Cimahi Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Gambar atau konten salah?
Pemerintah Kota Cimahi resmi menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan mulai 1 Juli hingga 30 September 2026. Langkah ini diambil karena musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang dari biasanya. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menyatakan keputusan ini sesuai arahan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. "Ya sudah, Pemerintah Kota Cimahi sudah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan di musim kemarau tahun ini, yang diprediksi datang lebih panjang," ujarnya saat dikonfirmasi pada Minggu, 5 Juli 2026.
Laporan awal menunjukkan potensi kekeringan sudah terdeteksi di Kelurahan Cibeureum. Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, kekeringan juga mengancam 312 RW yang tersebar di 15 kelurahan di Kota Cimahi. Fithriandy menambahkan bahwa meski sudah ada laporan, kekeringan yang terjadi saat ini masih tergolong ringan. "Sudah ada, namun kekeringan masih tergolong kategori ringan. Kita sudah menyiagakan personel sekaligus koordinasi penyaluran air bersih ke wilayah terdampak," katanya.
Menurut Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB), pada musim kemarau panjang dua tahun lalu, kekeringan terparah melanda Cimahi bagian selatan. Wilayah yang paling terdampak meliputi Kelurahan Melong, Utama, hingga Leuwigajah. Fithriandy menjelaskan pola dampak yang terjadi saat ini diperkirakan serupa. "Kekeringan terparah yang kita catat itu dua tahun lalu, dampak yang ditimbulkan sama. Kemudian paling parah ada di daerah selatan, memang karena warga mengandalkan air PDAM dan sebagian air tanah," ucapnya.
Krisis air bersih yang dihadapi warga Kota Cimahi tidak lepas dari menurunnya muka air tanah. Sumber air utama warga, yaitu sumur, diprediksi akan terganggu selama musim kemarau. Fithriandy menjelaskan, "Jadi kekeringannya itu disebabkan sumber air di sumur mengalami penurunan. Karena di sana mayoritas sumber airnya itu dari sumur ditambah kan berebut dengan industri air tanahnya juga."
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada air tanah dan sumur membuat warga di wilayah selatan Cimahi lebih rentan terhadap kekeringan. Persaingan penggunaan air tanah dengan sektor industri juga memperparah situasi. Pemerintah Kota Cimahi telah menyiagakan personel dan berkoordinasi untuk penyaluran air bersih ke daerah-daerah yang membutuhkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mahasiswi Telkom Hilang Sejak 30 Juni, Polisi dan Keluarga Beda Informasi
Bupati Turun Langsung ke Lokasi Kebakaran di Palabuhanratu
Sewa Ekskavator, Wanita Ini Robohkan Rumah Dinas Bea Cukai
Ikan Raksasa Mekong Kembali, Nelayan Kaget
Slank Ajak Tiga Band Lokal di Konser Bandung
Mahasiswi Tel-U Hilang, Keluarga Dibayangi Penipuan
Berita Terbaru
Mahasiswi Telkom Hilang Sejak 30 Juni, Polisi dan Keluarga Beda Informasi
Reuni Akbar Gontor Putri, 5.830 Alumni Hadir
Prancis Kalahkan Paraguay 1-0 di Tengah 29 Tekel Tanpa Kartu
MotoGP Jerman 2026: Jorge Martin Puncaki Klasemen
Bupati Turun Langsung ke Lokasi Kebakaran di Palabuhanratu
Langkah Keluar dari Hubungan Toksik Menurut Psikiater
Ojol Laut di Donggala: Rp5.000 PP, Penghubung Hidup Warga Pulau
Norwegia Yakin Kalahkan Brasil di 16 Besar
SAP Tunjuk Verena Siow Pimpin Asia Pasifik