Gempa M6,7 Palu 16 Juni: Satu Jiwa Mati, 1.254 Rumah Rusak
Gambar atau konten salah?
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 terjadi di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada 16 Juni 2026 pukul 11.27 Wita. Epicenter berada di koordinat 1,03° LS dan 120,24° BT, 42 km tenggara Palu, dengan kedalaman 10 km. Analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini bergerak turun (normal fault). BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Menurut Kepala BMKG Wijayanto, gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar Sausu. “Jadi gempa ini akibat aktivitas sesar aktif Sausu di Sulawesi Tengah. Jadi ini bukan segmen Palu Koro seperti gempa di 2018,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Sulawesi Tengah memiliki banyak sesar aktif, termasuk Sausu, Palu Koro, dan Ampana. “Sesar‑sesar aktif ini biasanya tidak memicu aktivitas sesar di sekitarnya. Jadi misalkan nanti memicu sesar di sekitarnya, bukan berarti nanti akan memicu gempa yang lebih besar,” tuturnya.
Gempa ini menewaskan satu warga di Kabupaten Sigi. 1 jiwa meninggal dunia karena serangan jantung di Sigi, menurut kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulteng, Andi Sembiring. Ia menegaskan bahwa Kabupaten Sigi merupakan salah satu wilayah paling terdampak, dengan 1,254 rumah rusak dan 76 warga luka-luka.
Jumlah luka-luka tercatat 76 jiwa, terdiri dari 73 luka ringan dan 3 luka berat. Luka berat terkait tulang atau runtuhan bangunan. Korban luka tersebar di Palu, Sigi, Parigi Moutong, dan Poso. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa 1,834 kepala keluarga atau sekitar 5,784 jiwa terdampak gempa.
Kerusakan rumah paling banyak terjadi di Sigi, dengan 1,214 unit rumah rusak. Di sana, 1,074 rumah rusak ringan, 110 rumah rusak sedang, dan 30 rumah rusak berat. Di Palu, 20 rumah rusak; di Poso, 5 rumah rusak; dan di Parigi Moutong, 15 rumah rusak. Proses pendataan masih berlangsung, namun BNPB berjanji akan mendukung perbaikan rumah rusak.
Di wilayah Sulawesi Barat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sulbar di Kabupaten Mamuju harus evakuasi pasien ke tenda darurat di luar gedung. Beberapa pengunjung rumah sakit menunggu di teras masjid. Ani, salah satu keluarga pasien, mengaku gempa membuat pasien panik. “Masih was‑was, tadi kaget ki semua pas gempa,” kata Ani.
Warga di Palu dan sekitarnya pun berhamburan keluar rumah. Banyak yang tidur di teras atau halaman rumah karena takut gempa susulan. Fatir, warga Kecamatan Tatanga, berkata, “Masih takut masuk rumah. Tadi siang gempanya kuat. Siapa tahu masih ada susulan lagi, lebih baik kita tidur di luar dulu.” Burhanuddin menambahkan, “Tadi lihat berita ada sudah 70 lebih kali gempa. Kita masih takut, makanya malam ini istirahat di luar saja.”
Jembatan III Palu sempat ditutup setelah mengalami retak. Setelah pemeriksaan, jembatan dibuka terbatas pada 17 Juni 2026, hanya mengizinkan kendaraan roda dua dan roda empat. Kepala Dinas Perhubungan Kota Palu, Trisno Yunianto, menjelaskan bahwa kendaraan roda enam ke atas dialihkan ke jalur lain. Pemerintah Kota Palu masih mengevaluasi kondisi jembatan.
Gempa juga memicu longsor di Poso dan Sigi. Longsor tersebut menghalangi sumber air bersih warga. Gubernur Sulteng, Anwar Hafid, meninjau lokasi terdampak pada 17 Juni 2026 dan mendengar kebutuhan utama warga: tenda, air minum bersih, obat-obatan, dan selimut untuk anak-anak.
Sebagai respons, Pemerintah Kota Palu menutup sekolah SD dan SMP selama tiga hari, mulai 17 Juni 2026 hingga 19 Juni 2026. Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, menyatakan bahwa pembelajaran akan dilakukan secara daring. Ia menekankan pentingnya rasa aman bagi para siswa dan mengajak masyarakat tetap tenang.
Auditorium Universitas Tadulako juga mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.
- Gempa Palu Dipicu Aktivitas Sesar Sausu
- Pasien RSUD Sulbar Sempat Dievakuasi
- Warga Terpaksa Bertahan di Luar Rumah
- Jembatan Palu III Sempat Ditutup Usai Retak
- 76 Warga Luka-luka Akibat Gempa
- 1.254 Rumah Rusak Didominasi di Sigi
- Gempa M 6,7 Picu Longsor di Sigi-Poso
- Siswa SD-SMP Belajar Daring Usai Gempa
- Gempa M 6,7 Meninggalkan Korban Jiwa
Gempa bumi ini menegaskan bahwa wilayah Sulawesi Tengah, khususnya Palu dan Kabupaten Sigi, sangat rentan terhadap aktivitas sesar. Dampak fisik, sosial, dan ekonomi terasa luas, dari kerusakan rumah hingga gangguan pasokan air. Respons cepat dari BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam mengurangi risiko dan membantu pemulihan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
18 Juni: Ujaran Kebencian, Sushi, Gastronomi Berkelanjutan
18 Juni 2026: 3 Muharram 1448 H di antara Dzulhijjah 1447 H
Puasa Asyura: Niat, Tata Cara, Tingkatan Lengkap 10 Muharram
Rapor Semester Genap: Catatan Wali Kelas Siswa Berkembang
Puasa Asyura 2026: Jadwal Berbeda Pemerintah Muhammadiyah NU
Tasu'a & Asyura 2026: Jadwal Puasa di Indonesia & NU
Berita Terbaru
Gempa M6,7 Palu 16 Juni: Satu Jiwa Mati, 1.254 Rumah Rusak
SPMB 2026 Sumatera Selatan Resmi Dibuka, Gelombang Pertama
Harga Minyak Dunia Turun, BBM Non‑Subsidinya Berkurang
SPMB 2026: Panduan Lengkap Pendaftaran dan Jalur Masuk
Minuman Sehat Tunjang Pengelolaan Berat Badan Seimbang
Ghana dan Panama Akhiri Pertandingan Grup L 0-0 di Toronto
18 Juni: Ujaran Kebencian, Sushi, Gastronomi Berkelanjutan
Perlinsos AI Dijadwalkan Diluncurkan Nasional Oktober 2026