IHSG Dibuka Merah, Turun 0,51%, Diprediksi 6.550–6.700 Hari Ini
Gambar atau konten salah?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap lemah di pagi perdagangan. Pada 19 Mei 2026, indeks dibuka di zona merah, menempati level sekitar 6.500-an. Data RTI menunjukkan IHSG turun ke 6.599 saat dibuka. Lima menit kemudian, nilai lebih menurun menjadi 6.565,30, turun 33,93 poin atau 0,51 %. Pada pukul 09.15, pasar berbalik ke zona hijau, naik 5 poin (0,05 %) menjadi 6.604.
Selama sesi, IHSG mencapai level tertinggi 6.613 dan terendah 6.560,12. Sejak awal tahun, indeks sudah melemah 24 %. Sebanyak 207 saham melemah, 272 saham menguat, dan 195 saham stagnan. Volume perdagangan saat pembukaan mencapai 1,86 miliar, dengan turnover Rp 1,01 triliun dan frekuensi perdagangan 152.225 kali.
Menurut Ratih Mustikoningsih, Financial Expert di Ajaib Sekuritas, IHSG hari ini diprediksi berada di kisaran 6.550–6.700. Ia menambahkan bahwa sentimen pasar dipengaruhi oleh koreksi lima hari beruntun di dalam negeri dan outflow investor asing sebesar Rp 460 miliar di pasar reguler pada 18 Mei 2026. Rupiah spot sempat menyentuh level Rp 17.700/USD, menandai psikologis baru.
“Namun, BI telah melakukan 7 langkah intervensi rupiah, di antaranya aktif di pasar valas, peningkatan yield SRBI 6,21‑6,45 % tenor 6 bulan hingga 12 bulan (13 Mei 2026) total posisi SRBI melesat ke Rp 957,91 triliun (30 April 2026), pembelian SBN di pasar sekunder, pembatasan pembelian dolar AS maksimal US$ 25 ribu, menjaga likuiditas perbankan, penguatan intervensi di pasar offshore (NDF), serta peningkatan pengawasan aktivitas perbankan dan korporasi (Mulai 1 Juni 2026, mewajibkan maksimal 50 % DHE SDA disimpan selama 12 bulan ke Bank Himbara dan dikonversikan ke rupiah (kecuali sektor minyak dan gas dengan penempatan 3 bulan). Pekan ini, pasar menanti rilis suku bunga BI‑Rate yang diproyeksikan naik 25 bps untuk menjaga rupiah,”
Di luar negeri, indeks Wall Street menunjukkan kelemahan terbatas. Nasdaq turun 0,51 % dan S&P 500 turun 0,07 % pada 18 Mei 2026. Pasar menunggu rilis laporan keuangan perusahaan teknologi, khususnya Nasdaq: NVDA, yang dapat mempengaruhi reli AI di Wall Street.
Konflik di Timur Tengah masih berlangsung. AS dan Iran menyesuaikan proposal masing-masing untuk mengakhiri perang, sementara Presiden Trump menunda serangan yang direncanakan pada hari ini. Pernyataan tersebut menunda reli harga minyak Brent, yang turun 2,18 % menjadi USD 109 per barel pada 19 Mei 2026.
Secara keseluruhan, IHSG menghadapi tekanan domestik dan global. Outflow investor asing, fluktuasi rupiah, serta dinamika pasar saham di Amerika Serikat dan Timur Tengah memengaruhi sentimen pasar. BI terus melakukan intervensi, sementara investor menunggu keputusan suku bunga BI‑Rate. Pergerakan pasar diharapkan tetap berfluktuasi dalam minggu mendatang, tergantung pada perkembangan ekonomi dan geopolitik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
