Dalang Pencurian Louvre Kecewa, Hasil Rampasan Terlalu Sedikit

Rudi H. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Dalang Pencurian Louvre Kecewa, Hasil Rampasan Terlalu Sedikit

Gambar atau konten salah?

Penyelidikan kasus pencurian perhiasan bersejarah di Museum Louvre, Paris, memasuki babak baru. Dua pria yang ditangkap sebagai tersangka mengaku bahwa otak di balik aksi tersebut justru kecewa. Bukan karena pencurian gagal, melainkan karena hasil rampasan yang dibawa dinilai terlalu sedikit.

Pengakuan mengejutkan ini disampaikan kedua tersangka saat menjalani pemeriksaan oleh hakim penyidik Prancis pada bulan lalu. Peristiwa pencurian yang terjadi pada Oktober 2025 itu sempat mengguncang dunia dan menjadi salah satu insiden terbesar yang pernah menimpa museum paling populer di planet ini.

Dua tersangka yang diketahui bernama Abdoulaye N dan Ghelamallah A mengaku membobol Galeri Apollo. Mereka melakukannya atas perintah seorang klien yang identitasnya masih dirahasiakan. Keduanya mengaku tidak berani menyebut nama orang tersebut karena khawatir keselamatan keluarga mereka terancam.

Dalam aksinya, mereka membawa delapan koleksi perhiasan bersejarah. Mulai dari bros, kalung, hingga anting-anting. Namun saat melarikan diri, sebuah mahkota bertabur permata milik Permaisuri Eugenie, istri Napoleon III, terjatuh dari tas salah satu pelaku. Akibatnya, mahkota itu rusak.

"Ya, itu saya. Mahkota itu jatuh dari tas saya," kata Abdoulaye kepada penyidik.

Abdoulaye N mengatakan seluruh perhiasan yang berhasil dicuri kemudian diserahkan kepada orang yang diduga sebagai otak pencurian. Namun, sosok tersebut tidak puas dengan hasil yang didapat.

"Dia tidak senang. Dia berpikir kami seharusnya bisa mengambil lebih banyak," ujarnya.

Kedua tersangka mengaku baru direkrut dua hingga tiga hari sebelum pencurian terjadi. Sebelum beraksi, mereka diperlihatkan video bagian dalam Galeri Apollo. Video itu menunjukkan lokasi etalase tempat koleksi perhiasan era Napoleon disimpan.

"Misi kami jelas, memecahkan kaca dan mengambil perhiasan di dalam etalase," lanjut Abdoulaye.

Abdoulaye mengaku menerima tawaran itu karena sedang terlilit masalah keuangan. Ia dijanjikan bayaran sebesar 15 ribu hingga 25 ribu euro, atau setara dengan Rp 300 hingga 515 juta. Bahkan jumlah itu bisa lebih besar jika nilai hasil curian tinggi.

Sementara itu, Ghelamallah A mengaku awalnya tidak tahu bahwa target mereka adalah Museum Louvre. Ia mengira sasaran mereka hanyalah sebuah toko perhiasan biasa di Paris.

"Kalau saya tahu itu Louvre, saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di sana," ungkapnya.

Menurut pengakuan keduanya, mereka masuk ke museum melalui balkon lantai satu. Mereka menggunakan lift pengangkut furnitur sebelum memecahkan jendela Galeri Apollo dan membobol dua etalase.

"Saat masuk, tidak ada siapa pun, gelap, hanya lampu etalase yang menyala. Dari kejauhan saya melihat petugas keamanan bergerak di balik pintu," ujar Abdoulaye.

"Kami harus mengambil perhiasan sebanyak mungkin, kalau lebih dari tiga menit, kami harus pergi karena keberadaan kami akan diketahui. Menurut saya, kami sudah terlalu lama berada di dalam," tambahnya.

Hingga kini, kedua tersangka mengaku tidak mengetahui keberadaan perhiasan yang dicuri setelah diserahkan kepada dalang. Mereka juga tetap menolak mengungkap identitas orang tersebut maupun pihak lain yang diduga terlibat.

"Mereka bukan orang yang bisa dianggap remeh. Saya memang tidak diancam, tetapi saya menerima telepon dari luar saat ditahan, mereka meminta saya tetap diam," jelas Abdoulaye.

Laporan dari Le Monde menyebut penyidik masih belum memastikan apakah kedua tersangka benar-benar beraksi atas perintah pihak lain. Proses penyelidikan untuk mengungkap dalang pencurian dan melacak keberadaan perhiasan bersejarah yang hilang masih terus berlangsung.

Kasus ini menyisakan banyak pertanyaan. Dua pelaku yang mengaku tidak tahu menahu tentang nilai sebenarnya dari target mereka, dalang yang kecewa karena hasil rampasan dianggap kurang, dan perhiasan bersejarah yang kini hilang tanpa jejak. Semua fakta ini menunjukkan bahwa pencurian di Louvre bukan sekadar aksi kriminal biasa, melainkan sebuah operasi yang terencana namun berakhir dengan hasil yang tidak memuaskan bagi otaknya.

pencurian Louvreperhiasan bersejarahtersangka kecewadalang pencurianGaleri Apollomahkota Permaisuri Eugeniehasil rampasan sedikit

Komentar

Memuat komentar...