Dieng: Kawah Aktif dan Tradisi Anak Bajang di Jawa Tengah
Gambar atau konten salah?
Dieng terletak di pegunungan Jawa Tengah, pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Tempat ini sering dikunjungi para pelancong yang mencari suasana liburan yang berbeda. Di sana, udara terasa sejuk, kabut tipis menutupi hamparan hijau, dan kawah‑kawah aktif berdampingan dengan telaga‑telaga berwarna. Keindahan alamnya tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan ketika embun es menempel pada dedaunan, menciptakan nuansa musim dingin di tengah tropis.
Nama Dieng berasal dari bahasa Sanskerta “Die Hieyang”, yang berarti indah dan langka. Kata “Di” berarti gunung atau tempat tinggi, sedangkan “Hyang” merujuk pada dewa‑dewi atau leluhur. Secara harfiah, Dieng adalah pegunungan tempat para dewa bersemayam. Karena ketinggiannya, kawasan ini sering disebut Negeri di Atas Awan. Pemandangan awan yang menempel di dataran tinggi membuat mata terpesona, seolah‑olah berada di atas awan.
Walaupun sebagian besar wilayah Dieng berada di Kabupaten Wonosobo, sebagian kecil juga masuk ke wilayah Banjarnegara. Bagian baratnya berada di Banjarnegara, sedangkan bagian timurnya berada di Wonosobo. Kedua kabupaten ini berada di provinsi Jawa Tengah. Dieng dikelilingi oleh gunung‑gunung seperti Gunung Prau, Pangonan, dan Pakuwojo. Tidak jauh dari sana, dua gunung legendaris “si kembar” – Sindoro dan Sumbing – menambah keindahan lanskap.
Di dataran tinggi ini, terdapat desa tertinggi di Pulau Jawa, yaitu Sembungan. Desa ini terletak pada ketinggian 2.300 mdpl dan menawarkan panorama sawah terasering serta bukit hijau. Sembungan pernah terpilih sebagai salah satu Desa Terbaik pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Keberhasilan desa ini menunjukkan potensi wisata yang belum banyak diketahui.
Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dieng menjadi rumah bagi 22 kawah aktif. Kawah‑kawah ini tersebar di wilayah Banjarnegara (Gunung Api Dieng), Wonosobo, dan Kabupaten Batang. Di Gunung Api Dieng terdapat delapan kawah utama: Kawah Timbang, Sinila, Sigludug, Sileri, Condrodimuko, Sikidang, Sibanteng, dan Bitingan. Di Wonosobo, terdapat empat kawah: Sikidang, Sikunang, Pulosari, dan Pakuwojo. Kabupaten Batang memiliki lima kawah: Sibanger, Wanapria, Wanasida, Siglagah, dan Pagerkandang. Dari semua kawah tersebut, Kawah Timbang, Sinila, dan Sikidang menjadi perhatian khusus karena potensi emisi gas beracun, terutama Kawah Timbang yang dapat berkembang menjadi kondisi berbahaya.
Fenomena “salju” yang pernah viral di Dieng sebenarnya bukan salju, melainkan embun es atau frost. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa embun es terbentuk saat suhu udara turun drastis hingga mencapai titik beku. Embun yang mengkondensasi berubah menjadi kristal es, menutupi tanah dan dedaunan. Frost biasanya muncul pada puncak musim kemarau, sekitar bulan Juni hingga Oktober, namun durasinya singkat dan hanya terjadi pada waktu terbatas.
Di Dieng, tradisi anak bajang menjadi salah satu warisan budaya yang unik. Anak bajang memiliki rambut gimbal alami yang hanya boleh dipotong melalui ritual penyucian khusus yang disebut ruwatan. Proses pemotongan rambut ini menjadi daya tarik utama di acara tahunan Dieng Culture Festival. Masyarakat setempat percaya bahwa anak bajang ini merupakan titisan leluhur agung Dieng, yaitu Kyai Kolodete bagi anak laki‑laki dan Nyai Dewi Roro Ronce bagi anak perempuan. Sebelum ruwatan dilaksanakan, anak biasanya mengajukan permintaan khusus yang harus dikabulkan oleh orang tua atau lingkungan agar prosesi dapat berjalan lancar.
Sejarah Dieng juga dipenuhi dengan candi-candi batu. Kawasan ini menjadi pusat peribadatan umat Hindu, khususnya yang beraliran Siwa. Beberapa candi yang masih berdiri kokoh di dataran tinggi ini antara lain Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Gatotkaca, Dwarawati, dan Candi Bima. Nama-nama candi tersebut mengadopsi tokoh‑tokoh dari epos Bharatayuddha. Pada masa kejayaannya, gugusan candi ini menjadi tempat utama bagi masyarakat Hindu untuk memuja Trimurti.
Berikut adalah sembilan fakta penting tentang Dieng:
1. Tempat Bersemayam Para Dewa – Nama Dieng berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti indah dan langka. Kata “Di” berarti gunung atau tempat tinggi, sedangkan “Hyang” merujuk pada dewa‑dewi atau leluhur.
2. Dijuluki “Negeri di Atas Awan” – Ketinggian rata‑rata 2.090 mdpl dan dikelilingi pegunungan membuat pemandangan awan sering terlihat jelas.
3. Terletak di Dua Kabupaten – Sebagian wilayah Dieng berada di Wonosobo, sebagian lagi di Banjarnegara.
4. Dikelilingi Pegunungan – Bentang alam dipagari oleh Gunung Prau, Pangonan, dan Pakuwojo, serta dekat dengan Sindoro dan Sumbing.
5. Ada Desa Tertinggi di Pulau Jawa – Sembungan berada pada elevasi 2.300 mdpl dan pernah terpilih sebagai Desa Terbaik pada ADWI 2022.
6. Punya 22 Kawah – Kawah-kawah aktif tersebar di Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang. Kawah Timbang, Sinila, dan Sikidang menjadi perhatian khusus.
7. Wilayah “Bersalju” – Frost yang menutupi dataran tinggi sempat viral, namun secara ilmiah merupakan embun es.
8. Anak Bajang Berambut Gimbal – Tradisi pemotongan rambut melalui ruwatan menjadi daya tarik di Dieng Culture Festival.
9. Punya Deretan Candi – Candi-candi seperti Arjuna, Semar, Srikandi, dan lainnya menjadi saksi bisu peradaban Hindu di kawasan ini.
Keindahan alam, sejarah, dan budaya yang kaya membuat Dieng menjadi destinasi menarik bagi wisatawan. Pemandangan alamnya yang menakjubkan, kawah aktif yang menambah ketegangan, serta tradisi unik seperti anak bajang menambah daya tarik. Selain itu, keberadaan candi-candi batu menandai sejarah spiritual yang mendalam. Semua unsur ini menjadikan Dieng tempat yang tidak hanya menawarkan liburan, tetapi juga pengalaman spiritual melintasi ruang dan waktu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
10 Tempat Wisata di Tangerang, Akses KRL Mudah
5 Gunung Alternatif untuk Hindari Keramaian Bromo
10 Destinasi Wisata di Jakarta yang Mudah Dijangkau Naik KRL
Gua Donan Pangandaran Sepi, Tiket Gratis pun Tak Laku
7 Destinasi Dingin Jawa Tengah Selain Dieng
Pantai Lakban: Wisata dan Sejarah Tambang Belanda
