Hotspot Karhutla Sumatera Selatan Meningkat 1.502 Titik

Yanto K. · 2 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Hotspot Karhutla Sumatera Selatan Meningkat 1.502 Titik

Gambar atau konten salah?

Jumlah hotspot di Sumatera Selatan pada periode 01 Januari 2026 hingga 15 Juni 2026 mencapai 1.502 titik. Dari total tersebut, wilayah Muara Enim dan Lahat menempati posisi tertinggi.

Menurut Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, hotspot di Muara Enim terdeteksi sebanyak 303 titik dan di Lahat 283 titik. Data ini menunjukkan lonjakan yang mulai terlihat sejak bulan Mei hingga pertengahan Juni 2026, saat musim kemarau mulai masuk ke wilayah Sumatera Selatan.

Pada bulan Mei 2026, tercatat 708 hotspot, menjadi jumlah tertinggi untuk periode bulan Mei sejak 2015. Selanjutnya, pada periode 1-15 Juni 2026, jumlah hotspot kembali mencapai 408 titik.

“Memasuki musim kemarau, potensi kemunculan hotspot memang meningkat. Karena itu seluruh daerah, khususnya wilayah yang selama ini rawan karhutla, harus meningkatkan kewaspadaan,” ujar Sudirman pada Senin, 15 Juni 2026.

Hingga saat ini, hanya lima daerah di Sumatera Selatan yang telah menetapkan status siaga. Daerah-daerah tersebut adalah Muara Enim, Banyuasin, Muba, Ogan Ilir, dan OKI. “Status siaga karhutla masih di lima daerah, Muara Enim, Banyuasin, Muba, Ogan Ilir, dan OKI. Tapi, status siaga sudah kita tetapkan juga di tingkat provinsi,” tambah Sudirman.

Wilayah rawan karhutla lainnya, seperti Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Lahat, Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Timur, dan OKU Selatan, masih dalam proses penetapan status siaga. “Mungkin karena di beberapa daerah masih ada hujan, sehingga kepala daerahnya belum menetapkan status siaga. Status itu tergantung dari kepala daerahnya,” ungkapnya.

Di Muba, hotspot yang terdeteksi hingga kini mencapai 167 titik, di Muratara 155 titik, dan di Mura 128 titik. Wilayah lain hanya terpantau puluhan titik, kecuali di Lubuklinggau 12 titik dan Pagar Alam 4 titik.

Sudirman menilai bahwa tren peningkatan hotspot pada bulan Mei dan Juni menjadi sinyal yang perlu diwaspadai oleh pemerintah daerah. Kondisi cuaca yang semakin kering dapat meningkatkan risiko terjadinya karhutla. “Keberadaan titik panas menjadi indikator awal yang harus segera diverifikasi di lapangan agar dapat diketahui apakah terdapat aktivitas pembakaran atau karhutla,” ia katakan.

Ia menekankan pentingnya verifikasi langsung. “Hotspot merupakan indikator awal. Setiap titik yang terpantau harus segera dicek agar dapat dipastikan kondisi di lapangan dan dilakukan langkah penanganan lebih cepat bila ditemukan kebakaran,” tambah Sudirman.

Dengan data yang terus meningkat, pemerintah daerah di Sumatera Selatan diharapkan dapat memperkuat kewaspadaan dan menindaklanjuti setiap hotspot sebelum berubah menjadi kebakaran besar. Pendekatan cepat dan verifikasi lapangan menjadi kunci dalam mencegah potensi karhutla di masa depan.

HotspotSumatera SelatanMuara EnimLahatKarhutlaMusim kemarauStatus siagaBPBD Sumsel

Komentar

Memuat komentar...