Gunung Ciremai: Tower Air Jawa Barat dan Habitat Satwa Langka

Ika P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 118 dibaca
Bisik.id
Gunung Ciremai: Tower Air Jawa Barat dan Habitat Satwa Langka

Gambar atau konten salah?

Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat, bukan sekadar objek pendakian. Di balik puncaknya tersembunyi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) seluas 14.841,3 hektare yang menjadi sumber air bagi empat kabupaten: Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu.

Ketua Balai TNGC, Toni Anwar, menegaskan betapa pentingnya kawasan ini. “Taman Nasional Gunung Ciremai ini disebut Tower Air di Jawa Barat. Ada 97 titik mata air yang tidak pernah surut dan kualitasnya sangat murni hingga layak minum langsung dari sumbernya. Jika kondisi hutan berubah, maka masyarakat sekitar yang paling pertama terkena dampak krisis air,” ujarnya di forum Sinergi Perempuan Indonesia Untuk Indonesia FOLU NET SINK 2030 yang diselenggarakan di Kuningan pada 12 Mei 2026.

Sejak tahun 2004, ketika sebagian lahan TNGC sempat dibuka untuk pertanian sayur, pemerintah telah melakukan rehabilitasi yang konsisten. Kini, tutupan vegetasi hutan telah mencapai hampir 90 persen, menandai peningkatan signifikan dibandingkan masa lalu.

TNGC tidak hanya penting bagi hidrologi. Ia juga menjadi habitat utama bagi tiga spesies prioritas: Elang Jawa, Macan Tutul, dan Surili. Keberadaan satwa-satwa ini menjadi indikator kesehatan lingkungan di kawasan tersebut.

“Munculnya Macan Tutul di kamera pemantau atau perjumpaan dengan Surili menunjukkan habitat di sini masih terjaga. Kami menyebut mereka akamsi atau anak kampung sini, penghuni asli yang harus kita lindungi bersama habitatnya,” kata Toni, menegaskan perlunya perlindungan bersama.

Pengelolaan taman nasional ini berakar pada gerakan masyarakat. Warga setempat menjadi garda terdepan, menyadari hubungan timbal balik antara hutan yang lestari dan kemajuan ekonomi melalui pariwisata. “Hubungan timbal balik antara hutan yang lestari dengan kemajuan ekonomi melalui wisata yang menarik,” tambah Toni.

Dalam upaya tersebut, TNGC kini mengelola 30 Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) dengan melibatkan 54 desa penyangga, salah satunya Desa Cisantana di Kecamatan Cigugur. Banyak warga yang dulu bekerja sebagai penggarap lahan kini beralih menjadi pengelola wisata, sebagai bentuk pemberdayaan.

Forum Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia's FOLU Net Sink 2030 berlangsung dari 11 hingga 13 Mei 2026 di kawasan TNGC. Acara ini dihadiri perwakilan kehumasan kementerian/lembaga, lembaga konservasi swadaya masyarakat, serta pewarta nasional.

Gunung Ciremai terbuka bagi pendaki dengan enam jalur resmi: Apuy, Palutungan, Linggajati, Linggasana, Trisakti Sadarehe, dan Ciputri. Jalur Apuy di Majalengka dan Palutungan di Kuningan menjadi yang paling populer karena akses mudah dan fasilitas basecamp lengkap. Dari Jakarta, pendaki dapat menuju kawasan ini menggunakan kereta api, bus, travel, atau kendaraan pribadi melalui Tol Cipali. Waktu tempuh berkisar antara lima hingga tujuh jam.

Selain jalur pendakian, lereng Gunung Ciremai menawarkan berbagai destinasi wisata alam. Telaga Biru Cicerem menampilkan air jernih berwarna kebiruan, sedangkan Curug Putri Palutungan menawarkan suasana hutan asri. Bumi Perkemahan Palutungan sering menjadi lokasi camping dan titik awal pendakian. Pemandian Air Panas Sangkanhurip serta kawasan wisata alam di Desa Cisantana juga menjadi magnet bagi wisatawan.

Dengan kombinasi sumber air yang melimpah, habitat satwa langka, dan potensi pariwisata yang luas, TNGC menjadi contoh bagaimana pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi. Melalui kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor pariwisata, Gunung Ciremai terus berfungsi sebagai “tower air” bagi Jawa Barat, sekaligus tempat bagi generasi mendatang untuk belajar menghargai dan melindungi lingkungan.

Gunung CiremaiTaman Nasional Gunung CiremaiTower AirHabitat Satwa LangkaPariwisata AlamKonservasi HutanKomunitas Lokal

Komentar

Memuat komentar...