Chattra Borobudur Berbentuk Perunggu, Jadi Warisan Hidup

Vera T. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 115 dibaca
Bisik.id
Chattra Borobudur Berbentuk Perunggu, Jadi Warisan Hidup

Gambar atau konten salah?

Fadli Zon, Menteri Kebudayaan, mengklarifikasi bahwa chattra yang akan dipasang di puncak Candi Borobudur bukanlah terbuat dari batu, melainkan perunggu. Ia menegaskan hal tersebut dalam pernyataan yang diambil pada 18 April 2026.

"(Bahan betul dari perunggu yang dipasang bukan batu) Bukan, bukan. Bukan dari batu. Adaptasi istilahnya itu," ujar Fadli. Ia menekankan bahwa material perunggu dipilih karena lebih ringan dan lebih mudah dipasang.

Ia melanjutkan, "Itu adaptasi jadi jauh lebih ringan. Itu semua dipakai di seluruh situs-situs ya, bahkan di tempat lahirnya Sang Buddha juga digunakan. Begitu juga di India, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Myanmar," menjelaskan bahwa bentuk dan fungsi chattra sudah dikenal di berbagai tempat ibadah Buddha di Asia.

Fadli berharap pemasangan chattra akan menarik lebih banyak pengunjung. Ia berkata, "Dengan begitu akan semakin banyak yang hadir baik wisatawan karena alasan sejarah. Karena alasan religi, ya mudah-mudahan semakin banyak juga nanti umat Buddha dari seluruh dunia yang datang ke sini (Candi Borobudur)," tambahnya.

Ia menambahkan, "Umat Buddha kalau tidak salah jumlahnya itu 500 sampai 600 juta di seluruh dunia. Kalau satu persen saja bisa 5-6 juta," menunjukkan potensi peningkatan kunjungan jika sebagian kecil umat Buddha memilih Borobudur sebagai tujuan.

Menjelaskan proses persiapan, Fadli mengatakan, "Ya mudah-mudahan ya masih dalam proses. Karena kan harus ada melalui namanya itu Impact asessmen. Kemudian, ada uji ada ini dan sebagainya, tapi semuanya kita lakukan secara prosedural, secara prudent," menekankan pentingnya evaluasi dan pengujian sebelum pemasangan.

Dalam rangka mempromosikan chattra, Fadli menyebutkan bahwa miniaturnya sudah dikirab pada acara kirab pusaka di Candi Borobudur. Ia menegaskan, "Ya ini juga bagian dari upaya kita mensosialisasikan ya. Karena ini juga bagian dari aspirasi ya komunitas yang cukup lama terutama dari masyarakat umat Buddha," menandakan adanya dukungan komunitas Buddha.

Fadli menambahkan, "Menurut saya itu sah-sah saja. Karena UNESCO sendiri kan sekarang tahun ini kalau tidak salah mendorong upaya situs-situs itu menjadi living heritage," mengutip inisiatif UNESCO untuk menjadikan situs bersejarah sebagai warisan hidup.

Ia menutup, "Termasuk kirab ini (pusaka pertama di Candi Borobudur) bagian dari menjadikan ini (candi) living heritage gitu ya," menegaskan bahwa acara kirab dan pemasangan chattra merupakan bagian dari upaya tersebut.

Menurut Museum Nasional Indonesia, chattra adalah mahkota berbentuk payung bersusun tiga yang diletakkan di puncak stupa utama. Ia berfungsi sebagai simbol perlindungan, kesucian spiritual, dan penghormatan dalam ajaran Buddha. Stupa sendiri terdiri dari alas membulat, kubah, dan harmika yang menopang chattra. Simbol ini melambangkan perlindungan bumi dari kekuatan jahat, persembahan surgawi, dan penanda anggota keluarga kerajaan.

Dengan rencana ini, Fadli berharap Borobudur tidak hanya menjadi monumen statis, melainkan menjadi living heritage yang terus menarik minat wisatawan dan umat Buddha di seluruh dunia.

Candi BorobudurChattra perungguFadli ZonUNESCO Living HeritageWisatawan BuddhaKomunitas BuddhaPertumbuhan kunjungan

Komentar

Memuat komentar...