Indonesia Resmi Anggota ISES, Layanan Cuaca Ruang Angkasa

Eko P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 93 dibaca
Bisik.id
Indonesia Resmi Anggota ISES, Layanan Cuaca Ruang Angkasa

Gambar atau konten salah?

Indonesia kini resmi menjadi anggota International Space Environment Service (ISES), sebuah jaringan internasional yang memprediksi cuaca di luar angkasa. Keikutsertaan ini menandai kemajuan signifikan pada sistem prediksi cuaca di Indonesia.

“Tadi saya sudah sampaikan Indonesia sebagai salah satu anggota ISES dan nanti ISES akan membangun anggota G‑SWxWS,” ujar Tiar Dani, peneliti riset antariksa di Badan Riset dan Antariksa Nasional (BRIN).

G‑SWxWS adalah prakiraan cuaca ruang angkasa khusus untuk wilayah Eropa, Asia, dan Rusia, yang dibagi menjadi enam sektor:

  • Pasifik
  • Asia‑Australia
  • Eropa
  • Afrika
  • Amerika
  • Amerika Selatan

“Nah, Indonesia masuk ke dalam Asia‑Australia sebagai center,” jelas Dani dalam acara LINEAR - Kolokium Mingguan Pusat Riset Antariksa 'Automating Space Weather Services with Agentic AI', Rabu (13 Mei 2026).

Di Asia Tenggara, tidak semua negara telah bergabung ke dalam ISES. Beberapa negara, seperti Thailand, belum menjadi Regional Warning Center (RWC) meski sudah terdaftar sebagai anggota.

“Kalau Collaborative, Thailand itu hanya di ionosphere saja. Kalau bukan RWC bukan belum bisa memberikan tiga informasi itu tadi: aktivitas matahari, ionosphere, dan geomagnetic,” terang Dani.

ISES memiliki tiga kategori: Regional Warning Center (RWC), Associate Warning Centers (AWCs), dan Collaborative Expert Center (CEC). Thailand, meski terdaftar, hanya berperan sebagai CEC di bidang ionosfer dan tidak dapat menyediakan informasi lengkap tentang aktivitas matahari, ionosfer, dan geomagnetik.

“Kalau Malaysia sendiri, saya sempat dapat informasi bahwa Malaysia ingin berkunjung ke Indonesia mempelajari soal SWIFTs ini, cuma sampai sekarang belum ada informasi lebih lanjut. Memang didorong untuk beberapa negara seperti Malaysia, Filipina, itu segera masuk ke ISES,” tutupnya.

BRIN mengajak negara‑negara seperti Malaysia dan Filipina untuk segera bergabung, mengingat pentingnya sinergi regional dalam memantau cuaca ruang angkasa.

Keikutsertaan Indonesia menandai langkah penting dalam pengembangan layanan cuaca ruang angkasa, sementara negara tetangga masih menunggu status lengkap sebagai pusat peringatan regional.

IndonesiaISEScuaca ruang angkasaBRING‑SWxWSRegional Warning CenterMalaysia

Komentar

Memuat komentar...