Danantara Siap Intervensi Jika Pasar Saham Tertekan

Wahyu T. · 3 min baca · 1 jam lalu · 27 dibaca
Bisik.id
Danantara Siap Intervensi Jika Pasar Saham Tertekan

Gambar atau konten salah?

BPI Danantara, badan investasi milik negara, menyatakan kesiapannya untuk turun campur tangan jika Bursa Efek Indonesia mengalami tekanan. Namun, pembelian saham, khususnya yang terkait kecerdasan buatan (AI), harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Pernyataan ini, seperti dikutip dari Reuters, berpotensi menjadi sentimen positif untuk meredam pelemahan pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebut-sebut bisa semakin terpuruk jika MSCI memangkas klasifikasi pasar modal Indonesia pada bulan depan.

Danantara sendiri telah menyiapkan dana hingga US$ 1 miliar, atau sekitar Rp 17,89 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.891), untuk investasi di pasar modal dalam negeri hingga akhir tahun 2026. Saat ini, Danantara telah mengalokasikan sekitar US$ 3 miliar, atau sekitar Rp 53,67 triliun, untuk investasi saham dan obligasi, baik asing maupun domestik.

"Jika terjadi krisis di pasar, dan kami merasa bahwa itu hanya berdasarkan sentimen eksternal yang bersifat sementara... maka kami mungkin akan turun tangan," ujar Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, seperti dikutip dari Reuters pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Rani menjelaskan, Danantara mulai mengalokasikan dana untuk investasi di pasar modal domestik sejak akhir tahun lalu. Investasi ini terus berlanjut, bahkan saat IHSG tertekan oleh aksi jual yang dipicu peringatan MSCI pada Januari lalu. Peringatan itu membuka kemungkinan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Danantara juga membuka peluang untuk kembali turun tangan jika MSCI benar-benar memangkas peringkat pasar modal Indonesia bulan depan. Namun, Rani menegaskan, pihaknya perlu melakukan uji tuntas terlebih dahulu sebelum mengambil langkah tersebut.

"Kami mungkin akan turun tangan. Mungkin saja... tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan," kata Rani.

"Kami membeli (awal tahun ini) karena kami melihat nilai. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar. Sangat bagus ketika orang tidak menyukai sesuatu dan kami melihat nilai di dalamnya, karena dengan begitu Anda mendapatkannya dengan harga yang bagus. Kemudian ketika mereka menyukainya, kami dapat menjualnya kepada mereka," sambungnya.

Rani memaparkan, Danantara memiliki mandat untuk mengelola aset negara yang mencapai sekitar US$ 900 miliar, tersebar di lebih dari 1.000 perusahaan. Danantara juga diberi wewenang untuk memanfaatkan dividen guna mengoptimalkan hasil investasi.

Portofolio dana yang dikelola terdiri dari 65% saham, 30% instrumen pendapatan tetap, dan 5% dana lindung nilai hedge fund. Sekitar seperempat dari total portofolio tersebut ditempatkan di Indonesia.

Perempuan yang direkrut dari Wall Street ini menilai, eksposur dana yang dikelolanya terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) sudah dilakukan secara bijaksana.

"Kami tidak berpikir (AI) adalah gelembung dan kami tidak berpikir itu akan meledak, tetapi kami hanya ingin berhati-hati memasuki bidang ini karena kami agak terlambat," katanya.

"Anda sudah mulai mendengar orang-orang membicarakan (gelembung) yang bagus, karena itu menjaga pasar tetap terkendali. Jika semua orang berpikir AI adalah investasi yang baik, maka kita punya masalah," tambahnya.

Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara, Pahala Mansury, menambahkan bahwa dana tersebut ditargetkan menghasilkan imbal hasil 200-300 basis poin di atas biaya modal. Sebagai acuan, biaya modal Danantara tercermin dari penerbitan obligasi dolar AS bertenor lima tahun pada Juni lalu dengan imbal hasil 5,35%.

Selain itu, dividen sebesar Rp 120 triliun yang sebelumnya disebut oleh Menteri Keuangan sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa, akan disetorkan Danantara kepada pemerintah tahun ini berpotensi ditahan. Pahala mengaku masih berdiskusi dengan Menteri Keuangan yang baru, Suahasil Nazara, terkait hal tersebut.

"Kami sedang berdiskusi dengan Menteri Keuangan (yang baru) Suahasil," katanya.

"Sejauh ini indikasi yang kami dapatkan adalah kami masih dapat mengelola dividen, tetapi tentu saja kami masih akan menunggu keputusan akhir," tambahnya.

Pahala menegaskan, Danantara tidak memiliki peran eksplisit dalam menstabilkan pasar.

"Kami percaya peran kami adalah untuk memastikan bahwa apa pun yang kami lakukan, investor asing tidak akan melihatnya sebagai semacam intervensi pasar, melainkan sebagai cara bagi kami untuk terus berkontribusi pada pendalaman keuangan (dan) tata kelola yang lebih baik," pungkasnya.

Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran akan dampak potensial dari penurunan peringkat oleh MSCI. Danantara, dengan dana yang besar, berusaha menyeimbangkan antara peluang investasi dan risiko stabilitas pasar, sambil tetap berhati-hati terhadap gelembung AI yang mungkin terjadi. Diskusi dengan Menteri Keuangan baru mengenai dividen juga menambah dinamika dalam pengelolaan aset negara ini.

investasipasar modalAIMSCIIHSGDanantarastabilitas pasar

Komentar

Memuat komentar...