Jokowi Minta Ritual Kepala Kerbau Tak Dipolitisasi
Gambar atau konten salah?
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), angkat bicara soal ritual menginjak kepala kerbau yang ia jalani saat menerima gelar adat di Lampung. Ia meminta agar prosesi pemberian gelar dari Kedaton Lampung itu tidak dikait-kaitkan dengan urusan politik.
"Ya itu kan, itu kan bentuk penghormatan dari masyarakat adat di Lampung. Bentuk penghormatan dari Istana Kedaton Kerajaan Lampung," kata Jokowi kepada wartawan di rumahnya di Sumber, Banjarsari, Solo, pada Selasa, 07 Juli 2020.
Jokowi mengaku merasa bangga atas penghargaan yang diberikan oleh masyarakat adat Lampung. Menurutnya, ritual tersebut tidak ada hubungannya jika dikaitkan dengan politik.
"Saya merasa terhormat diberikan penghargaan. Dan jangan semua hal ditarik ke ranah politik, sering nggak sambung," tegasnya.
Mantan Wali Kota Solo ini mengajak semua pihak untuk tetap menghormati dan menjaga keberagaman adat istiadat di Indonesia. Ia menilai kearifan lokal adalah kekayaan bangsa yang harus dipertahankan.
"Kita harus terus menghargai adat-istiadat, terus menghargai kearifan lokal, terus menghargai kebudayaan-kebudayaan kita karena budaya kita ini sangat beragam sekali," ujarnya.
Saat ditanya soal kepala kerbau moncong putih yang dikaitkan dengan kepala lambang banteng moncong putih, Jokowi hanya tertawa. Ia kembali menegaskan bahwa apa yang ia lakukan adalah bagian dari ritual adat yang sudah berlangsung lama.
"Itu ritual adat. Sekali lagi itu ritual adat yang sudah tidak sekali dua kali, udah ratusan kali dilakukan," pungkas Jokowi sambil tertawa.
Jokowi menerima gelar 'Baginda Pemuka Bangsa' dari Kedatun Keagungan Lampung dalam prosesi adat yang digelar di Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, pada Sabtu, 27 Juni 2020.
Tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menjelaskan bahwa prosesi pemberian gelar adat atau muakhi sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Lampung sejak ribuan tahun lalu. Ritual ini memiliki makna filosofis sebagai simbol untuk menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia. Mawardi pun meminta masyarakat tidak mengaitkan prosesi adat tersebut dengan kepentingan politik.
"Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam diri, seperti sifat sombong, iri dengki, tamak, dan sifat buruk lainnya. Jadi tidak ada hubungan dengan politik," kata Mawardi pada Senin, 29 Juni 2020.
Ritual adat menginjak kepala kerbau ini bukanlah hal baru dalam tradisi masyarakat Lampung. Prosesi tersebut telah dilakukan berkali-kali selama ratusan tahun sebagai bagian dari upacara pemberian gelar kehormatan. Makna di balik ritual ini adalah untuk membersihkan diri dari sifat-sifat negatif, bukan untuk tujuan politik tertentu. Jokowi sendiri menekankan bahwa penghargaan dari masyarakat adat adalah bentuk penghormatan yang seharusnya tidak dipolitisasi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Salju Bintaro Rp128 Ribu Per Orang, Berlaku Terbatas
Bellezza Suites Hadirkan Paket Nonton Piala Dunia 2026
Tumpahan Batubara Pangandaran: Logam Berbahaya Mengendap di Dasar Laut
Kopi Timor Leste: Hibrida Langka yang Mendunia
PSEL Bali Diresmikan, Akademisi Ingatkan Bukan Solusi Tunggal
Pertama di Indonesia, PSEL Bali Mulai Dibangun
Berita Terbaru
Piala Dunia 2026 Catat Rata-Rata Usia Pemain Tertua Sepanjang Sejarah
Khutbah Jumat Akhir Muharram: Optimis Sambut Safar
Prancis vs Maroko: Perebutan Tiket Semifinal Piala Dunia 2026
Pencurian Celana Dalam di Banyuwangi, Diduga untuk Ritual Pelet
Anggota DPRD Mundur, Anak Kandung Gantikan
Prancis vs Maroko: Efisiensi Jadi Kunci Laga
Strava Pastikan Harga Premium Tak Naik Meski Kena Pajak
KPK Ajukan Tambahan Anggaran ke Menkeu untuk 2026-2027