Ganesha Rahman, Mahasiswa ITB, Raih Juara Mapres 2026

Rudi H. · 5 min baca · 2 bulan lalu · 72 dibaca
Bisik.id
Ganesha Rahman, Mahasiswa ITB, Raih Juara Mapres 2026

Gambar atau konten salah?

Ganesha Rahman Liswantoro, mahasiswa Program Studi Teknik Fisika di Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung, baru saja dinobatkan sebagai Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mapres) ITB 2026. Ia mendapat pengakuan ini setelah dipilih oleh jurusan untuk mengikuti ajang Mapres, meski awalnya ia tidak mengharapkannya.

“Waktu itu dipilih oleh jurusan untuk maju. Tapi saya nggak pernah ngebayangkan dapat Mapres. Itu suatu hal yang sebetulnya diluar rencana juga dan saya nggak expect, soalnya saya kira ada teman saya yang bakal dapat,” ujar Ganesha pada saat kami berbincang. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini datang secara tak terduga, bahkan ia tidak pernah memikirkan diri akan menjadi juara.

Ganesha menjelaskan kunci kesuksesannya menjadi Mapres. Ia mengungkapkan bahwa Mapres menilai mahasiswa melalui tujuh bidang capaian unggulan: kompetisi, pengakuan, karier organisasi, karya cipta, wirausaha, dan dua bidang lain yang tidak disebutkan secara spesifik. Ia menilai dirinya sebagai “orang yang tipenya lebih ke menyeluruh.”

“Jadi dari 7 bidang itu, aku tuh emang orang yang tipenya lebih ke menyeluruh. Jadi bukan cuma fokus di bidang kompetisi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa meski hanya memenangkan tiga lomba kompetisi, ia memiliki lebih dari tiga puluh prestasi jika dilihat dari semua bidang tersebut.

Selain prestasi kompetisi, Ganesha juga menekankan pentingnya meta‑learning, yaitu belajar cara belajar. Ia mengakui bahwa banyak orang tidak menginvestasikan waktu untuk mempelajari metode belajar yang efektif. “Menurut saya hal yang harus dipelajarin itu namanya meta‑learning. Yakni harus bisa belajar cara belajar,” katanya. Ia mulai menerapkan kebiasaan ini sejak menunggu kelulusan SNBP ITB, ketika ia berada di antara libur SMA dan kuliah.

“Jadi saya mulai banyak belajar tentang hal itu sebenarnya waktu awal masuk kuliah. Jadi antara libur SMA dengan kuliah, saya merasakan kayak, oh saya kuliah nanti harus serius nih, harus bisa lebih fokus lagi. Maksudnya belajar ya udah belajar, tapi nggak terlalu yang gimana‑gimana. Jadi saya rasa di kuliah harus beneran fokus,” tambahnya.

Ketika ditanya apakah ia puas menjadi Mapres, Ganesha menegaskan bahwa Mapres bukanlah tujuan utamanya. Ia menekankan bahwa ia memiliki target lain dan bahkan tidak pernah bermimpi menjadi Mapres. “Tentunya masih ada target. Jadi dengan Mapres, ini sebenarnya bukan tujuan saya, jadi saya nggak pernah taruh target untuk Mapres,” ujarnya. Ia masih aktif mengikuti kompetisi, mengembangkan startup, dan menjabat ketua organisasi di Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik (HMFT) ITB serta Techno Entrepreneur Club (TEC) ITB.

Ganesha lahir dan tumbuh di keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas. Ia menempuh pendidikan di sekolah unggulan di Jakarta dan memiliki minat yang luas, tidak hanya akademik tetapi juga nonakademik. Ia menggambarkan dirinya sebagai “tipe orang yang jack of all trades.”

Selama masa sekolah, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Fisika, kompetisi debat bahasa Inggris, dan lomba musik internasional. Kegiatan tersebut menumbuhkan karakter yang tidak hanya unggul di satu bidang, tetapi berkembang secara menyeluruh.

Di bangku kuliah, prestasinya semakin meluas. Ia meraih Juara 1 International Paper Competition “Youth Innovation Competition 2024,” Juara 1 Business Case Competition “Marine Icon 2024,” serta Juara 1 Business Plan Competition Youth Entrepreneur Project (YEP) 2025. Pada ajang yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Best Feasible Project dan Best Presentation.

Ia juga menerima Hibah Startup Mahasiswa dalam Program Mahasiswa Wirausaha 2025 serta beasiswa SOBAT BUMI dari Pertamina. Prestasi ini mencerminkan pengembangan diri yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga inovasi dan kewirausahaan.

Di bidang penelitian, Ganesha meneliti sistem pendinginan baterai kendaraan listrik. Penelitiannya berkembang menjadi publikasi ilmiah dan ia menjadi first author dalam paper berjudul “Alternative Liquid Cooling Agents for Optimization of Electric Vehicle Battery Thermal Management System: A Comprehensive Review.” Paper tersebut dipresentasikan pada Konferensi TIME‑E 2025 dan dipublikasikan dalam jurnal IEEE. Ia menjadi satu-satunya mahasiswa sarjana yang tampil di forum tersebut.

“Awalnya minder, tapi itu menjadi motivasi untuk terus berkembang,” ujarnya. Ia juga terlibat dalam penelitian inovatif seperti pengembangan teknologi fog capture, yang bertujuan mengubah kabut menjadi air layak minum, serta proyek stabilisasi drone berbasis computer vision untuk logistik kendaraan bergerak.

Ganesha aktif di HMFT ITB dan TEC ITB. Ia menekankan pentingnya metode belajar yang efektif. Ia melakukan riset mandiri untuk menemukan cara belajar optimal, termasuk memanfaatkan kondisi flow state agar dapat meningkatkan fokus dan produktivitas. Menurutnya, waktu belajar tidak harus panjang, tetapi harus efisien. Ia mencontohkan bahwa belajar yang awalnya butuh waktu empat jam bisa menjadi satu jam.

“Flow state itu suatu keadaan ketika kamu benar-benar fokus dalam suatu pekerjaan. Berdasarkan riset, itu bisa membuat kerja otak jauh lebih optimal,” jelasnya. Ia juga menerapkan prinsip Pareto (80/20), memprioritaskan aktivitas yang memberikan dampak terbesar dengan usaha lebih efisien. Ia menjaga keseimbangan dengan tetap memperhatikan waktu istirahat guna menghindari kelelahan (burnout). “Untuk tidur aku usahakan 8 jam, karena itu non‑negotiable,” tambahnya.

Sejak masuk ITB, Ganesha pernah mengalami titik terendah. Ia gagal melanjutkan studi ke luar negeri dan merasa usahanya tidak membuahkan hasil. Namun, hal itu menjadi titik perubahan. Ia mulai mengevaluasi metode belajar dan fokus pada hal-hal yang dapat dikontrol. “Kegagalan itu bukan kebalikan dari sukses, tapi bagian dari sukses,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa faktor penting. “Sukses itu sama dengan kerja keras × metode × opportunity,” katanya. Ia menyoroti bahwa banyak orang hanya berfokus pada kerja keras dan keberuntungan, tanpa memperhatikan metode yang digunakan. Padahal, metode yang tepat menjadi kunci agar usaha yang dilakukan dapat memberikan hasil maksimal.

Dalam hidupnya, Ganesha berprinsip untuk tidak hanya mengejar kebahagiaan pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi orang lain. Ia bercita‑cita menjadi engineer di bidang instrumentasi dan kontrol, baik di industri maupun robotika. Ke depannya, ia berencana fokus ke industri terlebih dahulu sebelum melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Ganesha mengajak mahasiswa ITB untuk tidak takut mencoba dan gagal. “Kalau kamu sedang berusaha, kamu pasti akan gagal. Tapi jangan berhenti. Terus jalan dan pastikan kamu menggunakan metode yang benar,” pungkasnya.

Ganesha Rahman Liswantoro menunjukkan bahwa pencapaian besar tidak selalu datang dari satu bidang saja. Ia menekankan pentingnya belajar cara belajar, menjaga keseimbangan, dan tetap fokus pada tujuan yang lebih luas. Prestasinya di berbagai kompetisi, penelitian, dan kewirausahaan memperlihatkan bahwa kesuksesan dapat diraih melalui kombinasi kerja keras, metode yang tepat, dan peluang yang dimanfaatkan dengan bijak.

Mapres ITB 2026meta‑learningkompetisikewirausahaansistem pendinginan baterai kendaraan listrikflow state

Komentar

Memuat komentar...