Dokter Hewan Unair Banyuwangi Sukses Operasi Caesar Sapi
Gambar atau konten salah?
Seorang lulusan Universitas Airlangga (Unair) di Banyuwangi membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah halangan untuk berprestasi. Anggun Mochammad Yusuf, alumnus Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA), kini dikenal sebagai satu-satunya dokter hewan di Banyuwangi yang mampu melakukan operasi caesar pada sapi. Ia juga berhasil membangun jaringan klinik hewan yang berkelas internasional.
Anggun lulus pada tahun 2019. Saat itu, FIKKIA masih berstatus Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU). Meski peralatan yang tersedia terbatas dan ia harus sesekali pergi ke kampus pusat di Surabaya untuk praktikum, tekadnya tidak surut. Kini, ia mampu memberikan pertolongan optimal kepada masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja bagi dokter muda dan perawat di Banyuwangi.
"Ini memang cita-cita saya, menjadi dokter hewan sekaligus membuka bisnis pribadi sehingga tidak terikat waktu. Dan bersyukur bisa membuka lapangan pekerjaan bagi dokter hewan muda untuk membantu di klinik hewan saya serta sejumlah perawat," kata Anggun pada hari Senin, 29 Juni 2026.
Selama kuliah di FIKKIA Unair, Anggun mendapatkan pengetahuan tentang ilmu bisnis dan manajemen dalam satu semester. Pengetahuan itu menjadi bekal baginya untuk menggabungkan profesi dokter hewan dengan bisnis kesehatan yang berbasis pada layanan kesehatan hewan.
Setelah menimba ilmu di Brunei Darussalam selama satu tahun, Anggun kembali ke tanah air dan membuka klinik hewan bernama Amy Animal Care di Muncar. Ia tidak hanya berhenti di situ. Anggun berinovasi dengan menerima layanan rawat inap bagi anak sapi atau pedet — sesuatu yang jarang dilakukan klinik hewan lain di daerah tersebut.
"Saat membuka klinik saya harus berinovasi, kalau obat dan alat bisa dibeli, tapi yang tidak bisa adalah skill. Saya satu-satunya klinik yang bisa melayani Cecar sapi dan membuka layanan rawat inap bagi pedet," tegas Anggun.
Anggun tidak menyangka bahwa layanan yang ia tawarkan akan begitu diminati. Dalam sebulan, ada lebih dari satu ekor sapi yang harus ia operasi caesar. Sementara untuk rawat inap, setiap bulan tidak kurang dari enam ekor pedet harus dirawat di kliniknya. Rata-rata pedet yang menjalani pengobatan dengan sistem rawat inap memiliki masalah karena lahir prematur, hernia, atau mengalami gangguan pada umbilikus atau pusarnya.
"Saya sendiri tidak menyangka bisa ramai peminat, ternyata petani selama ini kerap dihadapkan pada dilema saat anak sapinya sakit usai dilahirkan. Bersyukur saya bisa menyelamatkan mereka, setiap bulan bisa sampai 6 ekor anak sapi yang rawat inap," terang Anggun lebih lanjut.
Soal biaya, Anggun memastikan tarifnya terjangkau. "Soal tarif sangat terjangkau by simtom kalau operasi umbilikus Rp 1,5 juta rupiah belum rawat inap, obat obatan infus dan lain lain," tambahnya.
Anggun tidak merasa cukup dengan satu klinik. Ia pun memperluas bisnisnya dengan membuka klinik hewan di Brunei Darussalam. Ekspansi bisnis itu tergolong sukses. Konsekuensinya, ia harus pulang pergi Indonesia-Brunei Darussalam setiap tiga bulan sekali.
Anggun mengaku awalnya sempat pesimis saat membuka klinik hewan di Kecamatan Muncar. Daerah itu dikenal sebagai kecamatan pesisir dan jauh dari kata perkotaan. Namun ternyata, animo masyarakat sangat positif. Mereka yang mencintai hewan seperti kucing dan anjing tak pernah surut keluar masuk kliniknya untuk berbagai layanan — mulai dari suntik rabies, steril, suntik anti virus, memandikan, hingga perawatan operasi lain yang diperlukan.
Anggun berharap, kedokteran hewan Unair kian bertumbuh dan lulusannya kian inovatif. Ia ingin para lulusan mampu membawa nama besar kampus dan Banyuwangi. Apalagi, perkembangan FIKKIA Unair telah meluluskan sarjana-sarjana berkualitas.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengungkapkan, pemerintah Kabupaten Banyuwangi awalnya ingin menghadirkan Unair di Banyuwangi untuk memfasilitasi pelajar di daerah tersebut. Tapi, Ipuk bangga karena tidak sedikit pelajar dari luar daerah yang menuntut ilmu di Unair Banyuwangi.
"Saya bangga dan bersyukur banyak pelajar luar kota sekolah disini, semoga ilmunya kian bermanfaat sembari belajar sembari menikmati alam banyuwangi dan mudah mudahan kedepan bisa mengabdi untuk Banyuwangi," ujar Ipuk.
Ipuk berharap, pelajar di FIKKIA Unair dapat menimba ilmu dengan baik sembari menikmati alam Banyuwangi. Ia juga berharap lulusannya bisa mengabdikan ilmunya untuk Banyuwangi.
Di sisi lain, untuk mengoptimalkan pendidikan dan fasilitas bagi seluruh mahasiswa, Unair akan membangun gedung baru dengan dukungan pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Dekan FIKKIA Unair Rahadian Indarto Susilo menyatakan komitmen pihaknya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Banyuwangi. Ia menyebutkan, sejak hadir di Banyuwangi pada tahun 2014, kualitas pendidikan di FIKKIA terus mengalami peningkatan.
"Sekarang kami sudah memiliki program studi kedokteran di Banyuwangi. Untuk terus meningkatkan kualitas tersebut, kami berencana membangun fasilitas gedung baru," katanya usai menerima dokumen PKKPR (Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang) dari Bupati Banyuwangi.
Unair di Banyuwangi telah meluluskan ratusan sarjana dari lima program studi, yaitu Kedokteran Hewan, Kesehatan Masyarakat, Akuakultur, dan Kedokteran. Kisah Anggun menunjukkan bahwa lulusan dari daerah bisa bersaing di tingkat internasional, selama mereka mau berinovasi dan tidak bergantung pada fasilitas mewah. Kehadiran klinik hewan di Muncar yang melayani operasi caesar sapi dan rawat inap pedet menjawab kebutuhan nyata petani di lapangan, yang sebelumnya sering kebingungan saat anak sapi mereka sakit setelah dilahirkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Keluarga Ngotot Ngontrak Tiga Generasi, Pemilik Pusing
Sidak Toko Miras di Mojokerto, 24 Tempat Langgar Aturan
Derbi Iberia Panas: Portugal vs Spanyol di 16 Besar Piala Dunia
Petani Tebu di Kediri Tewas Terbakar di Lahannya
Diduga Selingkuh, Istri Gcor Rumah Mewah di Bojonegoro
Duel Sengit Portugal vs Spanyol di 16 Besar Piala Dunia
Berita Terbaru
Dokter Hewan Unair Banyuwangi Sukses Operasi Caesar Sapi
Keluarga Ngotot Ngontrak Tiga Generasi, Pemilik Pusing
Diet Jus Ekstrem 3 Bulan, Ginjal Wanita 56 Tahun Rusak
BPOM: Pemimpin Masa Depan Wajib Kuasai Cara Kerja Otak
CCTV Tangkap Pencuri Tas di Stasiun Tawang Semarang
Ronaldo, 41 Tahun, Masih Jadi Momok Spanyol
Lima Lokasi SIM Keliling Medan untuk Perpanjangan SIM
7 Contoh Pengumuman Lomba 17 Agustus untuk Berbagai Kalangan
KPAI Buka Suara soal Anak Hirup Bensin