Gen Z Resmi Duduk di Dewan Transportasi Jakarta
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Seorang perempuan berusia 25 tahun, Jessica Shally Anisa, resmi dilantik sebagai anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) untuk periode 2026-2029. Pelantikan itu berlangsung pada Jumat, 03 Juli 2026. Ia menjadi satu-satunya perwakilan Generasi Z di antara 17 anggota DTKJ yang baru.
Usianya memang masih muda. Tapi Jessica datang dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman riset yang relevan. DTKJ sendiri merupakan lembaga mitra strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tugasnya adalah memberi masukan, rekomendasi, dan solusi untuk berbagai masalah transportasi di ibu kota.
Jessica menyandang gelar Bachelor of Engineering dari Kırklareli Üniversitesi di Turki. Ia mengambil fokus di bidang Urban and Regional Planning. Sebelum bergabung dengan DTKJ, ia terlibat dalam riset proyeksi jumlah penumpang LRT Jakarta. Ia juga aktif mengikuti berbagai diskusi tentang transportasi.
Ingin Kebijakan Berbasis Data dan Kondisi Nyata
Jessica ditempatkan di Komisi Hukum dan Humas DTKJ. Ia berharap rekomendasi kebijakan yang dikeluarkan DTKJ ke depan bisa semakin berbasis data. Ia juga ingin rekomendasi itu responsif terhadap kondisi di lapangan dan terbuka pada perkembangan teknologi. Menurutnya, data adalah dasar penting dalam perencanaan transportasi modern. Data dipakai untuk membaca pola perjalanan, kebutuhan pengguna, kapasitas layanan, dan potensi integrasi antar moda transportasi.
"Ke depannya, kebijakan transportasi Jakarta perlu semakin adaptif terhadap berbagai macam teknologi. Beberapa hal yang dapat diperkuat, antara lain integrasi data perjalanan, sistem informasi real-time, pembayaran yang lebih mudah, perencanaan rute berbasis pola mobilitas warga, serta pengembangan armada yang lebih ramah lingkungan, termasuk elektrifikasi kendaraan umum," ucapnya pada Kamis, 09 Juli 2026.
Dorong Peralihan dari Kendaraan Pribadi
Ia menambahkan, teknologi harus ditempatkan sebagai alat untuk menjawab kebutuhan pengguna dari generasi muda. Anak muda, kata Jessica, membutuhkan layanan transportasi yang cepat, transparan, mudah diakses, aman, dan terintegrasi secara digital.
Jessica juga mengatakan transportasi publik perlu diarahkan untuk mendukung pengurangan emisi dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Hal ini sejalan dengan anak muda yang kini semakin peduli pada isu lingkungan. Strategi ini, menurutnya, bisa mendukung pembangunan kota yang lebih berkelanjutan.
"Hal ini mungkin sejalan dengan tugas besar untuk mendorong lebih banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum itu sendiri. Semakin kuat kualitas layanan transportasi publik, semakin besar peluang masyarakat untuk menjadikan pilihan utama dalam mobilitas sehari-hari," ucapnya.
Gen Z Bukan Sekadar Pengguna Transportasi Umum
Jessica menekankan, anak muda jangan hanya menempatkan diri sebagai pengguna transportasi publik. Ia menjelaskan, anak muda juga bisa menjadi bagian dari pembentuk ekosistem transportasi Jakarta. Peran ini bisa dimulai dari hal sederhana. Misalnya, menggunakan transportasi umum, menjaga fasilitas umum, membangun budaya ketertiban, memberi masukan yang membangun, dan ikut menyebarkan informasi yang benar tentang layanan transportasi.
Ia menambahkan, pilihan mobilitas anak muda punya dampak. Semakin banyak anak muda memilih transportasi umum, maka semakin besar keterlibatan mereka dalam mengurangi kemacetan, menekan polusi, dan membangun budaya mobilitas yang lebih bertanggung jawab.
"Anak muda juga punya ruang besar untuk terlibat melalui riset, diskusi publik, komunitas, inovasi digital, dan advokasi kebijakan. Dan kota yang lebih baik membutuhkan suara dari generasi yang akan merasakan dampaknya paling lama ke depan, yaitu anak muda itu sendiri. Naik transportasi umum adalah bagian dari cara kita sebagai anak muda untuk membentuk Jakarta yang lebih nyaman, lebih sehat, dan lebih manusiawi," ujarnya.
Gen Z di Dewan Transportasi Kota Jakarta
Jessica terpilih di antara para praktisi dan ahli transportasi yang menjadi anggota DTKJ. Mewakili anak muda, ia berusaha membangun kredibilitas melalui kesiapan belajar, kerja berbasis data, dan kontribusi yang relevan.
Ia mengakui, figur-figur terpilih lainnya sudah lebih dulu berkecimpung di dunia transportasi. Mereka punya pengalaman teknis, kelembagaan, dan historis yang berharga. Sementara itu, Jessica membawa perspektif pengguna muda dan cara pandang generasi yang akan merasakan dampak jangka panjang dari kebijakan transportasi hari ini.
"Perspektif Gen Z perlu dilihat sebagai cara membaca kebutuhan, pengguna masa kini dan masa depan. Generasi muda adalah pengguna aktif transportasi publik, terbiasa dengan teknologi, cepat merespon perubahan, dan memiliki perhatian besar terhadap isu keberlanjutan, aksesibilitas, dan kualitas layanan," ucapnya.
"Dan perpaduan pengalaman dan perspektif baru dapat membuat rekomendasi DTKJ menjadi lebih utuh," tuturnya.
Berdasarkan pengalamannya di bidang riset dan diskusi transportasi, Jessica melihat ada tantangan besar dalam koordinasi antarpihak. Apalagi, transportasi kota melibatkan banyak instansi, operator wilayah, dan kepentingan publik. Karena itu, sinkronisasi data, komunikasi yang jelas, dan kemauan bekerja lintas sektor menjadi sangat penting. Tujuannya agar kebijakan tidak berhenti sebagai wacana dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia menambahkan, sikap rendah hati dan kolaboratif penting untuk bisa bekerja sama dengan orang-orang lintas usia dan pengalaman.
"Bagi saya, amanah ini merupakan kesempatan untuk membawa perspektif generasi muda dalam menjawab tantangan transportasi Jakarta. Saya juga percaya kontribusi tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap masukan, dan mampu bekerja sama dengan berbagai pihak," ucapnya.
"Dan menurut saya sendiri, cara terbaik agar perspektif Gen Z diakui adalah dengan hadir secara konsisten dan menyampaikan pandangan secara terukur, lalu ada mendengarkan pengalaman pihak lain, dan yang terakhir menunjukkan bahwa suara anak muda dapat memberi nilai tambah dalam proses perumusan kebijakan transportasi," tutur Jessica.
Kehadiran Jessica di DTKJ menunjukkan bahwa generasi muda mulai dilibatkan dalam perumusan kebijakan publik, khususnya di bidang transportasi. Dengan latar belakang pendidikan dan riset yang dimilikinya, ia berharap bisa menjembatani kebutuhan pengguna muda dengan kebijakan yang lebih responsif dan berbasis data.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Anak Tukang Bengkel Berhasil Kuliah Gratis di UGM, Ini Kisahnya
Gen Z Pertama Masuk DTKJ, Jessica Shally Anisa
UNJ Buka Pendaftaran Pindahan 2026, Hanya 8 Prodi
Siswa MTsN 1 Pati Borong Prestasi di Liburan Sekolah
ITB-IPB Ciptakan Rumpon Portabel untuk Nelayan
Kelas Bisnis Pemula 16 Juli: Mulai dari Nol
Berita Terbaru
Gen Z Resmi Duduk di Dewan Transportasi Jakarta
Empat Daerah di Sumsel Masuk Zona Merah Karhutla
Sule Anggap Nathalie dan Ibu Penonton Sama-Sama Salah
Gempa 4,7 Guncang Majene, ASN Polman Lari
80 Siswa Bandung Didiskualifikasi dari SPMB karena Dokumen Palsu
Nelayan Lamongan Tewas Mendadak saat Melaut di Perairan Masalembu
Buah Sarikaya Dinobatkan Sebagai Makanan Tersehat 2025
