Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Safar 1448 H Berbeda

Wati N. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Safar 1448 H Berbeda

Gambar atau konten salah?

Umat Islam kembali memiliki kesempatan untuk menjalankan ibadah sunah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, yaitu puasa Ayyamul Bidh. Ibadah ini dilaksanakan setiap pertengahan bulan dalam kalender Hijriah, tepatnya pada tanggal 13, 14, dan 15.

Memasuki bulan Safar 1448 Hijriah, ada perbedaan jadwal pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh antara Muhammadiyah dengan pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU). Perbedaan ini muncul karena cara penetapan awal bulan yang tidak sama.

Menurut perhitungan Muhammadiyah, 1 Safar 1448 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 15 Juli 2026. Dengan patokan tersebut, jadwal puasa Ayyamul Bidh versi Muhammadiyah adalah:

  • 13 Safar 1448 Hijriah: Senin, 27 Juli 2026
  • 14 Safar 1448 Hijriah: Selasa, 28 Juli 2026
  • 15 Safar 1448 Hijriah: Rabu, 29 Juli 2026

Sementara itu, pemerintah melalui Kalender Hijriah Kementerian Agama menetapkan 1 Safar 1448 Hijriah pada Kamis, 16 Juli 2026. Penetapan ini sama dengan yang digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU). Dengan demikian, jadwal puasa Ayyamul Bidh versi pemerintah dan NU adalah:

  • 13 Safar 1448 H: Selasa, 28 Juli 2026
  • 14 Safar 1448 H: Rabu, 29 Juli 2026
  • 15 Safar 1448 H: Kamis, 30 Juli 2026

Sebelum menjalankan puasa, umat Islam dianjurkan untuk membaca niat. Niat ini menjadi bentuk kesungguhan dalam beribadah. Berikut lafaz niat puasa Ayyamul Bidh lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ اَيَّامَ اْلبِيْضِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ayyamal bidhi sunnatan lillahi ta'ala.

Artinya: Saya niat berpuasa besok pada (ayyamul bidh) hari-hari putih, sunah karena Allah Ta'ala.

Niat puasa Ayyamul Bidh bisa dibaca sejak malam hari, seperti puasa sunah pada umumnya. Namun, bagi yang lupa atau belum sempat berniat di malam hari, niat masih bisa diucapkan pada siang hari sebelum matahari tergelincir (zawal), selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Puasa Ayyamul Bidh memiliki beberapa keutamaan yang membuatnya dianjurkan untuk dikerjakan secara rutin. Berikut ini beberapa keutamaan yang dirangkum dari laman Baznas.

Pahala seperti puasa setahun penuh. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa tiga hari setiap bulan nilainya seperti puasa sepanjang tahun. Ini karena setiap amal kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Jadi, puasa tiga hari setiap bulan setara dengan pahala puasa satu bulan penuh.

Mengikuti sunah Rasulullah SAW. Puasa Ayyamul Bidh termasuk amalan yang rutin dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah RA, Nabi SAW berpesan agar tidak meninggalkan tiga amalan: salat witir sebelum tidur, salat duha, dan puasa tiga hari setiap bulan.

Melatih ketakwaan dan pengendalian diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ibadah ini juga melatih seorang muslim untuk mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, dan menjauhi perbuatan yang dilarang. Kebiasaan ini bisa membantu meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Membiasakan istikamah dalam beribadah. Karena dilaksanakan setiap bulan, puasa Ayyamul Bidh menjadi salah satu amalan yang melatih konsistensi. Meski hanya tiga hari, jika dilakukan secara rutin akan menjadi kebiasaan baik yang mendatangkan pahala berkelanjutan.

Menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Saat berpuasa, seseorang merasakan lapar dan haus. Pengalaman ini membuatnya lebih mudah memahami kondisi orang yang kekurangan. Karena itu, puasa Ayyamul Bidh juga menjadi momentum yang baik untuk memperbanyak sedekah dan berbagi kepada sesama.

Puasa Ayyamul Bidh adalah ibadah sunah yang dikerjakan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk melaksanakannya secara rutin. Keutamaan utamanya adalah pahala yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa tiga hari setiap bulan nilainya seperti puasa sepanjang tahun. Hal ini karena setiap amal kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, sehingga puasa tiga hari setiap bulan setara dengan pahala puasa satu bulan penuh.

Puasa Ayyamul Bidh juga termasuk amalan yang rutin dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah RA, Nabi SAW berpesan agar tidak meninggalkan tiga amalan, yakni salat witir sebelum tidur, salat duha, dan puasa tiga hari setiap bulan.

Selain itu, puasa ini melatih seorang muslim untuk mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, serta menjauhi perbuatan yang dilarang. Kebiasaan ini dapat membantu meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Karena dilaksanakan setiap bulan, puasa Ayyamul Bidh juga menjadi salah satu amalan yang melatih konsistensi dalam beribadah. Meski hanya berlangsung selama tiga hari, jika dilakukan secara rutin akan menjadi kebiasaan baik yang mendatangkan pahala berkelanjutan.

Perbedaan jadwal antara Muhammadiyah dengan pemerintah dan NU ini bukanlah hal baru. Ini terjadi karena perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan) dalam menentukan awal bulan Hijriah. Umat Islam bisa memilih mengikuti jadwal sesuai dengan organisasi atau lembaga yang diikutinya.

Puasa Ayyamul Bidhjadwal puasaperbedaan Muhammadiyah NUkeutamaan puasaniat puasaSafar 1448 H

Komentar

Memuat komentar...