Jawa Timur Punya 486 Daerah Aliran Sungai

Ika P. · 4 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Jawa Timur Punya 486 Daerah Aliran Sungai

Gambar atau konten salah?

Jawa Timur memiliki jaringan sungai yang luas dan kompleks. Provinsi ini tidak hanya punya satu atau dua sungai besar, tetapi ratusan aliran yang tersebar dari pesisir utara hingga selatan. Sungai-sungai ini menjadi urat nadi kehidupan, menyediakan air untuk minum, mengairi sawah, hingga menjadi sumber energi listrik.

Berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Provinsi, total ada 486 Daerah Aliran Sungai (DAS) di provinsi ini. Semua DAS itu dikelompokkan ke dalam tujuh Wilayah Sungai (WS). Istilah Wilayah Sungai sendiri merujuk pada satu kesatuan pengelolaan air yang bisa terdiri dari satu atau lebih DAS. Sementara DAS adalah area daratan yang tugasnya menampung, menyimpan, dan mengalirkan air hujan menuju sungai, danau, atau laut.

Dari tujuh WS tersebut, dua di antaranya masuk kategori strategis nasional: WS Brantas dan WS Bengawan Solo. Keduanya menjadi tulang punggung perekonomian dan kehidupan masyarakat di Jawa Timur.

Berikut rincian ketujuh Wilayah Sungai di Jawa Timur, lengkap dengan luas daerah tangkapan air dan jumlah DAS-nya:

  1. WS Brantas — Luas daerah tangkapan air: 13.880 kilometer persegi. Jumlah DAS: 20.
  2. WS Bengawan Solo — Luas daerah tangkapan air: 13.070 kilometer persegi. Jumlah DAS: 94.
  3. WS Bondoyudo-Bedadung — Luas daerah tangkapan air: 5.364 kilometer persegi. Jumlah DAS: 47.
  4. WS Madura-Bawean — Luas daerah tangkapan air: 4.575 kilometer persegi. Jumlah DAS: 173.
  5. WS Pekalen-Sampean — Luas daerah tangkapan air: 3.953 kilometer persegi. Jumlah DAS: 56.
  6. WS Baru-Bajulmati — Luas daerah tangkapan air: 3.675 kilometer persegi. Jumlah DAS: 60.
  7. WS Welang-Rejoso — Luas daerah tangkapan air: 2.601 kilometer persegi. Jumlah DAS: 36.

Dari data itu, WS Madura-Bawean punya jumlah DAS paling banyak, yaitu 173. Namun, WS Brantas memegang rekor sebagai wilayah sungai dengan daerah tangkapan air terluas, mencapai 13.880 kilometer persegi. Luasnya hampir menyamai gabungan beberapa WS lainnya.

Sungai Brantas: Yang Terbesar dan Paling Unik

Sungai Brantas adalah sungai terbesar di Jawa Timur. Panjangnya sekitar 320 kilometer. Hulu sungai ini berada di lereng Gunung Arjuno. Yang menarik, aliran Sungai Brantas tidak lurus seperti kebanyakan sungai. Ia justru mengelilingi kawasan Gunung Kelud sebelum akhirnya bermuara di Selat Madura.

Perjalanan sungai ini cukup panjang. Dari hulu, ia mengalir ke timur melewati Kota Malang. Setelah sampai di wilayah Kepanjen, alirannya berbelok ke selatan. Kemudian, ia berbelok lagi ke barat hingga bertemu dengan Kali Lesti yang berhulu di Gunung Semeru.

Perjalanan berlanjut ke Tulungagung. Di sini, Sungai Brantas bertemu dengan Kali Ngrowo. Setelah itu, alirannya berbelok ke utara menembus Kota Kediri. Di kawasan Kertosono, ia menerima aliran dari Kali Widas. Dari sana, sungai mengalir ke arah timur menuju Kota Mojokerto.

Sesampainya di Mojokerto, Sungai Brantas bercabang menjadi dua. Satu cabang mengalir ke arah Surabaya. Cabang lainnya menuju Porong. Keduanya akhirnya bertemu lagi di muara, yaitu Selat Madura.

Fungsi Sungai Brantas tidak hanya sebagai sumber air baku. Airnya juga dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pengendalian banjir, serta kebutuhan industri.

Selain Brantas, ada Bengawan Solo yang juga menjadi sungai utama. Sungai ini mengalir dari Jawa Tengah, masuk ke Jawa Timur, melintasi Bojonegoro, Lamongan, dan Gresik, sebelum bermuara di Laut Jawa.

Tantangan dan Pengelolaan

Sungai-sungai di Jawa Timur tidak lepas dari masalah. Tantangan datang dari alam dan ulah manusia. Beberapa DAS punya karakteristik yang meningkatkan risiko banjir dan banjir bandang.

Salah satu contohnya adalah DAS Pekalen-Sampean. Bentuknya seperti kipas dengan anak-anak sungai yang berlereng curam. Akibatnya, saat hujan deras, aliran air bisa meningkat drastis dalam waktu singkat. Ini sangat berbahaya bagi pemukiman di sekitarnya.

Faktor lain yang memperparah risiko adalah aliran lahar dari gunung api aktif. Penggundulan hutan di daerah hulu juga menjadi masalah serius. Begitu pula dengan pembangunan permukiman di bantaran sungai yang mengurangi kapasitas tampung air.

Tak hanya itu, beberapa kawasan bantaran sungai di Jawa Timur memiliki potensi likuifaksi. Ini terjadi karena tanahnya tersusun dari sedimen muda yang relatif lunak. Saat gempa bumi, tanah bisa kehilangan kekuatan dan berubah seperti lumpur.

Pengelolaan sungai di Jawa Timur diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Sungai. Beberapa upaya konkret yang dilakukan antara lain:

  • Restorasi dan normalisasi sungai, terutama di DAS yang rawan banjir.
  • Pembangunan Flood Forecasting and Warning System (FFWS) sebagai sistem peringatan dini banjir.
  • Pemantauan kondisi sungai dan DAS oleh BBWS Brantas, BBWS Bengawan Solo, serta Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur.
  • Pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti tanggul, bendung, pintu air, hingga bangunan sabo untuk mengendalikan debit air dan sedimen.

Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, diharapkan sungai-sungai di Jawa Timur tetap bisa memenuhi kebutuhan air masyarakat. Ekosistem di sekitarnya juga harus terjaga. Dan yang tak kalah penting, risiko banjir serta bencana hidrometeorologi lainnya bisa ditekan.

Provinsi ini memang punya sistem sungai yang rumit. Tapi justru karena kerumitan itulah, pengelolaannya harus dilakukan secara hati-hati dan terpadu. Sungai bukan hanya saluran air, tetapi juga penopang kehidupan jutaan orang.

sungai Jawa TimurDaerah Aliran SungaiWilayah SungaiSungai BrantasBengawan Solopengelolaan sungaibanjir

Komentar

Memuat komentar...