Dari Pegawai Bank ke Timnas Cape Verde
Gambar atau konten salah?
Karier seorang pesepakbola profesional seringkali dimulai dari jalan yang tidak terduga. Roberto Lopes, bek Timnas Cape Verde, adalah contoh nyata. Sebelum namanya dikenal di lapangan hijau, ia menghabiskan waktunya di dunia perbankan.
Pada usia 24 tahun, Lopes menjalani dua peran sekaligus. Ia adalah bek tengah paruh waktu untuk klub lokal di Dublin. Di sisi lain, ia juga bekerja sebagai konsultan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di sebuah bank. Pekerjaan itu ia dapatkan setelah menyelesaikan kualifikasi yang diperlukan.
Pekerjaan di bank terbilang stabil dan menjanjikan. Tapi Lopes tidak menikmatinya. Ia merasa ada panggilan lain yang lebih kuat. Tiga tahun kemudian, keputusan besar diambil. Ia memilih untuk menekuni sepak bola secara penuh. Langkah itu membawanya ke Timnas Cape Verde, negara asal ayahnya.
Keputusan itu tidak datang begitu saja. Lopes menerima tawaran kontrak dua tahun dari Shamrock Rovers F.C. Ia harus meninggalkan pekerjaan tetapnya di bank. Ia juga harus meninggalkan klub masa kecilnya. Semua demi mengejar mimpi sebagai pesepakbola profesional.
Risikonya nyata. Saat itu, Shamrock Rovers belum bisa memberikan gaji yang setara dengan penghasilannya sebagai pegawai bank. Tapi Lopes punya cara pandang sendiri. "Saya hanya berpikir: 'Nanti saja khawatirkan apa yang akan terjadi selanjutnya; setidaknya saya akan bahagia selama beberapa tahun,'" katanya. Ia mengambil lompatan keyakinan itu pada tahun 2016.
Dan semuanya berubah. "Dan kemudian semuanya berjalan lancar. Ini seperti mimpi," lanjutnya. Kini, ia bermain di level internasional.
Profil LinkedIn milik Lopes mencatat perjalanan itu. Ia bekerja di EBS Ltd dari 2015 hingga 2016. Di periode yang sama, ia masih aktif bermain untuk FC Bohemians. Setelah itu, ia bergabung dengan Shamrock Rovers dan fokus penuh pada sepak bola.
Menariknya, LinkedIn juga menjadi jembatan menuju Timnas Cape Verde. Mantan pelatih tim tersebut, Rui Águas, menghubunginya lewat platform itu. Tapi pesan pertama diabaikan. Lopes mengira itu spam.
"Saya sudah menjadi anggota LinkedIn sejak kuliah dan suatu hari saya sedang memperbarui profil saya dan saya ingat terhubung dengan Rui Águas setelah namanya muncul. Kemudian beberapa saat kemudian saya menerima pesan darinya. Pesan itu dalam bahasa Portugis dan saya pikir itu spam jadi saya abaikan saja. Itu terjadi pada Oktober 2018. Kemudian pada September tahun ini saya mendapat pesan lain yang mengatakan: 'Apakah kamu sudah memikirkannya?' Saya berpikir: 'Oh, apa ini?' Jadi saya menerjemahkan pesan (asli) tersebut. Mereka sedang mencari pemain yang mungkin tertarik untuk mendaftar," jelasnya.
Kisah Roberto Lopes menunjukkan bahwa jalur menuju sukses tidak selalu lurus. Ia berani meninggalkan stabilitas demi kebahagiaan. Dan terkadang, peluang terbesar datang dari tempat yang paling tidak terduga, seperti pesan yang nyaris terhapus sebagai spam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Balita Tewas Digigit Ular Weling Saat Tidur di Rumah
Makmum Tak Wajib Baca Surat Pendek Setelah Al-Fatihah
Malaikat Tak Masuk Rumah Berpatung, Boneka Dibolehkan
Ojol Tunarungu Ditabrak, Motornya Dicuri Pura-Pura Keluarga
Ruben Onsu Ajukan Gugatan Hak Asuh ke PN Jaksel
Qodari Bela Komisaris BUMN dari Luar Bidang Usaha
