Jaringan Kereta Api Capai 6.927 km, Target 10.524 km
Gambar atau konten salah?
Pengembangan jaringan kereta api nasional terus dikebut, menandai komitmen pemerintah untuk memperkuat mobilitas masyarakat dan sistem logistik.
Dalam rapat terakhir, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan laporan terkini kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa jaringan perkeretaapian nasional kini telah mencapai 6.927 kilometer, tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Papua.
Target akhir pembangunan adalah 10.524 kilometer, termasuk jaringan perkotaan yang menjadi tulang punggung mobilitas harian. Pengembangan akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah: di Sumatera, fokus pada angkutan barang dan mobilitas masyarakat; di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, penekanan pada distribusi komoditas unggulan dan dukungan aktivitas ekonomi daerah.
“Pengembangan jaringan kereta api nasional bukan sekadar pembangunan infrastruktur transportasi, tetapi juga upaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui aksesibilitas yang lebih baik, biaya logistik yang lebih efisien, serta peluang ekonomi yang semakin terbuka di berbagai daerah,” ujar Dudy pada 12 Juni 2026.
Beberapa proyek strategis yang sedang didorong meliputi pembangunan jaringan Trans Sumatera, pengembangan kereta api logistik di Kalimantan, penyelesaian operasional Kereta Api Makassar-Parepare, serta pengembangan layanan kereta api perkotaan di berbagai wilayah.
Di Pulau Jawa, upaya juga mencakup peningkatan kapasitas layanan perkotaan, elektrifikasi jalur, serta pengembangan jaringan kereta semi cepat dan kereta cepat. Hal ini bertujuan meningkatkan frekuensi dan kenyamanan perjalanan.
Dudy menyoroti keberhasilan program gerbong khusus untuk petani dan pedagang. Gerbong ini telah beroperasi di daerah seperti Lebak, Garut, Cilacap, Jogja, Solo, Semarang, Blitar, Jember, hingga Banyuwangi, dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Data penumpang menunjukkan tren positif, dengan peningkatan 8,8% dari 500,5 juta penumpang pada 2024 menjadi hampir 550 juta penumpang pada 2025. Ini menandai pertumbuhan signifikan dalam penggunaan layanan kereta api.
“Kehadiran jaringan rel yang semakin luas diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperkuat daya saing nasional, serta mendukung terwujudnya Indonesia yang lebih maju dan terhubung,” pungkas Dudy.
Dengan langkah-langkah tersebut, jaringan kereta api Indonesia diharapkan menjadi tulang punggung transportasi massal dan logistik, memperkuat konektivitas antarwilayah serta membuka peluang ekonomi baru bagi daerah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
