Jembatan Sukamenak Dibuka Kembali, Gubernur Mediasi

Hendra M. · 5 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Jembatan Sukamenak Dibuka Kembali, Gubernur Mediasi

Gambar atau konten salah?

Jembatan Gantung Sukamenak, yang menghubungkan Desa Wanasigra di Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, dengan Kelurahan Sukamenak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, akhirnya bisa dipakai lagi. Sebelumnya, akses ke jembatan ini ditutup menggunakan tumpukan bambu oleh Kepala Desa Wanasigra, Yudi Wahyudi. Penutupan itu adalah bentuk protes. Ada masalah yang belum selesai soal akses jalan dan lahan di sekitar jembatan.

Pada Sabtu, 4 Juli 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang langsung ke lokasi. Dalam kunjungan itu, ia membuka kembali akses jembatan yang sebelumnya ditutup. Keesokan harinya, Minggu, 5 Juli 2026, bambu-bambu yang menutup mulut jembatan sudah tidak ada. Warga pun bisa melintas lagi. Beberapa warga datang ke lokasi. Ada yang sekadar melihat kondisi jembatan, ada yang jogging, bahkan berfoto-foto di sekitar area tersebut.

Yudi Wahyudi, Kepala Desa Wanasigra, membenarkan bahwa jembatan yang sempat ia tutup kini sudah dibuka kembali oleh Gubernur Jawa Barat. "Betul, kemarin Pak Dedi Mulyadi datang langsung ke lokasi dan jembatannya dibuka," katanya. Dalam pertemuan di lokasi, Yudi sempat menjelaskan alasan penutupan jembatan kepada Dedi Mulyadi. Menurutnya, penutupan itu dilakukan karena ada persoalan yang belum tuntas terkait akses menuju jembatan. "Tadi kami sempat menjelaskan kenapa jembatan itu ditutup. Pak Dedi meminta dari pihak desa untuk membuka dulu aksesnya. Nanti persoalan ini rencananya akan dimediasi oleh Pak Dedi antara pihak Tasikmalaya dan pihak Wanasigra," ujarnya.

Dengan dibukanya kembali jembatan tersebut, akses masyarakat kini sudah normal lagi. Warga dari dua wilayah yang sebelumnya terdampak penutupan kini bisa kembali melintas menggunakan jembatan gantung tersebut. "Sudah bisa dilalui lagi," kata Yudi. Meski begitu, Yudi menegaskan bahwa persoalan yang menjadi latar belakang penutupan jembatan belum sepenuhnya selesai. Pihak desa masih menunggu tindak lanjut dan arahan dari Gubernur Jawa Barat terkait rencana mediasi. "Untuk sementara kami menunggu hasil mediasi nanti seperti apa. Kami menunggu arahan dari Pak Dedi Mulyadi untuk mempertemukan pihak-pihak yang berkaitan dengan persoalan ini," jelasnya.

Yudi berharap, setelah jembatan kembali dibuka, persoalan yang selama ini memicu polemik bisa diselesaikan dengan baik. Ia ingin ada jalan keluar yang adil bagi semua pihak, terutama warga yang selama ini memanfaatkan jembatan sebagai akses penghubung antarwilayah. "Harapan kami tentu semuanya bisa baik-baik saja. Mudah-mudahan ada solusi terbaik setelah dimediasi nanti," pungkasnya.

Aksi Kepala Desa Wanasigra yang menutup Jembatan Gantung Sukamenak ini mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pada Sabtu, 4 Juli 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendatangi jembatan tersebut. Dalam video yang diunggah di akun pribadinya, Dedi Mulyadi melihat langsung kondisi jembatan yang ditutup menggunakan rumpun bambu. Ia juga bertemu dengan seorang warga bernama Maman Suherman (70) di lokasi. Di video itu, terlihat rumpun bambu yang menutup bibir jembatan sudah tidak ada lagi. "Ya ini kita di Jembatan Gantung Wanasigra yang kemarin ditutup karena ada ketidaksepahaman," ujar Dedi Mulyadi dalam videonya.

Dedi menjelaskan alasan penutupan jembatan itu. Menurut Kepala Desa Wanasigra, akses jalan untuk jembatan itu dibangun tanpa ada penggantian pembahasan lahan. Warga Ciamis menghibahkan tanah untuk akses jalan dan jembatan. Salah satu warga yang menghibahkan adalah Maman Suherman. Namun, dari Pemerintah Kota Tasikmalaya, lahan itu dibebaskan. "Kalau Kuwu Wanasigra dulu tanpa pembebasan. Artinya rakyat ikhlas menghibahkan tanah untuk jembatan. Termasuk aki. Nah ternyata di Pemkot Tasik dibebaskan. Dibiayai oleh Pemkot Tasikmalaya. Akhirnya merasa dulu katanya mau ikhlas, sekarang dibebaskan, dibiayai, dibayar," jelas Dedi Mulyadi.

Dalam kunjungan tersebut, Dedi Mulyadi berjanji akan menyelesaikan persoalan ini. Ia akan mengundang semua pihak, mulai dari Pemerintah Kota Tasikmalaya, Lurah Sukamenak, hingga Kepala Desa Wanasigra. "Sudah, nanti akan kita undang Pemkot Tasik, kita undang Kepala Desa Sukamenak, kita undang bareng dengan Kuwu Wanasigra," ucapnya. Dedi Mulyadi juga menegaskan akan membangun akses jalan jembatan yang menuju Sukamenak. "Nanti sebentar lagi juga akan saya bangun, jalan yang menuju Sukamenak. Panjangnya kurang lebih 400 meter. Nilainya murah lebih Rp1,5 miliar, dicor," jelasnya.

Jembatan Sukamenak ini bernilai Rp5 miliar. Penutupan yang dilakukan oleh Kepala Desa Wanasigra sempat ramai diperbincangkan. Aksesnya ditutup menggunakan rumpun bambu. Penutupan itu dilakukan sebagai bentuk protes terkait persoalan akses jalan dan lahan di sekitar jembatan. Dalam pertemuan di lokasi, Yudi menjelaskan alasan penutupan jembatan kepada Dedi Mulyadi. Menurutnya, penutupan itu dilakukan karena ada persoalan yang belum tuntas terkait akses menuju jembatan. Dedi meminta pihak desa untuk membuka dulu aksesnya. Rencananya, persoalan ini akan dimediasi oleh Dedi antara pihak Tasikmalaya dan pihak Wanasigra.

Dedi Mulyadi menjelaskan alasan penutupan jembatan itu. Menurut Kepala Desa Wanasigra, akses jalan untuk jembatan itu dibangun tanpa ada penggantian pembahasan lahan. Warga Ciamis menghibahkan tanah untuk akses jalan dan jembatan. Termasuk salah satu warga yang menghibahkan adalah Maman Suherman. Namun, dari Pemerintah Kota Tasikmalaya, lahan itu dibebaskan. "Kalau Kuwu Wanasigra dulu tanpa pembebasan. Artinya rakyat ikhlas menghibahkan tanah untuk jembatan. Termasuk aki. Nah ternyata di Pemkot Tasik dibebaskan. Dibiayai oleh Pemkot Tasikmalaya. Akhirnya merasa dulu katanya mau ikhlas, sekarang dibebaskan, dibiayai, dibayar," jelas Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi akan mengundang semua pihak, mulai dari Pemerintah Kota Tasikmalaya, Lurah Sukamenak, termasuk Kepala Desa Wanasigra, untuk menyelesaikan persoalan ini. Ia juga menegaskan akan membangun akses jalan jembatan yang menuju Sukamenak. "Nanti sebentar lagi juga akan saya bangun, jalan yang menuju Sukamenak. Panjangnya kurang lebih 400 meter. Nilainya murah lebih Rp1,5 miliar, dicor," jelasnya.

Jembatan Sukamenak ini bernilai Rp5 miliar. Penutupan yang dilakukan oleh Kepala Desa Wanasigra sempat ramai diperbincangkan. Aksesnya ditutup menggunakan rumpun bambu. Penutupan itu dilakukan sebagai bentuk protes terkait persoalan akses jalan dan lahan di sekitar jembatan. Dalam pertemuan di lokasi, Yudi menjelaskan alasan penutupan jembatan kepada Dedi Mulyadi. Menurutnya, penutupan itu dilakukan karena ada persoalan yang belum tuntas terkait akses menuju jembatan. Dedi meminta pihak desa untuk membuka dulu aksesnya. Rencananya, persoalan ini akan dimediasi oleh Dedi antara pihak Tasikmalaya dan pihak Wanasigra.

Dengan dibukanya kembali jembatan tersebut, akses masyarakat kini sudah normal lagi. Warga dari dua wilayah yang sebelumnya terdampak penutupan kini bisa kembali melintas menggunakan jembatan gantung tersebut. "Sudah bisa dilalui lagi," ucap Yudi. Meski demikian, Yudi menegaskan persoalan yang menjadi latar belakang penutupan jembatan belum sepenuhnya selesai. Pihak desa, kata dia, masih menunggu tindak lanjut dan arahan dari Gubernur Jawa Barat terkait rencana mediasi tersebut. "Untuk sementara kami menunggu hasil mediasi nanti seperti apa. Kami menunggu arahan dari Pak Dedi Mulyadi untuk mempertemukan pihak-pihak yang berkaitan dengan persoalan ini," jelasnya.

Yudi berharap, setelah jembatan kembali dibuka, persoalan yang selama ini memicu polemik bisa diselesaikan dengan baik. Ia ingin ada jalan keluar yang adil bagi semua pihak, terutama warga yang selama ini memanfaatkan jembatan sebagai akses penghubung antarwilayah. "Harapan kami tentu semuanya bisa baik-baik saja. Mudah-mudahan ada solusi terbaik setelah dimediasi nanti," pungkasnya.

Inti dari persoalan ini adalah ketidaksepahaman soal pembebasan lahan. Warga Ciamis, termasuk Maman Suherman (70), awalnya menghibahkan tanah mereka untuk akses jalan dan jembatan. Namun, Pemerintah Kota Tasikmalaya kemudian membebaskan lahan tersebut dengan biaya. Hal ini menimbulkan rasa tidak adil bagi warga yang sudah ikhlas menghibahkan tanahnya. Dedi Mulyadi berjanji akan memediasi persoalan ini. Ia akan mengundang semua pihak, mulai dari Pemkot Tasikmalaya, Lurah Sukamenak, termasuk Kepala Desa Wanasigra. Dedi Mulyadi juga menegaskan akan membangun akses jalan jembatan yang menuju Sukamenak sepanjang kurang lebih 400 meter dengan nilai lebih Rp1,5 miliar.

Jembatan Gantung SukamenakPenutupan AksesGubernur Jawa BaratDedi MulyadiMediasiPembebasan LahanAkses JalanWanasigra

Komentar

Memuat komentar...