Galangan Kapal Majapahit Ditemukan di Rembang

Putri N. · 20 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Galangan Kapal Majapahit Ditemukan di Rembang

Gambar atau konten salah?

Di muara Sungai Dasun, perahu-perahu nelayan bersandar tenang. Hutan mangrove yang rimbun mengelilinginya. Pemandangan ini terlihat damai, seperti lukisan pesisir biasa. Tapi di balik ketenangan itu, kawasan ini menyimpan cerita besar. Dulu, tempat ini adalah salah satu pintu masuk utama perdagangan laut Nusantara.

Muara Sungai Dasun berada di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Berabad-abad lalu, sungai ini menjadi jalur keluar-masuk kapal dagang dari berbagai penjuru dunia. Rempah-rempah, hasil bumi, dan berbagai komoditas diperdagangkan di sini. Sungai ini juga menjadi jalur utama pergerakan manusia sebelum Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels dibangun.

Seorang sejarawan muda asal Lasem, Exsan Ali Setyonugroho, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Dasun, menjelaskan bahwa Sungai Dasun atau Sungai Lasem adalah sungai terpanjang dan terbesar di Kabupaten Rembang. Sungai ini melintasi beberapa wilayah sebelum akhirnya bermuara di Desa Dasun dan Gedongmulyo.

"Secara historis sungai ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Lasem. Sebelum ada Jalan Raya Pos, mobilitas barang maupun manusia dilakukan lewat laut. Sungai Dasun menjadi salah satu titik penting Jalur Rempah," kata Exsan pada Jumat, 10 Juli 2026.

Menurut Exsan, kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai. Kota ini menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Tidak hanya sebagai pelabuhan dagang, kawasan Dasun juga menyimpan sejarah industri maritim Nusantara. Di desa ini pernah berdiri Galangan Kapal Dasun. Galangan ini sudah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit.

Dalam bukunya yang berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujar Exsan.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Desa Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini, di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Exsan Ali Setyonugroho, sejarawan muda asal Lasem yang juga Sekretaris Desa Dasun, mengatakan Sungai Dasun atau Sungai Lasem merupakan sungai terpanjang sekaligus terbesar di Kabupaten Rembang. Sungai itu melintasi sejumlah wilayah sebelum bermuara di Desa Dasun dan Gedongmulyo.

"Secara historis sungai ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Lasem. Sebelum ada Jalan Raya Pos, mobilitas barang maupun manusia dilakukan lewat laut. Sungai Dasun menjadi salah satu titik penting Jalur Rempah," kata Exsan pada Jumat, 10 Juli 2026.

Kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai. Kota ini menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Tidak hanya menjadi pelabuhan dagang, kawasan Dasun juga menyimpan sejarah industri maritim Nusantara. Di desa ini pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit.

Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa ini terletak di sebelah utara Kota Lasem. Memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan Ali Setyonugroho, sejarawan muda asal Lasem yang juga Sekretaris Desa Dasun, mengatakan Sungai Dasun atau Sungai Lasem merupakan sungai terpanjang sekaligus terbesar di Kabupaten Rembang. Sungai itu melintasi sejumlah wilayah sebelum bermuara di Desa Dasun dan Gedongmulyo.

"Secara historis sungai ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Lasem. Sebelum ada Jalan Raya Pos, mobilitas barang maupun manusia dilakukan lewat laut. Sungai Dasun menjadi salah satu titik penting Jalur Rempah," kata Exsan pada Jumat, 10 Juli 2026.

Menurutnya, kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Tidak hanya menjadi pelabuhan dagang, kawasan Dasun juga menyimpan sejarah industri maritim Nusantara. Di desa ini pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit.

Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut pada masa Kesultanan Demak ketika armada laut kerajaan berkembang pesat.

"Kapal-kapal yang dibuat di Dasun digunakan untuk kapal nelayan, kapal dagang pantai hingga kapal dagang samudera," ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Galangan Kapal Dasun justru berkembang lebih besar. Exsan menyebut sedikitnya 44 ribu pekerja pernah terlibat dalam aktivitas galangan tersebut. Jepang memanfaatkan Dasun sebagai pusat produksi kapal untuk mendukung distribusi logistik Perang Pasifik.

"Berdasarkan catatan Jepang, dalam satu tahun galangan ini mampu memproduksi sekitar 300 kapal," jelasnya.

Namun kejayaan itu berakhir setelah Indonesia merdeka. Saat Agresi Militer Belanda, galangan kapal dibakar agar tidak kembali dikuasai penjajah. Sejak saat itu aktivitas pembuatan kapal di Dasun berhenti dan tidak pernah beroperasi lagi.

Meski demikian, jejak sejarahnya masih tersimpan. Pemerintah Desa Dasun mendata sedikitnya 11 titik yang diduga menjadi lokasi bangkai kapal di dasar Sungai Dasun.

Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengatakan seluruh lokasi tersebut telah dipetakan dan dilengkapi kode QR agar masyarakat dapat mengakses informasi sejarah secara digital.

"Terkait Galangan Kapal Dasun sudah kami lakukan pendataan. Ada 11 titik koordinat yang ditengarai sebagai lokasi bangkai kapal. Semuanya sudah diberi penanda lengkap dengan QR Code yang bisa dipindai," tutur Sujarwo.

Dasun sendiri pernah masuk dalam lima desa penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2024 oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kini di balik tenangnya muara Sungai Dasun dan aktivitas nelayan yang masih berlangsung setiap hari, tersimpan kisah panjang tentang pelabuhan, galangan kapal, serta peran Lasem sebagai salah satu gerbang peradaban maritim Nusantara.

Desa Dasun terletak di sebelah utara Kota Lasem. Tempat ini memiliki potensi wisata sejarah dan bahari yang cukup menarik. Misalnya, peninggalan dok kapal era Majapahit, susur Sungai Dasun dan Wisata Pantai Dasun.

Exsan menjelaskan bahwa kapal-kapal dagang dari berbagai daerah hingga mancanegara pernah hilir mudik melalui sungai tersebut. Lasem pun berkembang sebagai bandar dagang yang ramai karena menjadi simpul perdagangan rempah di pesisir utara Jawa.

Di Desa Dasun, pernah berdiri Galangan Kapal Dasun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Dalam bukunya berjudul Dasun: Jejak Langkah dan Visi Kemajuannya, Exsan mengutip penelitian yang menyebut galangan kapal tersebut telah memproduksi kapal-kapal untuk armada laut Majapahit. Tradisi itu berlanjut

Sungai DasunGalangan KapalLasemJalur RempahMaritim NusantaraDesa DasunPerdagangan Rempah

Komentar

Memuat komentar...