Intel Luncurkan Keuangan Kuartal 2026: CPU Naik Fokus
Gambar atau konten salah?
Intel baru saja merilis laporan keuangan kuartal yang berakhir pada 31 Maret 2026. Laporan tersebut menampilkan pergeseran besar dalam cara industri AI membangun beban kerja. Selama bertahun‑tahun, unit pemrosesan grafis (GPU) menjadi sorotan utama karena keandalannya dalam melatih model AI. Namun, tren kini mulai beralih ke prosesor sentral (CPU).
Hasil kinerja Intel menunjukkan lonjakan permintaan signifikan untuk prosesor multiguna dan sistem pendukung agen AI (agentic AI). Perusahaan mencatat pendapatan sebesar USD 13,6 miliar untuk kuartal tersebut, naik 7 % secara tahunan dan jauh melampaui perkiraan para analis. Intel juga menaikkan proyeksi pendapatan kuartal terbarunya menjadi di kisaran USD 13,8 miliar hingga USD 14,8 miliar.
Pergeseran ini erat kaitannya dengan cara penerapan AI saat ini. Fokus industri kini bergerak dari pelatihan model terpusat menuju proses inferensi (inference) dan agen otonom yang beroperasi lebih dekat dengan pengguna. Tren ini sangat menguntungkan CPU yang selama ini kerap dianggap sebagai “pemain cadangan” dalam infrastruktur AI.
“Gelombang AI berikutnya akan membawa kecerdasan lebih dekat ke pengguna akhir, bergerak dari model dasar menuju inferensi hingga agentic. Pergeseran ini secara signifikan meningkatkan kebutuhan terhadap penawaran CPU, wafer, dan pengemasan mutakhir (advanced packaging) dari Intel,” ujar CEO Intel, Lip‑Bu Tan.
Perubahan nasib Intel paling terlihat pada bisnis pusat data (data center). Segmen ini sukses mencetak pendapatan sebesar USD 5,1 miliar, jauh di atas ekspektasi pasar yang hanya mematok angka USD 4,5 miliar. Segment ini sangat bergantung pada CPU yang menggerakkan server untuk menangani tugas dukungan pelatihan dan beban kerja inferensi.
Tan mencatat bahwa rasio kebutuhan komponen di sistem server kini mulai berubah. Sistem AI modern membutuhkan satu CPU untuk setiap empat GPU (1:4), meningkat drastis dibandingkan rasio 1:8 di masa lalu. Selain prosesor, Intel juga mendulang sukses dari bisnis foundry-nya. CFO Intel, David Zinsner, menyebut bahwa teknologi advanced packaging—yang memungkinkan beberapa chip diintegrasikan ke dalam satu sistem—kini menjadi pendorong utama pendapatan manufaktur mereka seiring dengan makin banyaknya chip yang digunakan per server.
Faktor eksternal turut memengaruhi kebangkitan Intel. Saham perusahaan dilaporkan telah melonjak hampir tiga kali lipat sejak bulan Agustus 2025 dan ditutup pada level USD 66,78 pada perdagangan Kamis, 26 April 2026. Kenaikan ini bertepatan dengan pengungkapan kepemilikan 10 % saham oleh pemerintahan Trump pada musim panas lalu.
Intel juga telah resmi bergabung sebagai mitra strategis dalam megaproyek pabrik chip AI Terafab besutan Elon Musk. “Terafab sangatlah penting. Menerapkan cara kerja Elon Musk ke dalam bisnis foundry sangat menarik bagi kami. Kami pasti akan memintanya membantu kami memikirkan cara membuat pabrik (Fab) menjadi lebih ekonomis,” ungkap Zinsner.
Meskipun momentum operasionalnya positif, Intel mencatatkan rugi bersih sebesar USD 3,7 miliar pada kuartal ini. Kerugian tersebut dipicu oleh beban biaya satu‑waktu (one‑time charges) terkait kepemilikan sahamnya di Mobileye dan pengaturan keuangan dengan investasi pemerintah. Namun, jika pos tersebut dikecualikan, Intel sejatinya berhasil meraup laba bersih sebesar USD 1,5 miliar (29 sen per saham), demikian dikutip dari The Wall Street Journal, 26 April 2026.
Walaupun mulai bangkit, Intel tetap harus waspada. Mereka masih tertinggal dari rival beratnya, Nvidia dan AMD, di pasar akselerator AI berkinerja tinggi. Selain itu, permintaan untuk chip PC yang secara historis menjadi pendorong pendapatan utama mereka diperkirakan akan tetap lesu akibat membengkaknya biaya komponen di pasaran.
Perubahan fokus industri AI dari pelatihan ke inferensi dan agen otonom memberi peluang bagi CPU. Intel berhasil menyesuaikan portofolio produk, menonjolkan advanced packaging, dan menjalin kemitraan strategis. Namun, persaingan ketat dan ketergantungan pada biaya komponen tetap menjadi tantangan bagi perusahaan dalam mempertahankan pertumbuhan pendapatan di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
