Enam Raksasa Es Krim Jepang Diduga Kartel Harga

Sinta R. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Enam Raksasa Es Krim Jepang Diduga Kartel Harga

Gambar atau konten salah?

Enam perusahaan es krim terbesar di Jepang sedang dalam penyelidikan. Mereka dituduh bekerja sama untuk mengatur harga jual. Tujuannya? Agar konsumen tidak bisa mendapatkan es krim dengan harga yang wajar.

Komisi Perdagangan Adil Jepang memulai penyelidikan pada 16 Juni 2025. Mereka langsung mendatangi fasilitas enam perusahaan besar. Perusahaan-perusahaan itu adalah Meiji, Lotte, Morinaga Seika, Morinaga Nyugyo, Ezaki Glico, dan Akagi Nyugyo.

Keenam perusahaan ini bukan sekadar produsen kecil. Mereka adalah pemain utama di industri es krim Jepang. Mereka juga bertindak sebagai distributor. Pasokan mereka mengalir ke jaringan supermarket besar dan toko serba ada.

Yang membuat situasi ini menarik: perusahaan-perusahaan ini seharusnya saling bersaing. Morinaga Seika memang punya sekitar 10 persen saham di Morinaga Nyugyo. Tapi selain itu, mereka adalah entitas yang terpisah. Bukan satu grup.

Komisi Perdagangan Adil punya bukti awal. Mereka meyakini para eksekutif dari keenam perusahaan ini saling bertukar informasi. Pertukaran itu terjadi lewat pertemuan tatap muka. Juga lewat email. Isinya? Mereka saling memberi tahu soal rencana kenaikan harga masing-masing.

Dengan cara ini, mereka bisa mengatur harga pasar es krim secara kolektif. Dugaan Komisi Perdagangan Adil: praktik ini sudah berlangsung selama beberapa tahun.

Di Jepang, harga eceran yang disarankan produsen atau MSRP (Manufacturer's Suggested Retail Price) punya kekuatan besar. Pengecer biasanya sangat serius mengikuti harga ini. Memang kadang ada diskon atau obral. Tapi secara umum, toko-toko menjual makanan ringan sesuai patokan harga dari produsen.

Karena enam perusahaan ini juga pemasok, posisi mereka kuat. Mereka bisa menekan toko untuk menjual produk sesuai MSRP. Jika mereka berkolaborasi menaikkan harga secara bersamaan, satu perusahaan tidak akan kehilangan penjualan. Kenaikan harga akan terlihat seperti evolusi pasar yang tak terhindarkan.

Ini berbeda dengan situasi persaingan normal. Bayangkan Lotte menaikkan harga es krimnya 30 yen. Penjualan mereka tidak turun. Meiji kemudian melihat pelanggan masih mau membayar lebih. Meiji pun ikut menaikkan harga. Ini legal. Ini reaksi pasar biasa.

Tapi jika perusahaan-perusahaan yang bersaing justru bertukar informasi untuk membuat rencana bersama, itu lain cerita. Itu melanggar undang-undang antimonopoli Jepang. Penyelidikan saat ini fokus pada mencari bukti adanya perencanaan sebelumnya.

Ada satu faktor yang membuat situasi ini abu-abu. Perusahaan Jepang sering mengumumkan perubahan harga eceran yang disarankan secara publik. Pengumuman dilakukan sebelum perubahan harga berlaku. Alasannya? Agar konsumen bisa bersiap. Tapi ini juga menciptakan celah.

Dengan pengumuman publik, perusahaan lain punya waktu untuk menyesuaikan harga mereka ke atas. Mereka bisa melakukan perubahan pada waktu yang hampir bersamaan. Dengan begitu, mereka bisa menyangkal terlibat dalam penetapan harga bersama.

Investigasi ini terjadi di tengah iklim kenaikan harga di Jepang. Banyak perusahaan menaikkan harga. Alasannya klasik: biaya bahan baku naik. Gangguan pengiriman karena konflik internasional. Nilai yen yang tertekan.

Tapi industri es krim Jepang tidak sedang kekurangan pendapatan. Asosiasi Es Krim Jepang mencatat data menarik. Tahun 2025 adalah tahun keenam berturut-turut nilai pengiriman es krim mencapai rekor tertinggi. Asosiasi ini anggotanya adalah enam perusahaan yang sedang diselidiki.

Total nilai pengiriman tahun 2025 mencapai 663,1 miliar yen. Dalam rupiah, angka itu sekitar Rp 73 triliun. Kenaikannya lebih dari 40 persen dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Ini terjadi meskipun populasi Jepang terus menyusut.

Intinya, enam perusahaan besar ini sedang diperiksa karena dugaan kartel harga. Mereka diduga bekerja sama, bukan bersaing, untuk menentukan harga es krim. Jika terbukti, konsumen selama ini membayar lebih dari yang seharusnya.

kartel hargaes krimJepangpenyelidikanpersaingan usahaharga jualkomisi perdagangan

Komentar

Memuat komentar...