Kakek Sukabumi Hidup 20 Tahun Tanpa Bayar Listrik

Sigit W. · 3 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Kakek Sukabumi Hidup 20 Tahun Tanpa Bayar Listrik

Gambar atau konten salah?

Di tengah hiruk-pikuk kota yang gemas dengan tagihan listrik membengkak dan pemadaman bergilir, ada seorang kakek di pedalaman Sukabumi yang justru hidup tenang tanpa pernah membayar listrik sepeser pun. Namanya Abah Sarnuh. Pria berusia lanjut ini sudah hampir 20 tahun lepas dari ketergantungan PLN. Bukan pakai panel surya mahal atau teknologi canggih. Ia bikin sendiri pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dari kincir kayu dan barang bekas.

Rumah Abah Sarnuh ada di Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi. Untuk sampai ke sana, butuh perjuangan. Dari tempat parkir Villa Kaca Pasir Datar, jalan kaki naik bukit lewat jalur berbatu hampir satu jam. Jalannya terjal, cuma bisa dilewati motor trail yang sudah dimodifikasi khusus. Tapi begitu sampai, semua lelah hilang. Rumah panggung kayu dengan ukiran merah-kuning berdiri asri di tepi sungai. Suara air gemericik bercampur deru katrol listrik buatannya yang terus-menerus terdengar.

Cerita mandiri listrik ini mulai tahun 2007. Waktu itu, listrik PLN sudah masuk ke kampung bawah. Adik-adik Abah Sarnuh sempat ngajak supaya rumahnya ikut nyambung. "Tahun 2007 ada tawaran pasang lampu listrik PLN. Bayarnya Rp 600 ribu, itu dulu," kata Abah Sarnuh di teras rumahnya, pada Senin, 22 Juni 2026. Tapi masalahnya, rumahnya di atas bukit, terisolasi. Setelah dihitung, butuh 32 rol kabel atau 3.200 meter supaya listrik sampai. Biayanya Rp 11,2 juta. Angka itu gila buat seorang petani. "Memang diizinkan kalau sejauh ini dari PLN? Enggak diizinkan kalau jauh-jauh kayak gini. Harus beli 32 rol kabel, berarti 3.200 meter," keluhnya.

Abah Sarnuh khawatir biaya perawatan mahal dan kabel dicuri di hutan. Akhirnya, ia ingat cerita lama di Desa Cikahuripun tentang Pak Guru Darmaji yang bisa bikin listrik dari dinamo. Dari situ, ide muncul. Modal Rp 3,2 juta, ia beli dinamo, kabel, dan kayu. Ia belajar otodidak, bikin kincir sendiri. Hasilnya? PLTA mini buatannya sanggup terangi 10 rumah sekaligus, total 70 titik lampu, tanpa redup. "Dulu mah sama anak-anak di sini sampai 10 rumah juga kuat, kurang lebih 70 gantungan lampu dan itu konstan. Yang penting airnya gede," kata Abah Sarnuh, matanya berbinar.

Waktu anak dan cucu masih tinggal bareng, listrik dari air sungai itu kuat nyalain tiga televisi dan kulkas. Sekarang, karena anak-anak sudah pindah ke kampung bawah buat sekolah, listrik difokuskan buat dua rumah dan satu musala. "Sekarang mah buat malam doang untuk penerangan. Kalau siang kan sudah terang," tambahnya.

Rahasia ketangguhan listrik Abah Sarnuh ada di barang bekas. Ia pakai pelek roda sepeda bekas jadi katrol penggerak besar. Pelek itu dihubungin pakai sabuk ke dinamo kecil yang disangga balok kayu tua berlumut di atas sungai. Di bawah, kincir kayu berputar cepat karena dihantam arus air. Biar dorongan air maksimal, ia bikin sistem sirkulasi dari pipa paralon besar warna hijau dan putih, plus belahan bambu sebagai corong pengarah air. Tapi, alat yang sudah dipakai sejak 2007 ini mulai lelah. Lampu di rumahnya sering berkedip karena dinamo sudah aus. "Ada kendala sekarang mah, kalau dinyalakan ada kedip-kedipan. Sudah sekitar 7 tahun begini karena dinamonya sudah usia, harusnya diganti baru yang lebih bagus," tutur Abah Sarnuh.

Kemandirian Abah Sarnuh bukan cuma soal listrik. Ia juga nekat buka lahan di bekas sarang harimau. Tahun 1998, pas krisis moneter, ia datang ke Desa Sukamulya. Wilayah yang sekarang digarapnya itu dulunya lahan terlantar Hak Guna Usaha (HGU). Warga kampung takut karena tempat itu habitat babi hutan dan macan. "Abah nanyain ke orang-orang, siapa yang mau menggarap lahan di situ? Enggak ada yang mau, dikarenakan itu mah gudang maung (sarang harimau/macan). Pada takut semua orangnya," kenang Abah sambil tertawa. "Tapi Abah berani lah, daripada menganggur di kampung enggak punya lahan," tambahnya.

Sekarang, di atas lahan yang dulu menyeramkan itu, Abah Sarnuh hidup mandiri sebagai petani. Setiap hari, ia berkebun tanam wortel, daun bawang, dan kucai. Di usia senja, ditemani istri dan listrik gratis dari alam, ia buktikan kalau keterbatasan geografis bukan halangan buat berinovasi. Cerita Abah Sarnuh ini sederhana tapi menginspirasi. Ia memilih jalan sendiri, bukan ikut arus. Dari modal Rp 3,2 juta, ia bisa terangi puluhan rumah. Dari barang bekas, ia ciptakan listrik. Dari lahan yang ditakuti, ia jadi petani. Ini bukan soal teknologi canggih, tapi soal kemauan dan kreativitas.

Konon, listrik buatannya sudah mulai lemah. Tapi semangatnya tidak. Ia tetap bertahan, dengan apa yang ada. Di balik cerita ini, ada pesan: kadang, solusi terbaik bukan dari luar, tapi dari dalam diri sendiri. Dan dari alam, yang selalu memberi jika kita tahu cara mengambilnya.

Abah Sarnuhpembangkit listrik tenaga airkincir kayubarang bekasmandiri listrikSukabumipetani

Komentar

Memuat komentar...