Kelangkaan Susu UHT di Palembang, Distribusi Terhambat
Gambar atau konten salah?
Di Palembang, Sumatera Selatan, konsumen mengalami kesulitan mencari Susu UHT atau susu cair siap minum. Penyebabnya tidak sekadar naiknya permintaan, melainkan juga penurunan distribusi oleh pabrik.
Dinas Perdagangan Sumatera Selatan (Disdag Sumsel) memeriksa beberapa distributor di kota ini. Kepala Dinas, Henny Yulianti, menegaskan bahwa kelangkaan Susu UHT disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penurunan distribusi.
“Kami melakukan peninjauan lapangan terhadap tiga distributor susu UHT, merek Ultra Jaya, Indomilk, dan Diamond beberapa hari lalu. Berdasarkan informasi mereka, ketersediaan susu UHT sejak bulan Februari sudah mengalami penurunan distribusi,” ujarnya pada Kamis, 9 Mei 2026.
Distribusi ketiga distributor berasal dari pabrik di Bekasi dan Bandung. Penurunan distribusi mencapai 40‑50 persen. “Penurunannya sebanyak 40‑50 persen. Kemudian, juga disebabkan ada keterlambatan pengiriman di pelabuhan,” tambahnya. Keterlambatan ini diduga akibat larangan truk besar melintas di jalan umum saat arus mudik dan balik Lebaran.
Untuk sektor food service, seperti hotel, restoran, dan kafe (horeka), Henny menegaskan adanya fasilitas khusus. “Untuk sektor food service seperti horeka, terdapat fasilitas khusus untuk pemenuhan kebutuhan susu dengan jalur distribusi langsung dari pabrik, sehingga mereka tidak terpengaruh pada stok gudang. Khususnya untuk produk susu berukuran 1 liter,” ungkapnya.
Di sisi lain, Elsa Noviani, Kepala Bidang Stabilisasi dan Sarana Distribusi Perdagangan Kota Palembang, juga mengakui adanya kekosongan Susu UHT di beberapa toko atau ritel modern. “Memang ada laporan dari distributor susu UHT, saat ini terjadi kekosongan di beberapa toko atau ritel modern,” katanya.
Elsa menjelaskan bahwa distribusi dari pabrik di Bandung mengalami keterlambatan. “Distribusi dari pabrik di Bandung mengalami keterlambatan. Hal ini disebabkan adanya hambatan di Pelabuhan Merak‑Bakauheni saat arus mudik dan arus balik Idul Fitri kemarin,” jelasnya. Pada periode tersebut, logistik diprioritaskan untuk komoditas cepat rusak.
“Produk yang masa kedaluwarsanya lebih lama seperti susu sempat ditunda pengirimannya. Prioritas diberikan pada bahan pokok yang mudah rusak seperti cabai dan bawang,” ujarnya. Lonjakan permintaan masyarakat selama Ramadan dan Lebaran juga memperparah kondisi.
“Permintaan meningkat cukup signifikan, sehingga stok yang tersedia lebih cepat habis di pasaran,” tambahnya. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menyarankan pelaku UMKM menggunakan alternatif bahan baku sementara. “Untuk sementara bisa menggunakan susu bubuk sebagai pengganti, terutama bagi pelaku usaha yang membutuhkan susu sebagai bahan utama,” katanya.
Elsa berharap distribusi segera kembali normal seiring meredanya arus logistik pascaLebaran. “Kami harapkan dalam waktu dekat pasokan kembali lancar dan stok susu UHT bisa tersedia normal di pasaran,” ungkapnya.
Kelangkaan Susu UHT di Palembang mencerminkan ketidakseimbangan antara penurunan distribusi dan lonjakan permintaan, terutama di musim perayaan. Keterlambatan pelabuhan dan prioritas barang cepat rusak menjadi faktor utama, sementara sektor horeca tetap terjaga melalui jalur distribusi langsung. Pemerintah mengarahkan pelaku usaha untuk beralih ke susu bubuk sementara, menunggu pasokan kembali stabil.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
