Balita Korban Kebakaran di Sukabumi Merintih Panggil Mama yang Tewas

Nita W. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Balita Korban Kebakaran di Sukabumi Merintih Panggil Mama yang Tewas

Gambar atau konten salah?

Di ruang perawatan darurat RSUD Palabuhanratu, suasana pilu tak terbendung. Muhammad Arya, balita berusia 3,5 tahun, terus merintih. Dari balik perban yang membalut tubuhnya, ia memanggil-manggil ibunya, Eni (33), yang tewas dalam kebakaran di Desa Cibodas.

Tangan kecil Arya menggenggam erat lengan pamannya, Kemal (41). Di sela isak tangis menahan sakit akibat luka bakar, bibir mungilnya tak henti berbisik, "Mama... Mama..."

Kemal tak kuasa menahan pilu. Ia mendekap keponakannya erat. Menurut Kemal, Arya sebenarnya sudah disapih. Tapi ikatan batin dengan sang ibu tetap kuat, tak terputus.

Mengingat kejadian malam itu, Kemal punya dugaan. Eni sempat menyelamatkan Arya ke ruang tengah sebelum api membesar. Di sanalah Kemal kemudian menemukan dan mengevakuasi balita itu.

"Anak ini sudah lepas susu. Saat kejadian, ibunya itu sudah berhasil mengamankan anak ini di ruang tengah. Setelah itu kemungkinan besar almarhumah berniat memadamkan api yang asalnya dari kompor dan mulai menjilat ke bensin eceran," kata Kemal di RSUD Palabuhanratu, Sabtu, 4 Juli 2026.

Sekitar 40 persen tubuh Arya terbakar. Lukanya membuatnya terus gelisah. Pemandangan memilukan terlihat saat Kemal menggendong Arya keluar ruang perawatan, berusaha menenangkannya.

Dengan kain jarik, Kemal menggendong Arya. Tangan kirinya terangkat tinggi, menjaga kantong infus dan selang agar cairan tetap mengalir. Di tangan lainnya, ia menggenggam kipas portable kecil berwarna merah muda. Kipas itu diarahkan perlahan ke wajah Arya yang tertutup perban.

"Mungkin panas ya, kalau efek obat habis dia sedikit resah, makanya saya bawa keluar biar ada angin," ujar Kemal sambil terus menenangkan keponakannya.

Kini Arya menghadapi jalan panjang. Pemulihan fisik dan batin di usia belia. Kemal mengatakan tragedi ini merenggut segalanya. Terlebih, ayah Arya sedang merantau di luar pulau.

"Selain kehilangan ibundanya, anak ini juga sekarang kehilangan rumahnya untuk bernaung. Semuanya sudah habis terbakar," lirih Kemal.

Kebakaran di Desa Cibodas tak hanya merenggut nyawa Eni. Rumah tempat tinggal keluarga itu pun ludes. Arya selamat, tapi harus kehilangan ibu dan tempat berlindung dalam satu malam yang sama. Ayahnya yang masih di perantauan belum bisa segera pulang. Keluarga kini hanya bisa berharap pada proses penyembuhan Arya, yang masih panjang dan penuh ketidakpastian.

kebakaranbalita luka bakarRSUD Palabuhanratukehilangan ibuevakuasipemulihantragedi

Komentar

Memuat komentar...