Defisit APBN 2026 Melebar ke Rp 734 Triliun

Dedi S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Defisit APBN 2026 Melebar ke Rp 734 Triliun

Gambar atau konten salah?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan perkiraan terbaru mengenai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026. Angkanya melebar hingga Rp 734,3 triliun. Jumlah itu setara dengan 2,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebelumnya, target defisit ada di angka Rp 689,1 triliun atau 2,68% PDB. Artinya, ada kenaikan sekitar Rp 45 triliun dari target awal.

"Outlook defisit APBN tercatat sebesar Rp 734,3 triliun dengan persentase sebesar 2,85% terhadap PDB. Dengan demikian outlook pembiayaan anggaran menjadi sebesar Rp 734,3 triliun," kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI pada Selasa, 07 Juli 2025.

Meski begitu, Purbaya optimistis. Ia yakin realisasi defisit pada akhir tahun nanti masih bisa ditekan lebih rendah dari perkiraan saat ini.

Penyebab utama melebarnya defisit adalah belanja negara. Sampai akhir tahun, belanja negara diproyeksikan mencapai Rp 3.942,4 triliun. Angka itu setara 102,6% dari pagu yang sudah ditetapkan. Sementara itu, target pendapatan negara memang dinaikkan menjadi Rp 3.208,1 triliun atau 101,7% dari pagu. Tapi tetap saja, belanja lebih besar dari pendapatan.

"Outlook belanja negara diproyeksikan sebesar Rp 3.942,4 triliun atau mencapai 102,6% dibandingkan pagu APBN dan tumbuh 14,8%. Outlook belanja terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 3.245,5 triliun atau tumbuh 25,5% dan transfer ke daerah sebesar Rp 696,9 triliun atau mencapai 100,6% dibandingkan pagu APBN sebesar Rp 693 triliun," jelas Purbaya.

Belanja yang membengkak ini, menurut Purbaya, digunakan untuk beberapa hal. Pertama, mendukung program prioritas pembangunan. Kedua, menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat. Ketiga, mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah, penanggulangan bencana, dan tambahan dana otonomi khusus.

"Selain itu, outlook belanja tersebut sudah memperhitungkan tambahan sebesar Rp 132 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah subsidi dan kompensasi," tambahnya.

Bagaimana kondisi APBN hingga pertengahan tahun? Sampai semester I-2026, defisit APBN tercatat Rp 196,5 triliun. Angka itu setara dengan 0,76% terhadap PDB. Purbaya memperkirakan angka ini akan naik signifikan di semester II-2026. Namun, ia memastikan defisit tetap di bawah batas maksimal 3%.

"Hitungannya akan lebih tinggi karena kita akan ada belanja-belanja yang terakumulasi di semester II. Tapi kita pastikan bahwa anggaran kita tetap terkendali dan defisit akan di bawah 3%," imbuh Purbaya.

Perkiraan defisit yang melebar ini menunjukkan bahwa pemerintah masih menggenjot belanja, terutama di paruh kedua tahun. Meskipun ada kenaikan target pendapatan, belanja yang lebih tinggi tetap menjadi faktor dominan. Pemerintah mengklaim masih punya ruang untuk menjaga defisit tetap terkendali, di bawah batas 3% PDB yang selama ini menjadi acuan.

defisit APBN 2026belanja negarapendapatan negaraPurbaya Yudhi Sadewatarget defisitoutlook APBNsubsidi dan kompensasi

Komentar

Memuat komentar...