Kelvin 10 Tahun Raih The Best Animation Award Internasional
Gambar atau konten salah?
I Gede Kelvin Narendra Van Veggel berusia 10 tahun, berasal dari Bali, baru saja menorehkan nama di kancah internasional. Pada 16 Maret 2026, ia meraih The Best Animation Award 2025 di ajang International Scratch Olympiad. Pencapaian ini tidak datang tanpa perjuangan.
Kelvin didiagnosis dengan disleksia dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Kondisi ini membuatnya kesulitan membaca, menulis, dan mempertahankan konsentrasi. Ia pernah bercerita kepada ibunya bahwa huruf‑huruf yang ia lihat seperti menari‑nari. Di sekolah, perbedaan ini membuatnya sering dipandang sebelah mata. Bahkan, guru-guru menilai ia tidak mampu mengikuti pelajaran, sehingga Kelvin harus pindah sekolah.
Ibunda, Ni Nyoman Ayu Putri Ariani, mengakui sudah melihat tanda-tanda kesulitan sejak Kelvin kecil. “Saya sampai berpikir, apa anak saya ini bodoh? Bahkan pertanyaan sederhana seperti lima tambah lima saja tidak bisa,” ujarnya. Meski begitu, ia menemukan bahwa Kelvin memiliki bakat khusus dalam logika dan pemrograman. “Yang ngajarin sampai bilang ‘anak ini cocok di coding, cepat sekali nangkapnya’,” kata Ariani sambil menirukan ucapan guru coding anaknya.
Sejak berusia lima tahun, Kelvin sudah mampu membuat game sederhana sendiri. Meskipun begitu, ia tetap menghadapi kesulitan di kelas. “Sekolah bilang mereka tidak bisa menangani dia. Karena dia nggak bisa baca, nggak bisa nulis,” tutur Ariani. Namun, ketertarikan Kelvin pada coding tidak pernah padam. Ia terus menekuni dunia pemrograman, belajar dari setiap tantangan yang muncul.
Perjalanan ini membawa Kelvin ke International Scratch Olympiad, sebuah kompetisi yang mengundang ribuan peserta dari seluruh dunia, termasuk Dubai, India, dan negara lain. Di sana, para peserta diminta membuat game sesuai tema dalam waktu terbatas. Kelvin memanfaatkan kesempatan ini untuk menyalurkan kreativitasnya dan sekaligus meredakan stres yang dirasakannya.
Melalui proses membuat game, Kelvin menemukan cara untuk meningkatkan rasa percaya diri. Ia merasa lebih rileks dan tidak lagi merasakan rasa rendah diri yang dulu menghantuinya. Kini, ia bertekad untuk menginspirasi anak-anak lain yang memiliki kondisi serupa. “Tidak peduli kamu punya disleksia atau ADHD, kamu tetap sama seperti lainnya,” ujar Kelvin.
Keberhasilan Kelvin menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat dan kesempatan yang sesuai, anak dengan disleksia dan ADHD dapat menemukan bidang yang memanfaatkan kelebihan mereka. Ia menjadi contoh bahwa kegagalan di satu bidang tidak menutup pintu bagi kesuksesan di bidang lain.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SMP Jembrana: 99,97% Lulus, Satu Siswa Tidak Lulus Di Sekolah
Enam Pemancing Diselamatkan Setelah Perahu Terbalik Buleleng
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Cuaca cerah berawan Bali, hujan ringan Badung Denpasar
Kamis 04 Juni 2026: Hari Ala Ayuning Dewasa, Waktu Lahan
Berita Terbaru
