Pencurian Celana Dalam di Banyuwangi, Diduga untuk Ritual Pelet

Wahyu T. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pencurian Celana Dalam di Banyuwangi, Diduga untuk Ritual Pelet

Gambar atau konten salah?

Warga Dusun Telagasari, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, dibuat resah oleh aksi pencurian celana dalam perempuan yang sudah berlangsung selama sebulan terakhir. Puluhan celana dalam milik warga dilaporkan raib. Pelaku sempat terekam kamera dan videonya viral di media sosial, namun hingga kini identitasnya belum terungkap.

Sulis Nunda Sari (32), salah satu korban, mengaku kehilangan 12 buah celana dalam. Ia bahkan pernah melihat langsung pelaku saat beraksi sebanyak tiga kali. Tapi ia memilih diam. "Saya tidak berani mengambil tindakan karena takut," katanya pada Rabu, 08 Juli 2026.

Ketua Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) Banyuwangi, Abdul Fatah Hasan, menjelaskan bahwa motif pencurian ini bisa diketahui dari kondisi celana dalam yang diincar. Menurutnya, ada dua kemungkinan tujuan di balik aksi tersebut.

Pertama, jika pelaku mencuri celana dalam yang belum dicuci. Dalam pandangan Abdul Fatah, celana dalam kotor menyimpan rekam jejak spiritual yang kuat dari pemiliknya. "Celana dalam yang belum dicuci itu identik dengan kandungan energi dari pemilik barang tersebut. Energi itu diserap untuk melariskan atau membuat bisnis atau dagangan dari pelaku menjadi lebih diminati," jelasnya saat dihubungi pada Kamis, 09 Juli 2026.

Ritual pelarisan ini, kata Abdul Fatah, tidak dilakukan secara sembarangan. Pelaku biasanya sudah menentukan target korban yang dianggap memiliki aura positif yang kuat dan cocok dengan kebutuhan mereka. Bukan korban sembarangan.

Kedua, jika pelaku mengincar celana dalam yang sudah dicuci dan sedang dijemur. Motifnya berbeda. Menurut Abdul Fatah, ini berkaitan dengan ritual pengasihan atau pelet. Pelaku bahkan sering mengambil lebih dari satu celana dalam sekaligus. "Jika yang dicuri itu lebih dari satu, itu artinya digunakan sebagai salah satu potensi energi mana yang mau diutamakan. Jadi akan dipilih mana yang sekiranya nanti cocok dan bisa digunakan sebagai syarat utama menjalani ritual," jelasnya.

Soal kriteria korban, Abdul Fatah mengatakan tidak ada patokan mutlak. Penentuan target sering kali merupakan instruksi khusus dari dukun atau guru spiritual pelaku. "Setiap penasihat spiritual itu pasti punya cara dan improvisasi sendiri," tuturnya.

Meski target bisa berubah, waktu pelaksanaan ritual memiliki pola tersendiri. Ada bulan-bulan tertentu dalam kalender spiritual yang kerap dimanfaatkan pelaku. Salah satunya adalah bulan Suro. "Sementara jika bulan atau waktu tertentu itu memang ada, misalnya seperti bulan Suro itu pasti ada," pungkasnya.

Untuk kasus di Dusun Telagasari, Abdul Fatah menduga ada kecocokan dengan ritual pengasihan atau pelet. Bukan ritual pelarisan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa pencurian celana dalam bukan sekadar aksi kriminal biasa. Ada dimensi kepercayaan dan praktik spiritual yang melatarbelakanginya, setidaknya menurut penjelasan dari tokoh yang memahami praktik perdukunan di wilayah tersebut. Warga masih menunggu penangkapan pelaku yang videonya sudah tersebar luas.

pencurian celana dalamritual pengasihandukunBanyuwangipeletpelarisanwarga resah

Komentar

Memuat komentar...