibah penelitian bertambah dari 56 menjadi 66 judul. Secara keseluruhan, Umsura memperoleh 248 judul hibah penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan PKM pada 2025. Sementara pada 2026, sesuai periode pendanaan yang sedang berjalan, kampus tersebut telah memperoleh 111 judul.

Di hadapan Kepala BRIN dan para dosen, Mundakir memaparkan sejumlah capaian Umsura di bidang riset dan pengabdian kepada masyarakat. Pada BIMA Award 2025, Umsura meraih Silver Winner untuk kategori penelitian dan Gold Winner pada kategori pengabdian kepada masyarakat. Umsura juga masuk dalam 10 besar perguruan tinggi penerima Grant RIIM BRIN periode 2022-2023.

"Sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset nasional diperlukan agar hasil-hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung pembangunan nasional," kata Prof. Mundakir.

Ia menambahkan, Umsura terus berpartisipasi dalam skema pendanaan BRIN RIIM Kompetisi. Setelah memperoleh pendanaan untuk 15 proposal pada 2023, kampus tersebut kembali mendapatkan pendanaan melalui dua proposal pada 2025 dan meningkat menjadi tiga proposal pada 2026.

"Kunjungan Kepala BRIN, saya harap menjadi momentum untuk memperkuat kemitraan strategis dalam pengembangan riset, inovasi, dan hilirisasi hasil penelitian, sehingga kontribusi perguruan tinggi terhadap penyelesaian berbagai persoalan bangsa semakin nyata," pungkasnya.

Secara keseluruhan, pesan utama dari pertemuan ini adalah bahwa riset perguruan tinggi perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi publikasi. Kolaborasi lintas sektor menjadi syarat mutlak agar inovasi bisa sampai ke industri dan masyarakat. Tanpa kerja sama yang erat, hasil penelitian berisiko hanya menjadi dokumen di perpustakaan.

riset perguruan tinggihilirisasi inovasikolaborasi kampus industriBRINpendanaan risetekonomi berbasis inovasipublikasi ilmiah

Komentar

Memuat komentar...