Jaksa Surabaya Sukses Kembangkan Bisnis Penangkaran Murai Batu
Gambar atau konten salah?
Siapa sangka, di balik seragam dinasnya sebagai staf Pidum Kejaksaan Negeri Surabaya, Arista Gandhi menyimpan hobi yang berubah jadi ladang bisnis. Pria yang akrab dipanggil Mas Gandhi ini sukses menjalankan penangkaran dan sekolah mastering burung murai batu. Namanya kini dikenal penghobi dari berbagai daerah, bahkan sampai ke luar negeri.
Hari-harinya diisi dengan mengawal tahanan dan tugas-tugas kejaksaan. Tapi begitu pulang, dunianya berubah total. Ia berkutat dengan sangkar burung dan kicauan murai. Dari hobi yang awalnya hanya pengisi waktu luang, Gandhi justru membangun usaha yang terus tumbuh dan memberinya penghasilan tambahan.
Perjalanannya di dunia burung tidak terjadi dalam semalam. Semuanya berawal pada 2008, saat ia masih memelihara ikan hias. Lalu beralih ke lovebird. Baru pada 2015, ia jatuh hati pada murai batu. Lulusan ekonomi ini melihat hobi bukan sekadar pelepas penat dari rutinitas kerja. Ada peluang bisnis di sana. Dengan indukan murai berprestasi dan perhitungan bisnis yang matang, ia mengembangkan penangkaran yang kini terus berkembang.
Saat ini Gandhi mengelola 16 kandang penangkaran. Tersebar di dua lokasi: enam kandang di Sidoarjo, Jawa Timur, dan 10 kandang di Purwodadi, Jawa Tengah. Untuk memaksimalkan produktivitas indukan berkualitas, ia menerapkan sistem ternak poligami. Satu pejantan dikawinkan dengan dua hingga tiga betina.
Semua pejantan yang menjadi indukan adalah burung jawara. Mereka telah menorehkan prestasi di berbagai lomba. Indukan betinanya juga berasal dari trah juara. Bukan sembarang burung.
Sekitar setahun terakhir, Gandhi tidak berhenti di penangkaran. Ia mendirikan sekolah mastering murai batu. Sekolah ini diperuntukkan bagi anakan, murai remaja, hingga burung dewasa yang ingin meningkatkan kualitas kicauannya.
Yang membedakan sekolahnya dengan yang lain: Gandhi tidak menggunakan audio digital sebagai media pembelajaran. Tidak ada MP3 atau video YouTube.
"Banyak pemain murai yang menggunakan mesin dan itu hasilnya tidak maksimal. Apabila menggunakan MP3 dan YouTube dibanding dengan metode saya menggunakan burung asli, saya jamin hasilnya jauh lebih maksimal dan sudah terbukti, saya tidak pernah seperti itu (menggunakan MP3/YouTube) untuk pemasteran," kata Gandhi saat ditemui di lokasi, Minggu, 12 Juli 2026, sambil menunjukkan guru vokal bernama Kolibri Ninja.
Di sekolahnya, burung murai ditempatkan sesuai zonasi. Di bagian tengah, ada deretan burung masteran yang bertugas menjadi "guru vokal". Jenisnya beragam: cucak cungkok, sogon, konin, kinoi, cendet, lovebird, perkici, parkit, serindit, jalak suren, cucak jenggot, kapas tembak, rambatan paruh merah, hingga siri-siri.
"Total ada sekitar 60 ekor burung yang meramaikan sekolah saya ini," imbuh Gandhi.
Fasilitas Premium hingga Garansi Kematian
Agar usaha ini tetap berjalan tanpa mengganggu pekerjaannya sebagai aparatur penegak hukum, Gandhi mempercayakan operasional harian kepada tenaga perawat yang berpengalaman. Sekolah mastering miliknya dilengkapi berbagai fasilitas: CCTV selama 24 jam, standar kebersihan yang ketat, hingga pengaturan nutrisi dan kalsium secara rutin.
Salah satu metode yang diklaim menjadi pembeda adalah pemberian minyak ikan secara berkala. Tujuannya membantu merangsang perkembangan otak burung agar lebih cepat menyerap materi suara dari burung master.
Pemilik burung juga mendapat laporan perkembangan secara berkala, dua kali dalam sepekan.
Gandhi juga menawarkan garansi yang jarang ditemui di sekolah mastering lain.
"Kalau ada pembeli memboyong anakan dari penangkaran saya dan langsung melanjutkan sekolah mastering selama masa tempuh 7 bulan, saya juga akan memberikan proteksi penuh. Apabila pada bulan ke-4 burung meninggal, saya akan menggantinya dengan anakan baru secara gratis, lengkap dengan kompensasi biaya SPP 4 bulan yang tidak hangus," terang Gandhi.
Untuk burung anakan, biaya sekolah dipatok Rp 400 ribu per bulan. Sementara murai remaja maupun dewasa dikenakan tarif Rp 500 ribu per bulan. Burung anakan umumnya menjalani pendidikan selama enam hingga tujuh bulan. Sedangkan burung remaja atau dewasa sekitar tiga hingga empat bulan.
Lulus Setelah Juara Lomba
Menurut Gandhi, kelulusan siswa murai tidak hanya ditentukan dari lamanya mengikuti sekolah. Burung akan diuji melalui perlombaan resmi saat berusia sekitar delapan hingga sembilan bulan. Jika mampu tampil baik, burung akan dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikat.
Salah satu siswa milik pengacara asal Surabaya bernama Martin berhasil meraih juara pertama pada penampilan perdananya di kelas remaja. Saat itu burung baru berusia tujuh bulan.
"Baru-baru ini, ada yang berhasil menyabet juara 1 pada penampilan perdana di kelas remaja saat usianya menginjak 7 bulan, Mas. Tapi, statusnya belum resmi lulus," tutur Gandhi.
Reputasi penangkaran Gandhi membuat pasarnya terus meluas. Anakan murai usia satu bulan dibanderol mulai Rp 3 juta hingga Rp 7,5 juta. Konsumennya tidak hanya dari Jawa Timur atau luar pulau. Banyak pembeli berasal dari Indonesia yang bekerja atau berdomisili di luar negeri: Taiwan, Jepang, Korea, hingga Afrika.
Tak sedikit pelanggan yang langsung menyekolahkan burung hasil penangkarannya di sekolah mastering milik Gandhi. Karena tingginya permintaan, calon pembeli harus mengantre. Pada Juli 2026 saja, daftar tunggu telah mencapai lebih dari 20 orang.
Bagi Gandhi, usaha yang dibangunnya bukan semata mencari keuntungan. Ia ingin membuktikan bahwa hobi dapat menjadi sumber penghasilan yang halal tanpa harus menyalahgunakan jabatan sebagai aparatur negara.
"Ini semua berawal dari hobi dan kebetulan saya lulusan ekonomi, saya banyak melihat peluang di burung ini dan saya tidak ingin menyalahgunakan pekerjaan saya untuk mencari keuntungan dengan cara yang salah," ungkap dia.
Usaha penangkaran dan sekolah mastering murai menjadi cara untuk tetap produktif sekaligus menjaga integritas sebagai insan Adhyaksa. Dari hobi yang ditekuni secara serius, Gandhi tak hanya mencetak burung-burung berprestasi, tetapi juga membangun usaha yang kini menjangkau pasar lintas daerah hingga mancanegara.
Seorang jaksa yang di siang hari menangani perkara pidana, di malam dan akhir pekannya justru sibuk dengan kicau burung. Dua dunia yang berbeda, tapi dijalani tanpa saling mengganggu. Gandhi membuktikan bahwa pekerjaan utama dan hobi bisa berjalan beriringan, selama ada komitmen dan sistem yang jelas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Jaksa Surabaya Sukses Kembangkan Bisnis Penangkaran Murai Batu
Harga Makan di Stadion Piala Dunia 2026 Bikin Dompet Menjerit
Pilih Kursi Pesawat: Jendela atau Lorong?
Toyota Veloz Hybrid Kalahkan BYD M6 DM di Penjualan Juni 2026
Konate: Ancaman Spanyol Bukan Hanya Yamal
MPLS Digelar, Menteri Peringatkan Bahaya Perundungan Anak
3 Pengeroyok Penjaga Perlintasan Kereta di Garut Buron
4 SD di Ponorogo Hanya Kebagian 2 Murid Baru
Spanyol Tak Gentar Hadapi Prancis di Semifinal Piala Dunia