Desa Tak Pakai Dolar, Rupiah Menimpakan Harga, Peringatkan
Gambar atau konten salah?
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar Amerika Serikat. Pernyataan tersebut benar secara literal, namun ia tidak menyadari bahwa melemahnya nilai tukar rupiah akan memengaruhi hampir semua rantai harga di dalam negeri, termasuk yang akhirnya dirasakan oleh warga desa.
Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menanggapi komentar tersebut. Ia menegaskan bahwa dalam perekonomian rakyat kecil, sering kali pihak terakhir yang menyadari gejolak kurs, namun mereka yang pertama merasakan dampak kenaikan harga.
Masyarakat desa mungkin tidak bertransaksi memakai dolar, tetapi pupuk, BBM, logistik, pakan ternak, obat-obatan, mesin pertanian, bahkan sebagian bahan pangan sangat dipengaruhi kurs, ujarnya saat dihubungi pada Minggu, 17 Mei 2026.
Ronny menambahkan bahwa narasi yang hanya menenangkan publik berisiko menyederhanakan masalah yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Jadi kalau konteksnya ingin menenangkan publik, dalam hemat saya, narasi seperti itu justru berisiko menyederhanakan persoalan yang sebenarnya jauh lebih kompleks, katanya.
Ia kemudian menguraikan tiga risiko utama yang dapat muncul dari komunikasi semacam itu. Pertama, risiko psikologis pasar. Investor sangat sensitif terhadap komunikasi pejabat tinggi negara.
Kalau komunikasi dianggap meremehkan tekanan rupiah, pasar bisa membaca bahwa respons kebijakan tidak akan agresif atau tidak cukup serius. Artinya, itu bisa memperbesar tekanan terhadap rupiah dan arus modal keluar, ujarnya.
Risiko kedua berkaitan dengan kepercayaan publik. Masyarakat kini lebih peka terhadap harga kebutuhan pokok dibanding beberapa tahun lalu. Jika rakyat merasakan harga naik tetapi elit memberi kesan tidak terlalu berdampak, jarak persepsi antara pemerintah dan kondisi riil masyarakat dapat muncul.
Dalam ekonomi, trust sama pentingnya dengan cadangan devisa. Sekali kepercayaan publik menurun, efeknya bisa panjang, katanya.
Risiko ketiga adalah ekspektasi inflasi. Pernyataan yang terlalu simplistik dapat membuat pemerintah terlihat defensif, padahal pasar membutuhkan pengakuan realistis bahwa pelemahan rupiah memang serius dan harus dijaga bersama.
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan pasar bukan hanya kalimat yang menenangkan, tetapi keyakinan bahwa pemerintah punya strategi yang kredibel. Dalam situasi seperti sekarang, komunikasi ekonomi harus sangat hati‑hati. Salah narasi sedikit saja, pasar bisa bereaksi lebih cepat daripada rapat koordinasi, terangnya.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai bahwa pemerintah seharusnya mulai menyiapkan skenario mitigasi, bukan hanya menantang situasi tanpa persiapan.
Di Indonesia ini seolah justru menantang, tapi tanpa persiapan. Saya kira sikap dan komunikasi seperti ini sangat sangat membahayakan karena masyarakat seolah dibuat tenang tapi tidak siap dengan sudden shock. Pemimpin di negara lain justru menyiapkan skenario terburuk karena efek perang masih panjang, katanya.
Ia mengingatkan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai sekitar 7% dalam satu tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi alarm yang perlu dicermati serius karena dapat berdampak terhadap investasi dan ketenagakerjaan.
Itu semua tinggal menunggu waktu saja sampai harga‑harga akan menekan di pedesaan dan jangan salah juga, kalau rupiahnya terus melemah terhadap dolar, PHK massal, desa itu akan dibanjiri oleh mereka yang jadi korban PHK di perkotaan kembali lagi ke desa tapi tidak berkerja, dan tidak berpenghasilan kan itu akan jadi beban desa, ujarnya.
Kesimpulannya, meski pernyataan Presiden tentang tidaknya penggunaan dolar di desa benar secara literal, melemahnya rupiah tetap menimbulkan dampak luas. Komunikasi yang terlalu menenangkan dapat menurunkan kepercayaan publik, memperbesar tekanan pasar, dan memicu ekspektasi inflasi. Pemerintah perlu menunjukkan strategi yang kredibel dan menyiapkan skenario mitigasi, agar tidak menimbulkan ketidakpastian yang lebih besar bagi ekonomi rakyat kecil.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Rupiah Tertekan, Dolar Naik, BI Terapkan Threshold Valas
IHSG Turun 1,46% di Pagi, Masuk Zona Merah, Menurunkan 86 Poin
Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK, Wamen Imipas Ditahan
Rupiah Jatuh ke 14.000 per SGD, Pasar Saham Turun 5,2%
IHSG Menurun ke Zona Merah, Turun 1,46% ke 5.854 di Bursa
KAI-INKA Merger Selesai Tahun Ini, Menjadi Holding Subholding
Berita Terbaru
Timnas U‑19 Siap Hadapi Timor Leste, Kaka Fokus Evaluasi
Pasangan Adnan-Indah Kalah 18‑21, China Laju ke 16 Besar
Operasi Benjolan Bahu Raffi Ahmad, Dorong Pemeriksaan Rutin
122 Program Studi Tutup Akhir 2026, Menteri Jelaskan Alasan
Telur Ceplok Balado Jadi Pilihan Pagi di Rumah
Kemenpar Luncurkan Program Penertiban Akomodasi 2026
Malaysia Pemenang Piala Dunia 2026, Indonesia Hanya Putros
Rupiah Tertekan, Dolar Naik, BI Terapkan Threshold Valas
