BUMA: Pendapatan 16% Turun, Arus Kas Bebas Positif

Wahyu T. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 60 dibaca
Bisik.id
BUMA: Pendapatan 16% Turun, Arus Kas Bebas Positif

Gambar atau konten salah?

PT BUMA Internasional Grup Tbk melaporkan pendapatan tahun fiskal 2025 turun 16% YoY menjadi US$1,48 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh volume yang lebih rendah, meskipun Average Selling Price kontraktor tambang tetap stabil, hanya turun 1% YoY. Porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi membantu menjaga stabilitas harga.

EBITDA mengalami penurunan menjadi US$175 juta dengan margin 14%. Penurunan ini dipengaruhi oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon yang lebih tinggi, dan kenaikan biaya bahan bakar. Jika biaya pesangon tidak dihitung, EBITDA akan tercatat US$207 juta dengan margin 17%. Grup mencatat rugi bersih sebesar US$128 juta, dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset pada operasional di Australia dan Amerika Serikat.

Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, menjelaskan bahwa beberapa faktor tersebut sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar US$41 juta dari investasi Grup di 29Metals, seiring pemulihan harga sahamnya sepanjang tahun. Keuntungan selisih kurs sebesar US$36 juta (berbalik dari kerugian US$19 juta pada FY24 menjadi keuntungan US$17 juta pada FY25) dan pembalikan pencadangan piutang di Australia setelah putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia, dengan penyelesaian keuangan yang diharapkan terealisasi di 2026, turut menstabilkan posisi keuangan.

Grup berhasil membukukan arus kas bebas (free cash flow) positif sebesar US$8 juta, dibandingkan negatif US$60 juta pada FY2024. Pada kuartal keempat 2025 saja, Grup mencatat arus kas bebas sebesar US$57 juta, menjadi pencapaian arus kas bebas kuartalan tertinggi sepanjang tahun. Belanja modal tetap terjaga secara disiplin sebesar US$179 juta, relatif stabil YoY, dengan alokasi yang seimbang antara kebutuhan pemeliharaan (maintenance) dan pertumbuhan (growth).

Kinerja operasional Grup meningkat secara progresif sepanjang tahun. Perbaikan struktural di BUMA Indonesia mendorong peningkatan kuartal-ke-kuartal yang konsisten. Overburden removal meningkat dari 76 MBCM pada kuartal pertama 2025 menjadi 79 MBCM pada kuartal keempat 2025. Peningkatan ini didukung oleh perbaikan terarah pada perencanaan, pelaksanaan shift yang lebih disiplin, pelaksanaan maintenance, serta penyelesaian hambatan operasional (bottlenecks). Dari 1 Januari 2025 hingga 1 Januari 2026, jam kerja alat meningkat 6%, waktu henti (downtime) berkurang 31%, jam non-produktif turun 17%, dan cycle time membaik 3%, menghasilkan biaya unit (unit cost) yang lebih rendah, turun dari US$2,22/BCM pada kuartal pertama 2025 menjadi US$1,83/BCM pada kuartal keempat 2025.

Di tingkat Grup, perbaikan-perbaikan ini menghasilkan kinerja keuangan yang semakin kuat secara progresif. EBITDA meningkat dari US$14 juta pada kuartal pertama 2025 menjadi US$48 juta pada kuartal keempat 2025, mencerminkan perbaikan bertahap (sequential improvement) yang kuat sepanjang tahun.

"Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan. Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat kami memasuki 2026," kata dia dalam siaran pers, ditulis Minggu (29 Maret 2026).

Selama FY2025, Grup menyelesaikan sejumlah inisiatif pendanaan untuk memperkuat likuiditas dan memperpanjang profil jatuh tempo utangnya. Pada Februari 2025, PT Bank Central Asia Tbk bergabung dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dalam fasilitas sindikasi sebesar US$1 miliar, yang memperluas basis pendanaan Grup. Pada Maret 2025, Grup menerbitkan Sukuk Ijarah sebesar Rp2 triliun (US$121,7 juta), yang merupakan Sukuk Ijarah Korporasi Syariah Berperingkat A+ terbesar dalam satu kali penerbitan di Indonesia. Diikuti penerbitan Obligasi III BUMA Tahun 2025 sebesar Rp884 miliar (US$53,8 juta) di Oktober 2025. Pada November 2025, Grup melunasi lebih awal Senior Notes sebelum jatuh tempo senilai US$212 juta, meningkatkan likuiditas dan fleksibilitas struktur permodalan. Secara keseluruhan, langkah‑langkah ini memosisikan Grup dengan profil jatuh tempo utang yang lebih seimbang.

Sebagai bagian dari strategi operasional, Grup berhasil mengamankan tiga kontrak signifikan yang mencakup operasional di Indonesia dan Australia. BUMA Australia memperoleh perpanjangan kontrak sekitar A$740 juta di Blackwater Mine hingga Juni 2030, serta perpanjangan kontrak di Goonyella Riverside Mine hingga September 2027. Setelah penutupan tahun buku, BUMA mengamankan kontrak jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia di Tambang Tutupan Selatan hingga Desember 2030, mencakup sekitar 239 MBCM overburden removal dan 44 juta ton produksi batu bara, memperpanjang kemitraan yang telah terjalin selama lebih dari 20 tahun.

Secara keseluruhan, PT BUMA Internasional Grup Tbk menunjukkan ketahanan dalam menghadapi penurunan pendapatan dan EBITDA. Dengan langkah-langkah disiplin operasional, pengendalian biaya, dan strategi pendanaan yang tepat, Grup berhasil memperbaiki arus kas bebas, menjaga likuiditas, dan memperkuat neraca keuangan. Keberhasilan ini menandai fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan dan peluang di tahun 2026 dan seterusnya.

PendapatanEBITDAArus kas bebasLikuiditasKontrak tambangSukuk IjarahBUMA Australia

Komentar

Memuat komentar...