Mahasiswi Telkom Hilang Sejak 30 Juni, Polisi dan Keluarga Beda Informasi

Bayu K. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Mahasiswi Telkom Hilang Sejak 30 Juni, Polisi dan Keluarga Beda Informasi

Gambar atau konten salah?

Nadira Az-Zahra (20), mahasiswi Telkom University, belum juga ditemukan setelah dilaporkan hilang sejak 30 Juni 2026. Proses pencarian terus berjalan, namun sempat muncul informasi yang saling bertentangan antara pihak kepolisian dan keluarga.

Mahasiswi Fakultas Ilmu Terapan, Program Studi Sistem Informasi Kota Cerdas angkatan 2025 ini terakhir terlihat meninggalkan rumahnya sekitar pukul 10.00 WIB dengan perlengkapan kuliah lengkap. Sejak saat itu, Nadira langsung menghilang tanpa kabar. Keluarga kehilangan kontak sepenuhnya sejak 1 Juli 2026. Ponselnya tidak aktif sejak Selasa siang, pukul 12.30 WIB — hanya dua setengah jam setelah berpamitan dari rumah.

Saat berangkat, Nadira mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana jeans hitam, dan kerudung krem. Ia membawa tas ransel krem berisi laptop, tablet, dan ponsel pribadi.

Polisi turun tangan setelah menerima laporan. Manajemen Telkom University juga ikut mencari. Orang tua Nadira mendatangi kampus pada 2 Juli 2026 untuk berkoordinasi dengan Direktorat Kemahasiswaan, Karier, dan Alumni.

"Telkom University telah berkoordinasi dan menjalin komunikasi dengan keluarga dan pihak terkait, guna mendukung proses pencarian dan memastikan penanganan dilakukan secara optimal sesuai kewenangan masing-masing," kata Roosdiana Noor Rochmah, Head of Secretary and Public Relations Telkom University.

"Penyebaran informasi pun tetap mengedepankan etika, menghormati privasi keluarga, serta tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya," tambah Diana.

Masyarakat yang memiliki informasi tentang keberadaan Nadira diminta menghubungi keluarga di nomor 0813-1313-6784 atau melapor ke pihak berwenang setempat.

Informasi berbeda muncul di tengah pencarian. Pada 3 Juli 2026, polisi mengonfirmasi Nadira sudah ditemukan di daerah Majalaya, Kabupaten Bandung. Kapolsek Rancasari Kompol Herman Junaidi saat itu menyatakan Nadira ada di rumah bibinya.

"Di daerah Majalaya. Menurut orang tuanya ada di rumah bibinya. Namun karena ada masalah (alasan Nadira pergi)," kata Herman.

Keluarga langsung membantah. Paman Nadira, Budhi Purnama, menyatakan mahasiswi itu belum ditemukan.

"Sampai saat ini Nadira belum ditemukan," kata Budhi pada 3 Juli 2026. Ia menyebut informasi soal Majalaya sebagai missed information.

Hingga empat hari setelah dilaporkan hilang, Nadira tak kunjung ditemukan. Budhi menegaskan pencarian masih berlangsung intensif.

"Informasi ini perlu kami sampaikan untuk meluruskan sejumlah pemberitaan yang berkembang melalui sejumlah media yang menyebutkan bahwa Nadira telah ditemukan di rumah bibinya di Majalaya, Kabupaten Bandung. Kami menduga terjadi miskomunikasi pada sejumlah pihak yang turut membantu pencarian Nadira sehingga informasinya menjadi keliru," kata Budhi dalam keterangan tertulis pada 4 Juli 2026.

Keluarga terus mencari bersama aparat kepolisian dan berbagai pihak. Harapan besar mereka adalah Nadira bisa segera ditemukan.

"Kami sangat menghargai setiap bantuan yang diberikan berbagai pihak, termasuk dalam hal penyebaran informasi yang akurat," ungkap Budhi.

Penipu mulai bermunculan. Hingga 5 Juli 2026 siang, keluarga, polisi, dan rekan kampus masih berupaya mencari. Budhi mengungkapkan banyak oknum mengaku mengetahui keberadaan Nadira, tetapi akhirnya meminta uang.

"Banyak informasi yang masuk, informasinya bersebaran. Sebagian besarnya malah upaya-upaya penipuan, hoax. Jadi banyak oknum yang memanfaatkan, yang mengaku melihat lalu ujung-ujungnya minta ditransfer untuk operasional. Dan itu banyak sekali itu yang masuk ke saya," ungkapnya.

Tantangan lain: seluruh akun media sosial Nadira sudah tidak bisa diakses. Informasi terakhir yang paling valid masih menempatkan Nadira di sekitar kawasan Telkom University pada 30 Juni.

Keluarga menegaskan berbagai laporan keberadaan Nadira di Majalaya, Ujungberung, Cimahi, hingga Soekarno-Hatta belum terbukti benar.

"Belum ada informasi yang A1 ya, saya masih tegaskan itu. Belum ada informasi yang terkonfirmasi benar. Kemarin (ada kabar) di Majalaya, ternyata itu kan misleading, mismiskomunikasi. Kita kejar ke sana ternyata memang ya blank aja gitu. Ada informasi lagi di Ujungberung, Cimahi, di Soekarno Hatta. Kita tetap melakukan pencarian tapi ya itu tadi ujung-ujungnya itu ya misleading dan misinformasi, ujung-ujungnya jadi hoaks," kata Budhi.

Budhi berharap masyarakat yang benar-benar menemukan Nadira segera membawanya ke tempat aman sebelum menghubungi keluarga. Masyarakat yang mengetahui keberadaan Nadira bisa menghubungi Budhi Purwana Yodhaswara di nomor 081214623428.

Kasus ini menunjukkan bagaimana informasi yang simpang siur justru mempersulit pencarian orang hilang. Di satu sisi, kepolisian mengklaim sudah menemukan lokasi, sementara keluarga membantah. Di sisi lain, celah ketidakjelasan ini dimanfaatkan penipu yang meminta uang dengan modus membantu pencarian. Padahal, dari awal, Nadira hanya disebut putus komunikasi setelah berangkat ke kampus — bukan karena terlibat masalah hukum atau menjadi korban kejahatan.

Nadira Az-ZahrahilangTelkom Universitypencarianinformasi simpang siurkeluargapolisi

Komentar

Memuat komentar...