Anak Petani Gresik Raih PhD di Australia

Rudi H. · 4 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Anak Petani Gresik Raih PhD di Australia

Gambar atau konten salah?

Hidup Ni'matul Zahro tidak pernah mulus. Perempuan kelahiran Oktober 1999 ini tumbuh di Desa Gredek, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik, sebagai anak petani. Kini ia sedang menempuh pendidikan doktor (PhD) di Australia. Perjalanannya penuh kegagalan, keterbatasan ekonomi, dan perjuangan panjang.

Sejak kecil, ia terbiasa melihat ibunya bekerja keras. Keluarganya jauh dari kata mewah. Tapi kondisi itu tidak membuatnya menyerah. Justru sebaliknya — keterbatasan menjadi bahan bakar untuk terus belajar.

Mimpinya untuk kuliah di luar negeri sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku S1 Pendidikan Kimia Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Di tengah kuliah, ia mulai membayangkan bisa mengenyam pendidikan di negara lain. Melihat dunia yang lebih luas.

Setelah lulus dan bekerja, ia mulai serius mempersiapkan diri. Salah satu langkahnya adalah mengikuti seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Tapi percobaan pertama berakhir pahit. Ia gagal lolos. Kegagalan itu sempat menghantam mentalnya. Tapi Ni'matul memilih bangkit dan mencoba lagi.

"Saya memang sudah bermimpi bisa belajar ke luar negeri sejak kuliah S1. Setelah lulus dan bekerja, saya terus mempersiapkan diri. Saya juga ambil S2 di Inggris. Saya mengikuti seleksi LPDP. Percobaan pertama gagal, tetapi saya mencoba lagi hingga akhirnya lolos," ujarnya, Senin, 06 Juli 2026.

Beasiswa LPDP menjadi titik balik. Ia kemudian menjalani berbagai tahapan, termasuk tes IELTS sebagai syarat mendaftar ke universitas luar negeri. Baginya, pencapaian besar lahir dari proses panjang.

"Keberhasilan tidak datang secara instan. Yang paling penting adalah kemauan, usaha yang terus dilakukan, dan doa kepada Tuhan," katanya.

Buku SBMPTN Pinjam Tetangga

Di balik pencapaiannya, ada kisah yang jarang diketahui orang. Saat hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, kondisi ekonomi keluarga menjadi tantangan. Bahkan buku persiapan SBMPTN yang ia gunakan adalah pinjaman dari tetangga.

"Buku SBMPTN yang saya gunakan waktu itu meminjam dari tetangga. Saya mengikuti seleksi melalui jalur Bidikmisi sehingga tidak perlu membayar biaya. Kekhawatiran ibu saat itu adalah bagaimana biaya kuliah nanti. Tapi saya terus berjuang hingga akhirnya mimpi itu tidak berhenti di sana," kenangnya.

Kesulitan ekonomi bukan satu-satunya ujian. Sejak kecil, Ni'matul tumbuh tanpa kehadiran ayah yang bekerja sebagai TKI di luar negeri dan tidak pernah kembali pulang. Ibunya menjadi tulang punggung keluarga sekaligus sosok paling berpengaruh dalam hidupnya.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana ibunya berjuang membesarkannya dengan segala keterbatasan. Dari ibunya, ia belajar arti kerja keras dan keteguhan.

"Beliau mengajarkan arti kerja keras, pantang menyerah, dan selalu memberikan restu dalam setiap langkah saya," tuturnya.

Meski berasal dari keluarga petani sederhana, Ni'matul tidak pernah merasa rendah diri. Latar belakang keluarga, menurutnya, tidak menentukan sejauh mana seseorang bisa melangkah.

"Latar belakang keluarga tidak menentukan seseorang bisa atau tidak meraih cita-cita. Saya percaya semua orang memiliki kesempatan yang sama. Hal yang membuat saya ingin ke luar negeri sederhana saja, saya hanya ingin melihat dunia yang lebih luas," ujarnya.

Keinginan Melihat Dunia

Keinginan mengenal dunia tumbuh sejak muda. Kegemarannya membaca buku membuka banyak jendela pengetahuan tentang berbagai negara dan budaya. Salah satu buku yang paling membekas adalah '99 Cahaya di Negeri Eropa' — membuatnya semakin penasaran dengan kehidupan di luar Indonesia.

Setelah menyelesaikan S1 melalui jalur Bidikmisi di Unesa, ia melanjutkan studi magister MA Science Education di University College London, Inggris.

Sekarang langkahnya lebih jauh. Ni'matul sedang menempuh PhD Education di Southern Cross University, Australia. Di sela aktivitas akademik, ia juga mengajar Kimia IGCSE di Timedoor Academy.

Prosesnya tidak singkat. Ia harus mencari berbagai program PhD fully funded di sejumlah negara, menghubungi calon profesor pembimbing, mengikuti wawancara, menyusun proposal penelitian, hingga akhirnya menerima surat penerimaan sekitar 2 bulan setelah seleksi.

Di tengah kesibukan di negeri orang, ada satu nasihat sederhana dari ibunya yang terus menemaninya. "Kata ibu, harus selalu Ingat Tuhan," tuturnya.

Kalimat itu menjadi pegangan ketika ia hidup jauh dari keluarga dan lingkungan yang dikenalnya.

"Saat berada di negeri orang, jauh dari keluarga dan tidak mengenal siapa pun, saya hanya bisa bersandar kepada Tuhan. Nasihat itu membuat hati saya lebih tenang dan langkah saya lebih ringan," katanya.

Meski kini ribuan kilometer dari kampung halaman, Ni'matul tidak melupakan Desa Gredek. Ia yakin ilmu, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh selama belajar di luar negeri bisa dibawa pulang untuk memberi manfaat bagi masyarakat.

"Saya percaya membangun desa tidak harus selalu dengan tinggal di desa. Ilmu, pengalaman, dan jaringan yang saya peroleh bisa saya bawa pulang melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, sekolah, komunitas, maupun generasi muda," ujarnya.

Perempuan berusia 26 tahun itu menitipkan pesan kepada generasi muda yang mungkin sedang berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi atau merasa mimpinya terlalu tinggi.

"Yang perlu diubah pertama adalah pola pikir. Pendidikan bukan sekadar untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi, tetapi untuk mengubah cara berpikir. Saat ini peluang beasiswa sangat banyak. Tinggal bagaimana kita mau mencari informasi, mempersiapkan diri, dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan," pungkasnya.

Kisah Ni'matul menunjukkan bahwa latar belakang ekonomi bukan penghalang mutlak. Kegagalan dalam seleksi beasiswa, keterbatasan biaya, dan ketiadaan figur ayah tidak menghentikan langkahnya. Ia membuktikan bahwa konsistensi dan perubahan pola pikir bisa membuka jalan ke pendidikan internasional — dari desa di Gresik hingga kampus di Australia.

perjuanganbeasiswapendidikanketerbatasanekonomipola pikirdesa

Komentar

Memuat komentar...