IAGL Dorong Pemerintah Fokus Lifting Migas, Batubara, Nikel

Andi B. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 39 dibaca
Bisik.id
IAGL Dorong Pemerintah Fokus Lifting Migas, Batubara, Nikel

Gambar atau konten salah?

IAGL ITB mengajak pemerintah untuk menempatkan produksi migas sebagai prioritas utama. Dalam kondisi geopolitik yang masih panas, lembaga ini menekankan pentingnya meningkatkan lifting minyak, sekaligus memanfaatkan batubara dan nikel sebagai pilar energi nasional.

Ketua Umum Abdul Bari menilai bahwa peningkatan lifting dapat dicapai melalui insentif fiskal yang kompetitif, penguatan supervisi, dan tata kelola yang lebih baik. Ia menekankan perlunya penyederhanaan regulasi serta kontrak kerja sama, dan koordinasi terpadu antar kementerian dan lembaga agar proses produksi dapat dipercepat.

"Jika konflik geopolitik dunia terus berlanjut, defisit energi ini diprediksi akan semakin menggerus perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis dan memeperkokoh kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri agar dapat menentukan arah kebijakan yang terfokus dan strategis menanggapi isu ketidakstabilan energi nasional," kata Bari pada 26 April 2026.

Bari menekankan dua rekomendasi utama. Pertama, peningkatan lifting minyak melalui insentif fiskal bagi perusahaan minyak yang melakukan eksplorasi agresif. Kedua, hilirisasi batubara dan nikel, yang ia sebut sebagai langkah wajib untuk beralih ke energi yang dimiliki sendiri. Ia juga menyoroti peran nikel sebagai penyimpanan energi untuk kendaraan listrik.

"Rekomendasi dari kami, pertama adalah peningkatan lifting minyak. Ini bisa dilakukan dengan adanya insentif fiskal terhadap perusahaan-perusahaan minyak untuk melakukan eksplorasi dan agresif eksplorasi di minyak. Kedua, hilirisasi batubara itu sudah wajib banget karena kita harus beralih pada energi yang kita punya sendiri. Demikian juga dengan nikel. nikel itu sebagai storage untuk EV, itu juga jadi penting buat kita, sehingga menuju kemandirian dan kedaulatan energi itu akan lebih cepat," jelas Bari kepada wartawan di sela-sela seminar nasional tersebut.

Menurut data yang dikutip, kebutuhan minyak bumi nasional mencapai 1,7 juta barrel per hari, sementara produksi harian hanya mampu memenuhi 605.000 barrel per hari. Ketidakstabilan geopolitik global semakin memperburuk situasi ini, mengganggu rantai pasok minyak internasional.

Wakil Ketua Komisi XII DPR, Sugeng Suparwoto, menegaskan bahwa pemerintah harus memaksimalkan lifting secara terus menerus, termasuk memanfaatkan sumur idle yang masih memiliki potensi. Ia menyoroti keberadaan 128 cekungan yang sudah tereksplorasi, dengan 60 cekungan yang telah dieksploitasi, dan masih tersisa 68 cekungan yang belum disentuh.

"Karena kita seperti saya sebut tadi kita ini masih punya cekungan-cekungan yang belum dieksplorasi. Seperti yang sering digarisbawahi oleh kaum geolog itu adalah ada 128 cekungan yang sudah tereksplorasi eksploitasi itu baru 60 cekungan, masih ada 68 cekungan 'yang belum disentuh'. Nah ini memang sebagian besar ke laut semakin laut dalam dan memang hari-hari ini kalau kita temukan selalu gas gas dan gas. Kita memang kaya gas alam bahkan kemarin Pak Menteri ESDM mengumumkan ditemukan cadangan di apa ENI dengan ENI itu cukup besar 5 TCF ya totalnya," papar Sugeng.

Ia menambahkan bahwa cadangan nasional migas masih kecil, hanya sekitar 2,4 miliar barel. Eksplorasi lebih lanjut dianggap krusial untuk mengungkap akurasi cadangan geologis sektor migas.

"Tentunya itulah yang menjadi concern kami juga. Sehingga apa cadangan nasional kita atau cadangan geologis di migas misalnya hari ini kan kecil sekali. Kita hanya 2,4 miliar barel saja," ucap Sugeng.

Dalam konteks hilirisasi nikel, Sugeng menjelaskan bahwa industri baterai sudah menjadi bagian penting dari rantai nilai. Saat ini, Indonesia memproduksi NPI (nickel pig iron) untuk baja, stainless steel, dan produk lainnya, menunjukkan bahwa proses hilir berjalan secara bertahap.

"Memang hilir dari segala hilir adalah industri salah satunya baterai tapi kita hari ini kan sudah memproduksi NPI (nickel pig iron) untuk baja, stainless steel dan produk-produk lain. Jadi memang dalam konteks industri itu ya semuanya memang bertahap," ungkapnya.

Selain meningkatkan lifting, IAGL ITB menyoroti potensi batubara dan nikel sebagai pilar energi. Indonesia memiliki cadangan batubara sebesar 97 miliar ton, dengan cadangan terbukti sekitar 32 miliar ton. Potensi ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan cadangan batubara terbesar di dunia, dan dapat berperan penting sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Rekomendasi lain menuntut percepatan transisi menuju ekosistem energi berbasis listrik, guna mengurangi ketergantungan pada minyak bumi secara bertahap. IAGL ITB menekankan perlunya sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri untuk merumuskan kebijakan energi nasional yang efektif, terarah, dan berorientasi pada kedaulatan energi.

Melalui revitalisasi produksi migas sebagai langkah prioritas jangka pendek, sekaligus optimalisasi batubara dan nikel, Indonesia diyakini memiliki peluang besar untuk keluar dari ketergantungan energi. IAGL ITB berkomitmen mendukung strategi tri‑pilar ini lewat riset, advokasi kebijakan, dan kolaborasi erat dengan semua pemangku kepentingan.

Dengan memanfaatkan kekayaan batubara dan nikel secara optimal, Indonesia dapat memperkuat kedaulatan energi nasional. IAGL ITB menegaskan dukungan terus menerusnya melalui riset, advokasi kebijakan, dan kerja sama strategis dengan seluruh pemangku kepentingan.

Dalam konteks ini, pemerintah diharapkan terus memaksimalkan lifting, termasuk mengaktifkan sumur idle, serta menjajaki potensi cekungan yang belum dieksplorasi. Eksplorasi lebih lanjut akan memperjelas cadangan migas, sementara hilirisasi nikel dan pengembangan pembangkit listrik berbasis batubara bersih menjadi kunci bagi kemandirian energi Indonesia.

lifting minyakhilirisasi batubarahilirisasi nikelkedaulatan energieksplorasi migasinsentif fiskalregulasi migas

Komentar

Memuat komentar...