Ekonomi Zona Euro Melambat, Prancis Terkontraksi

Iwan D. · 3 min baca · 2 jam lalu · 27 dibaca
Bisik.id
Ekonomi Zona Euro Melambat, Prancis Terkontraksi

Gambar atau konten salah?

Perekonomian negara-negara di kawasan Uni Eropa mengalami perlambatan. Pada periode Juli hingga September 2026, pertumbuhan ekonomi mereka hanya mencapai 0,4%. Angka ini dirilis oleh badan statistik Eropa, Eurostat.

Sebenarnya, hasil ini masih lebih baik dari perkiraan para ekonom yang disurvei oleh Reuters. Mereka sebelumnya memprediksi pertumbuhan hanya akan berada di angka 0,2%. Namun, jika dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya, kinerja ini justru menurun. Pada kuartal II-2026, zona euro yang kini beranggotakan 21 negara mencatat pertumbuhan sebesar 0,6%. Sebelumnya, di kuartal I tahun ini, ekonomi mereka sempat mengalami stagnasi.

Joe Nellis, yang menjabat sebagai Kepala Penelitian Ekonomi di firma akuntansi MHA, memberikan komentarnya pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Ia menyatakan bahwa kawasan euro menunjukkan ketahanan yang tidak terduga di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang besar. Namun, Nellis juga mengingatkan adanya bahaya. Ketahanan yang tampak ini, menurutnya, bisa jadi hanya menutupi masalah struktural yang sudah mengakar lama. Masalah-masalah itu antara lain produktivitas yang lesu, belanja investasi yang rendah, tekanan demografis, dan daya saing industri Eropa yang terus merosot.

Ia juga memperingatkan prospek untuk tahun 2027. Situasi diprediksi akan semakin rumit karena ancaman tekanan inflasi yang berkelanjutan. "Kecuali krisis di Timur Tengah tuntas dalam waktu dekat, lonjakan biaya energi dan transportasi bakal terus mencekik biaya hidup serta keuangan rumah tangga, di saat kepercayaan konsumen sedang berada di titik nadir," ujar Nellis.

Yang menjadi perhatian utama adalah kondisi negara-negara raksasa ekonomi Eropa. Mereka yang selama ini menjadi pilar pertumbuhan kawasan justru mengalami tekanan besar. Ambil contoh Prancis. Ekonomi negara ini justru mengalami kontraksi atau penyusutan sebesar 0,1% pada periode Juli hingga September 2026. Negeri Mode ini sedang terpuruk menghadapi lonjakan biaya pinjaman. Banyak investor kabur akibat krisis politik dan demonstrasi yang terjadi.

Pemerintah Prancis saat ini berusaha memangkas defisit anggaran yang membengkak dan tumpukan utang nasional. Namun, situasi malah bertambah parah. Sepanjang Oktober 2026, gelombang protes nasional terjadi karena mahalnya biaya hidup. Protes ini beberapa kali berujung pada kerusuhan berdarah dan kerugian yang masif.

Sementara itu, Jerman, yang merupakan ekonomi terbesar di zona euro, hanya mampu tumbuh tipis 0,2% pada kuartal III-2026. Italia, yang sering menjadi ekonomi terbesar ketiga di blok tersebut, harus puas dengan pertumbuhan ekonomi yang stagnan alias 0%.

Di sisi lain, Spanyol justru tergolong cukup baik. Negara ini mencatat pertumbuhan 0,6%. Padahal, Spanyol juga sempat diguncang demonstrasi masif soal mahalnya biaya hidup dan krisis perumahan. Demonstrasi ini bahkan memaksa digelarnya pemilu mendadak pada bulan depan. Kuatnya pasar tenaga kerja, sektor pariwisata, permintaan domestik, dan posisi fiskal membuat Spanyol saat ini konsisten berada di atas rata-rata negara zona euro lainnya.

Irlandia mencatatkan angka pertumbuhan yang sangat fantastis, yakni 5,5%. Namun, angka Produk Domestik Bruto (PDB) Irlandia terkenal sangat fluktuatif. Hal ini karena angka tersebut banyak dipengaruhi oleh 'lalu-lalang' perusahaan multinasional raksasa yang beroperasi di luar negeri tetapi berkedudukan di sana.

Singkatnya, perlambatan ekonomi zona euro ini tidak merata. Negara-negara inti seperti Prancis dan Jerman justru menjadi sumber masalah, sementara negara pinggiran seperti Spanyol dan Irlandia menunjukkan performa yang lebih baik. Situasi politik dan sosial yang tidak stabil di beberapa negara menjadi faktor yang memperburuk kondisi ekonomi yang sudah rapuh.

perlambatan ekonomiUni EropaEurostatpertumbuhan 0,4%JermanPrancisSpanyol

Komentar

Memuat komentar...