Dokter Anak: Warga Sekitar TPA Jatiwaringin Harus Segera Mengungsi
Gambar atau konten salah?
Seorang dokter spesialis anak memperingatkan bahaya polusi dari kebakaran TPA Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang. Menurutnya, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak buruk asap dan polutan yang menyebar ke pemukiman warga.
dr Cynthia Centauri, SpA(K), Subsp Resp, yang tergabung dalam Unit Kerja Koordinasi Respirasi IDAI, menyampaikan imbauan tegas. Ia meminta warga di sekitar lokasi kebakaran untuk segera mengungsi jika kualitas udara sudah mencapai level berbahaya. Evakuasi, kata dia, harus menjadi prioritas utama saat kadar polutan di udara sudah sangat tinggi dan mengancam jiwa.
"Kalau memang kadar polutannya sedemikian tinggi dan padat, tidak memungkinkan untuk bernapas dan mengancam nyawa, harus dievakuasi tentunya orang-orang atau warga di sekitar tempat tersebut," ujar dr Cynthia dalam konferensi pers pada Selasa, 07 Juli 2026.
Semakin jauh jarak seseorang dari titik kebakaran, semakin kecil pula paparan polutan yang diterima. Tapi jika evakuasi tidak bisa dilakukan, dr Cynthia menyarankan warga untuk tetap tinggal di dalam rumah. Semua ventilasi harus ditutup rapat agar udara kotor dari luar tidak masuk. Kalau ada, gunakan alat pembersih udara atau air purifier.
"Kalau memang harus keluar rumah, mungkin kita gunakan alat pelindung diri (APD). Kita cek terus bagaimana kadar polusi di luar rumah. Kita bisa pakai aplikasi," katanya.
Untuk anak-anak yang berusia di atas tiga tahun, dr Cynthia menyarankan pemakaian masker jika mereka harus beraktivitas di luar rumah. Pada usia itu, anak biasanya sudah bisa menggunakan masker dengan benar.
Asap plastik dan risiko kanker
Kebakaran di tempat pembuangan sampah punya risiko yang lebih besar dibanding kebakaran biasa. Sebab, berbagai jenis material ikut terbakar — termasuk sampah plastik. dr Cynthia menegaskan, pembakaran plastik menghasilkan zat berbahaya yang efeknya bisa bertahan lama.
"Kalau yang terbakar itu sampahnya bermacam-macam, apalagi ada sampah plastik, memang sangat berbahaya. Salah satunya menghasilkan dioksin atau furan yang risikonya sangat tinggi," ujarnya.
Paparan dioksin dan furan tidak cuma mengganggu saluran pernapasan. Zat ini juga bisa memicu gangguan saraf dan meningkatkan risiko kanker di kemudian hari. Efeknya bisa langsung dirasakan begitu polutan terhirup, terutama pada anak yang sudah punya penyakit saluran napas seperti asma.
"Begitu polusi udara terhirup, efeknya bisa langsung dirasakan. Terutama pada pasien yang punya asma, bisa langsung memicu serangan," pungkasnya.
Kebakaran TPA Jatiwaringin menghasilkan asap tebal yang menyebar ke area pemukiman. Polusi dari pembakaran sampah campuran, termasuk plastik, mengandung senyawa kimia berbahaya yang tidak bisa dianggap remeh. Anak-anak dengan sistem pernapasan yang masih berkembang menjadi pihak yang paling perlu dilindungi dalam situasi seperti ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Rahasia Diet 6.000 Kalori Haaland di Piala Dunia
17% Pekerja Malaysia Alami Gangguan Psikososial
5 Makanan Harian yang Sehatkan Jantung Menurut Penelitian
200 Ribu Kondom Palsu China Diselundupkan ke Eropa
Urine Bening Ternyata Tanda Bahaya Ginjal
BPOM: Indonesia Bisa Jadi Negara Pertama dengan Vaksin mRNA DBD