Dolar AS Naik, Pemerintah Jaga Harga BBM Subsidi Tetap

Ika P. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 91 dibaca
Bisik.id
Dolar AS Naik, Pemerintah Jaga Harga BBM Subsidi Tetap

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) masih perkasa dan terus menguat terhadap Rupiah. Pada 29 Mei 2026, mata uang Garuda sempat menekan dolar sebelum akhirnya kembali ke posisi yang lebih tinggi. Dolar AS hampir menyentuh Rp 17.900, dan pada pukul 14.11 WIB mencapai Rp 17.902.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka suara soal penguatan nilai tukar dan dampaknya pada harga energi di Indonesia. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menegaskan khusus untuk BBM subsidi seperti Solar dan Pertalite, harganya dijamin tidak bakal naik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menegaskan bahwa pemerintah tidak bakal menaikkan BBM subsidi hingga akhir tahun.

“Jadi untuk kenaikan harga BBM yang untuk subsidi, ini kan sudah disampaikan dan ini menurut perhitungan kita kan ada produksi dalam negeri yang kita dorong itu peningkatan. Kilang di dalam negeri pun itu juga kita juga sudah siapkan,” ujar Yuliot saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat 29 Mei 2026.

Selama itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga energi khususnya BBM subsidi yakni Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan meski rupiah melemah serta harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) saat ini naik. “Kalau sampai sekarang itu ICP dunia itu kan naik turun, naik turun 117, turun 90, ada yang 80 lebih, ada yang 100. Rata-rata ICP kita sekarang itu kan kurang lebih sekitar US$ 80, 80‑81 terhitung dari Januari sampai sekarang,” ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa 19 Mei 2026 yang lalu. “Jadi belum sampai US$ 100 lah, dan belum ada kenaikan, tidak akan naik Insyaallah ya doain ya, tidak akan kita naikkan subsidi BBM,” sambungnya.

Nasib harga listrik menjadi topik tersendiri. Yuliot tidak mengatakan secara tegas akan naik atau tidak. Yang jelas, dia bilang pemerintah tengah memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak terlalu terdampak fluktuasi nilai tukar Rupiah. Beberapa inisiatif termasuk percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt hingga program penghentian operasi pembangkit listrik diesel. Hal ini guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan impor BBM.

“Berarti ini ada penguatan kelistrikan juga karena dari energi baru terbarukan itu juga tidak ada dampak terhadap ini kebutuhan BBM dan juga terkait dengan pengadaan gasnya. Justru ini lebih andal dan juga ini kita mengurangi penggunaan (energi fosil) dan juga ya walaupun ada fluktuasi Rupiah ini tidak akan terganggu ketersediaan energi listrik khususnya,” ujar Yuliot.

Nilai tukar Rupiah semakin melemah terhadap Dolar AS jelang penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026. Pada pembukaan perdagangan, mata uang Garuda sempat bergerak menguat di level Rp 17.820. Namun, seiring berjalannya hari, dolar kembali menguat, mencapai Rp 17.902 pada pukul 14.11 WIB. Data Bloomberg menegaskan pergerakan ini.

Dengan pernyataan Menteri dan Wakil Menteri, pemerintah menegaskan komitmen menjaga harga BBM subsidi tetap stabil meski nilai tukar dan harga minyak dunia berfluktuasi. Sementara itu, upaya diversifikasi energi, terutama melalui PLTS 100 GW dan penghentian pembangkit diesel, diharapkan dapat menambah ketahanan energi nasional. Kenaikan harga listrik masih menjadi pertanyaan, namun langkah-langkah tersebut menunjukkan upaya pemerintah untuk meminimalkan dampak nilai tukar terhadap konsumsi energi domestik.

Dolar ASRupiahBBM subsidiESDMPLTS 100 GWharga energiketahanan energi

Komentar

Memuat komentar...