BPOM: Pemimpin Masa Depan Wajib Kuasai Cara Kerja Otak

Dani L. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
BPOM: Pemimpin Masa Depan Wajib Kuasai Cara Kerja Otak

Gambar atau konten salah?

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, memberikan kuliah umum kepada mahasiswa STIK Lemdiklat Polri. Topik yang dibahas adalah Neuroleadership. Menurutnya, di era digital saat ini, menjadi pemimpin masa depan tidak cukup hanya mengandalkan jabatan atau pengalaman. Ada satu hal lagi yang wajib dikuasai: memahami cara kerja otak.

Neuroleadership adalah pendekatan kepemimpinan modern. Pendekatan ini memanfaatkan fungsi sains otak. Tujuannya untuk mengelola emosi, mengambil keputusan, dan berkolaborasi dengan orang lain. "Transformasi kepemimpinan harus dimulai dari transformasi diri. Seorang pemimpin yang mampu mengelola pikirannya akan mampu membawa perubahan bagi bangsa," kata Taruna dalam keterangan yang diterima pada Senin, 06 Juli 2026.

Dalam penjelasannya, Taruna mengungkapkan ada empat prinsip utama dalam konsep ini. Pertama, self-regulation, yaitu kemampuan mengendalikan emosi. Kedua, mindfulness, atau kesadaran penuh dalam setiap situasi. Ketiga, empathy-based leadership, yaitu memimpin dengan empati dan rasa percaya. Keempat, decision based on logic, atau mengambil keputusan rasional berdasarkan data ilmiah.

Taruna juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan organ otak. Otak adalah modal utama untuk memimpin. Ia menjelaskan tentang neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk terus berkembang. Proses ini terjadi melalui belajar, tanpa memandang usia. Artinya, kemampuan memimpin bukan sekadar bakat lahir. Ini adalah kapasitas otak yang bisa terus dilatih dan diasah.

Menurut Taruna, pendekatan ilmiah ini sangat penting bagi Indonesia. Negara sedang menghadapi bonus demografi. Ada juga tantangan global seperti perubahan iklim dan revolusi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). "Indonesia butuh pemimpin yang mampu berpikir ilmiah, cepat adaptasi teknologi, tapi tetap humanis. Neuroleadership bikin pemimpin gak cuma cerdas intelektual, tapi juga matang secara emosional," lanjutnya.

Melalui kuliah umum ini, Taruna berharap lahir generasi baru pemimpin Polri. Pemimpin yang adaptif, berintegritas, dan siap membawa Indonesia menuju era Indonesia Emas 2045.

Intinya, pendekatan ini menggabungkan ilmu otak dengan kepemimpinan. Tujuannya sederhana: membuat pemimpin tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga stabil secara emosional dan mampu mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar perasaan.

NeuroleadershipBPOMTaruna Ikrarkepemimpinanotakbonus demografiIndonesia Emas 2045transformasi diri

Komentar

Memuat komentar...