Hantavirus di Indonesia: 11,6% Terpapar, 23 Kasus 2023-2026

Teguh A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 445 dibaca
Bisik.id
Hantavirus di Indonesia: 11,6% Terpapar, 23 Kasus 2023-2026

Gambar atau konten salah?

Hantavirus kini menjadi ancaman kesehatan yang banyak dikhawatirkan di Indonesia. Virus ini berasal dari hewan pengerat dan sudah ditemukan di tanah air sejak lama.

Menurut laman Kementerian Kesehatan, penelitian menunjukkan bahwa hantavirus telah ada di Indonesia sejak tahun 1980‑an. Studi komprehensif di berbagai kota besar menemukan bahwa 11,6 persen orang di Indonesia pernah terpapar virus ini. Sekitar satu dari sepuluh orang yang terpapar sering tidak terdiagnosis.

Di antara hewan penyebar utama, populasi tikus, tingkat infeksi dapat mencapai antara 0‑34 persen. Angka ini menandakan virus beredar aktif di lingkungan, terutama di daerah dengan kepadatan rodensia tinggi.

Dalam tiga tahun terakhir, Kementerian Kesehatan melaporkan 23 kasus hantavirus dan tiga kematian di sembilan provinsi. Angka kematian tercatat mencapai 13 persen. Semua kasus yang terkonfirmasi di Indonesia berjenis Seoul virus, bukan Andes virus yang dapat menular antar manusia.

“Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus andes, yang antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan,” tutur Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman.

Kasus Seoul virus paling banyak teridentifikasi pada tahun 2025 dengan 17 kasus. Pada tahun 2024 hanya dilaporkan satu kasus, sedangkan pada tahun 2026, sejauh ini tercatat penambahan lima kasus.

Berikut rincian wilayah dengan kasus tertinggi:

Hantavirus menyebar melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel saliva, urine, atau feses tikus, kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, dan permukaan yang terkontaminasi. Menurut pedoman nasional, penularan terutama terjadi melalui aerosolized exreta dari rodensia. Jadi, seseorang tidak perlu digigit tikus untuk tertular.

Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan penting:

  • Kontrol populasi tikus
  • Perbaiki sanitasi lingkungan
  • Gunakan masker saat membersihkan area berdebu

Video “IDAI Ungkap Gejala Awal Hantavirus” memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tanda-tanda awal penyakit ini.

Hantavirus tetap menjadi penyakit yang perlu dipantau. Meskipun kasusnya masih terbatas, penyebaran melalui debu dan kontak dengan hewan pengerat membuat risiko tetap ada. Kesadaran dan tindakan pencegahan sederhana dapat mengurangi kemungkinan terpapar.

HantavirusHewan PengeratSeoul VirusKementerian KesehatanInfeksiDebu AerosolKontrol Tikus

Komentar

Memuat komentar...