Serangan AS-Iran Kembali Picu Harga Minyak Melonjak
Gambar atau konten salah?
Harga minyak mentah dunia kembali melonjak tajam. Penyebabnya adalah serangan militer baru yang dilancarkan Amerika Serikat ke Iran. Kenaikan harga terjadi setelah pasar tutup pada Rabu, 08 Juli 2026.
Berdasarkan data yang dikutip, harga minyak mentah jenis Brent tercatat di angka US$ 79,28 per barel. Angka ini naik dari harga penutupan sesi sebelumnya yang sudah melonjak 5% ke level US$ 78,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan di harga US$ 74,76 per barel. Harga ini juga menguat dari penutupan sesi sebelumnya yang berada di level US$ 73,52 per barel.
Lonjakan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump. Ia mengancam akan melancarkan serangan baru ke Iran. Trump juga menegaskan bahwa kesepakatan sementara untuk menghentikan perang dengan Iran sudah resmi batal. Meski begitu, ia memastikan tidak akan terjadi perang skala penuh.
Komando Pusat militer AS menyatakan serangan baru ini bertujuan untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas kapal internasional. Seorang pejabat AS membocorkan bahwa intensitas serangan kali ini diprediksi akan lebih masif dibandingkan serangan pada Selasa lalu.
Ledakan terjadi di sejumlah titik strategis. Beberapa di antaranya adalah Bandar Abbas, Abu Musa, dan Bushehr. Serangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari meningkatnya ketegangan akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Menanggapi situasi ini, AS telah mencabut keringanan sanksi penjualan minyak Iran. Keringanan itu sebelumnya disepakati dalam perjanjian sementara bulan lalu. Namun, pada Rabu, Iran mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Klaim ini kemudian memicu serangan balasan dari AS.
Sebelum perang kembali pecah, seperlima dari total pasokan minyak global melintasi Selat Hormuz. Kendali Iran atas jalur vital ini telah menjadi senjata utama mereka dalam konflik yang dimulai sejak 28 Februari lalu.
Otoritas maritim telah menaikkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut ke level parah. Keputusan ini diambil menyusul serangan terhadap dua kapal tanker pada hari Selasa.
Ketegangan ini memuncak setelah Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz. Sebagai respons, AS langsung mencabut keringanan sanksi penjualan minyak Iran yang baru saja disepakati bulan lalu. Iran pun membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait, yang akhirnya dibalas kembali oleh AS.
Konflik antara kedua negara ini kembali memanas setelah periode gencatan senjata singkat. Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit utama minyak dunia, kembali menjadi pusat ketegangan. Serangan terhadap kapal tanker dan pangkalan militer menunjukkan eskalasi yang serius, meskipun kedua pihak mengklaim tidak menginginkan perang skala penuh.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Sertifikat Mobil di Singapura Tembus Rp1,8 Miliar
Ojol Resmi Jadi Pelaku Usaha Mikro
Pertamina Berdayakan Perajin Difabel di Kampung Rajut
Pertamina dan Boeing Jajaki Produksi Bahan Bakar Ramah Lingkungan
Petugas Gerebek Rumah Eks Pejabat, Uang Rp 360 Miliar di Galon Air
Usulan Said Iqbal: Pajak JHT Dihapus
Berita Terbaru
Sertifikat Mobil di Singapura Tembus Rp1,8 Miliar
Ridwan Kamil Ajukan Adopsi Arkana Pasca Cerai
Camat Boyolali Kirim Video Porno Hanya Ditegur
Swiss Akhiri Kutukan Adu Penalti, Lolos ke Perempatfinal
Rahasia Scrambled Egg Super Lembut Tanpa Susu dari Chef
Bocoran Samsung Galaxy A18 Muncul, Desain Kamera Lebih Rata
Enola Holmes 3 Langsung Puncaki Netflix Global