El Nino 2026: Prediksi 70% Terjadi Juni, Dampak Global
Gambar atau konten salah?
Para ilmuwan dan pakar iklim di Indonesia dan dunia sedang mengamati secara ketat perkembangan El Nino di Samudra Pasifik. Fenomena ini dapat memicu lonjakan suhu global dan menembus rekor panas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun masih terlalu dini untuk memastikan gambaran lengkapnya, sejumlah tanda sudah menunjukkan bahwa El Nino ‘super’ bisa berkembang pada tahun ini.
El Nino adalah fenomena iklim alami yang ditandai oleh pemanasan permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Fenomena ini biasanya muncul setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung antara sembilan hingga dua belas bulan. Ketika El Nino terjadi, angin yang biasanya mendorong perairan hangat ke arah barat melemah atau bahkan berbalik arah, sehingga suhu permukaan laut di kawasan tersebut meningkat drastis.
Menurut pantauan terkini dari US Climate Prediction Center, kondisi saat ini sedang bertransisi dari La Nina menuju pola netral. Namun, model-model iklim menunjukkan transisi cepat menuju El Nino. Prakiraan terbaru yang dirilis oleh International Research Institute for Climate and Society di Columbia University memberikan probabilitas 70 % bahwa El Nino akan berkembang pada 01 Juni 2026. Hingga 94 % kemungkinan akan bertahan hingga akhir tahun.
Met Office Inggris menyatakan keyakinan besar bahwa fenomena ini bisa mencatatkan sejarah. “Para ilmuwan memberi tahu kami bahwa ini bisa menjadi El Nino terkuat sejauh ini di abad ini,” kata petugas Met Office dalam pernyataannya pada 01 April 2026.
El Nino ‘super’ merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan El Nino sangat kuat dengan pemanasan permukaan laut lebih dari 2 derajat Celsius di atas normal. Fenomena ini diketahui hanya terjadi beberapa kali sejak 1950, dan hanya sekali suhu melonjak melampaui 2,5 derajat Celsius. US Climate Prediction Center menyebut peluang 50 % bahwa El Nino kuat atau sangat kuat akan berkembang antara 01 November 2026 dan 01 Januari 2027 mendatang. Dampaknya bisa terasa di berbagai penjuru dunia.
El Nino cenderung menyebabkan kekeringan dan gelombang panas di Australia, Afrika Selatan, dan wilayah tengah India, serta sebagian Amerika Selatan termasuk hutan Amazon. Sementara curah hujan ekstrem berpotensi melanda wilayah selatan Amerika Serikat, sebagian Timur Tengah, dan Asia Selatan‑Tengah. El Nino juga membalik pola badai, menekan aktivitas badai Atlantik, sekaligus meningkatkan kemungkinan badai tropis kuat di Pasifik.
Contoh nyata El Nino ‘super’ yang terjadi pada 2015 memicu kekeringan parah di Ethiopia, krisis pasokan air di Puerto Rico, dan musim hurikan ganas di Pasifik tengah‑utara. Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa setiap kejadian El Nino bersifat unik dengan variabilitas yang tinggi.
Dengan bantuan beberapa model, fenomena El Nino ini bisa menjadi salah satu yang terkuat yang pernah tercatat. Dikombinasikan dengan pemanasan akibat krisis iklim yang dipicu aktivitas manusia, kondisi ini menempatkan dunia pada jalur untuk sekali lagi melampaui ambang kritis kenaikan suhu rata‑rata 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra‑industri. Beberapa model bahkan menunjukkan anomali suhu yang bisa melampaui 2 derajat Celsius untuk pertama kalinya dalam pencatatan sejarah.
“Meski sebagian besar model memprediksi anomali suhu bulanan global akan tetap di bawah 2 derajat Celsius, fakta bahwa ada kemungkinan lebih dari nol persen untuk mencapai angka itu sudah mengejutkan,” jelas peneliti dari Union of Concerned Scientist, Marc Alessi, dikutip dari The Guardian.
Para ilmuwan memberi tahu kami bahwa ini bisa menjadi El Nino terkuat sejauh ini di abad ini. “Para ilmuwan memberi tahu kami bahwa ini bisa menjadi El Nino terkuat sejauh ini di abad ini,” ujar petugas Met Office.
Perkiraan ini menegaskan bahwa El Nino ‘super’ tahun ini dapat memicu lonjakan suhu global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dampak potensialnya meliputi kekeringan, gelombang panas, curah hujan ekstrem, serta perubahan pola badai yang signifikan. Seiring dengan pemanasan global yang terus berlanjut, risiko melampaui ambang kritis 1,5 derajat Celsius semakin nyata. Para ilmuwan menekankan pentingnya pemantauan terus menerus dan persiapan mitigasi untuk menghadapi kemungkinan konsekuensi yang luas dan beragam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
