ITS Kembangkan Bensin Sawit 83% Kenaikan Efisiensi Indonesia
Gambar atau konten salah?
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan timnya telah mengembangkan metode pembuatan bahan bakar alternatif dari Crude Palm Oil (CPO) yang menurunkan emisi. Produk ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil, terutama di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS. Rektor ITS, Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD, menegaskan peluang ini bagi pemerintah. "Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini," ujarnya pada 09 April 2026.
Tim peneliti memanfaatkan metode catalytic cracking, memecah molekul CPO menjadi hidrokarbon ringan menggunakan katalis alumina (γ-Al₂O₃). Metode ini menghasilkan konversi biogasoline sekitar 60% dan memerlukan suhu operasi tinggi hingga 420 derajat Celsius.
Selanjutnya, mereka mengganti katalis dengan bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) dengan komposisi seimbang. Hasilnya, rendemen biogasoline meningkat hingga 83% dan suhu operasi turun menjadi 380 derajat Celsius.
Proses tersebut menghasilkan bensin sawit dengan kandungan hidrokarbon C5-C11, komponen yang sama pada bensin komersial. Gas yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pemanas reaktor. "Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengkonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan," tutur Hosta.
Residunya, cairan yang tersisa, dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Proses produksi ini minim residu dan mengikuti prinsip life cycle assessment (LCA). "Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor," jelasnya.
Praktiknya, bahan bakar alternatif ini sudah diuji pada mesin-mesin pertanian fleksibel dengan modifikasi. Hosta menegaskan inovasi ini mendukung Indonesia agar mandiri dalam teknologi. "Melalui biogasoline sawit ini juga, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin yang berasal dari minyak bumi yang harganya fluktuatif," ungkapnya.
Dengan inovasi ini, beban Indonesia akan ketergantungan ekspor impor dapat berkurang. "Minimal dengan adanya inovasi ini akan mengurangi beban Indonesia akan ketergantungan ekspor impor," pungkasnya.
Inisiatif ini menunjukkan potensi bahan bakar sawit sebagai alternatif yang lebih bersih dan berkelanjutan, sekaligus memberi peluang bagi petani untuk mengurangi biaya bahan bakar dan meningkatkan kemandirian energi di tingkat lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
SPMB Jakarta 2026: Daftar Sekolah dengan Skor UTBK 2022
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
Helm Cerdas ITB Tuntun Pendeteksi Kelelahan Motor
Nadiem Anwar Makarim Tolak Tuduhan Korupsi Chromebook
Nadiem Anwar Makariem Bela Korupsi Chromebook di Pengadilan
Berita Terbaru
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Indonesia Open 2026: 16 Besar di Istora Senayan, Menang
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
Messi Terima Penghargaan Putri Asturias di Kansas City
