Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS-Iran
Gambar atau konten salah?
Harga minyak mentah di pasar global melonjak tajam pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.
Berdasarkan data yang dirilis pada pukul 03.28 waktu setempat (14.28 WIB), harga minyak mentah jenis Brent—yang menjadi acuan utama pasar internasional—melonjak 3,7 persen menjadi US$ 74,07 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 3,8 persen ke level US$ 78,88 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pihaknya melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada Minggu, 12 Juli 2026. Sehari sebelumnya, militer AS mengaku telah berhasil menghantam 140 target di wilayah Iran.
Menurut pernyataan resmi militer AS, serangan tersebut merupakan respons langsung atas aksi Korps Garda Revolusi Islam Iran yang menyerang kapal-kapal kontainer yang melintasi Selat Hormuz. Ini adalah serangan keempat yang dilancarkan AS terhadap Iran dalam kurun waktu satu pekan terakhir.
Namun, Iran tidak tinggal diam. Pada hari yang sama, Minggu, 12 Juli 2026, Tehran membalas dengan menyerbu sejumlah fasilitas militer AS yang berada di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Garda Revolusi kembali menutup akses Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan. Klaim ini langsung dibantah keras oleh militer AS.
"Selat itu terbuka untuk semua kapal yang ingin melintas secara sah. Pasukan AS telah ditempatkan dan siap untuk memastikan kebebasan navigasi tetap tersedia meskipun ada agresi, pelecehan, ancaman, dan deklarasi sewenang-wenang Iran yang tidak beralasan," demikian pernyataan CENTCOM yang diunggah di media sosial pada Minggu, 12 Juli 2026.
Pusat komando militer AS menegaskan: "Iran tidak mengendalikan selat tersebut. Lalu lintas tetap berjalan."
Ketegangan di Selat Hormuz bukanlah hal baru. Jalur perairan sempit ini merupakan titik strategis global karena dilalui sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia. Setiap kali terjadi konflik di kawasan ini, harga minyak langsung bereaksi. Kenaikan harga saat ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan jika konflik bersenjata terus berlanjut tanpa penyelesaian diplomatik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
6 Maskapai Siap Terbang dari Bandara Husein Bandung
Enam Maskapai Siap Terbang dari Bandara Husein Bandung Lagi
Danantara Garap 26 Proyek Hilirisasi Rp225 Triliun
Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Tetap hingga September 2026
Transaksi Koperasi Desa Tembus Rp56 Miliar, Pupuk Paling Laris
Pertamina, BP, Shell Serentak Turunkan Harga BBM per 1 Juli
Berita Terbaru
Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS-Iran
6 Maskapai Siap Terbang dari Bandara Husein Bandung
Tiga Tersangka OTT KPK, Sukoharjo Tunjuk Plt
Kumpulan Doa Belajar Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Gapasdap Desak Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Masuk PSN
5 Kreasi Bubur Ayam Unik di Indonesia
4 Skenario Final Piala Dunia 2026: Semua Juara Lama
